halo aci!

halo aci!
Teater Ungu

Jumat, 16 Mei 2014

KONDISI WACANA DALAM KAPITALISME


(Sebuah konstruksi terhadap gerakan sosial)
       I.            PENDAHULUAN
Wacana (discourse) adalah serangkaian gambaran tentang sesuatu yang bisa dilihat dari berbagai perspektif. Peristiwa, gejala, masalah, terutama yang berkaitan dengan kehidupan manusia akan menjadi bahan pembicaraan ataupun dielaborasi menjadi catatan-catatan baik dalam bentuk ilmiah ataupun yang lainnya. Hakikatnya wacana merepresentasikan sesuatu yang bisa dijangkau oleh akal. Dalam semiotika wacana masuk dalam kategori teks atau juga tanda (sign). Dengan demikian wacana juga tak luput dari persoalan interpretasi yang beragam. Oleh karena bermacam revolusi yang terjadi akhirnya sampai pada masa di mana manusia secara individual ikut berpatisipasi dalam menginterpretasi lingkungannya.
Wacana tentunya adalah keseluruhan realitas yang mewujud dalam lingkup interaksi social. Dia memuat segala hal yang tercerap oleh indera dan konstruksi persepsi atau interpretasi terhadap realitas. Setiap masalah dalam peradaban manusia yang telah mencapai kesadaran social, kesadaran akan keterkaitan satu sama lain, akan dielaborasi dan ditampilkan dalam bentuk tulisan (writing) atau secara lisan (speech). Pidato, khotbah, pengajaran, buku, lukisan, dan segala tanda yang memuat soal wacana. Artinya kita di sini mendapati bahwa elaborasi wacana tidak hanya dalam bentuk lisan atau tulisan saja karena bahkan ada juga yang merupakan percampuran seperti lukisan, pentas teater, potret, dll.
Menghadirkan wacana yang telah dielaborasi adalah usaha untuk memberi pengertian kepada masyarakat soal realitas. Para nabi membuat nubuatan dan berkhotbah adalah tindakan mengangkat persoalan-persoalan social yang kemudian dievaluasi dengan tujuan membuat keteraturan di dalam masyarakat itu sendiri. Mereka juga menulis kitab-kitab untuk dijadikan pedoman masyarakat dalam kehidupan. Para filsuf juga mengelaborasi wacana untuk membebaskan masyarakat dari mitos-mitos. Sampai pada para ilmuan yang membuat penemuan untuk meningkatkan kualitas hidup umat manusia. Seniman dan sastrawan menciptakan tanda-tanda juga memiliki tujuan yang tergambar dalam karya-karya mereka. Tentunya deskripsi masalah bertujuan untuk mengevaluasi dan mengubah keadaan.
Dalam konteks masyarakat kapitalistik wacana akan teralienasi dari esensinya. Kehadiran wacana akan bertujuan ganda yang pertama adalah memberi informasi soal realitas dan yang kedua adalah soal keuntungan. Dari tujuan yang ganda itu yang kedua adalah prioritas dalam masyarakat modern. Wacana menjadi komoditas yang memiliki nilai ganda, sebagaimana juga yang diungkapkan oleh Marx, yaitu nilai informative (nilai guna) dan nilai tukar. Dalam kenyataannya nilai informative ini tak bisa dikonsumsi tanpa terlebih dahulu membeli nilai tukarnya. Inilah soal yang saya maksud dengan komodifikasi wacana. Wacana yang dulunya tidak untuk dijual ketika dia masuk dalam system social kapitalistik berubah menjadi komoditas; komodifikasi. Mengkonsumsi wacana  hari ini akan diikuti oleh kegiatan ekonomi di mana terjadi transaksi jual beli.
Kapitalisme mengubah masyarakat menjadi ‘manusia ekonomis’ yang selalu melihat segala hal yang berpotensi menguntungkan untuk dijual; wacana salah satunya. Sebelumnya wacana yang notabene diproduksi oleh kaum intelektual untuk tujuan seperti perbaikan masalah sosial atau pengembangan kualitas hidup tidak untuk diperjualbelikan. Tetapi bersama kapitalisme kaum intelektual akan menjadi partner bisnis yang baik[1]. Bukankah dalam lembaga-lembaga pendidikan wacana telah dijual dalam paket strata yang nilai tukarnya bervariasi. Sehingga dalam diskusi dengan orang-orang berhaluan kiri mereka menyatakan bahwa pendidikan hari ini adalah investasi[2]. Kemudian wacana dalam posisinya sebagai komoditas sangat tidak stabil dalam pasar karena dia tidak hanya dipertukarkan dengan uang saja tetapi melampauinya. Sebagai contoh ketika saya berpidato dengan membawa wacana social menyangkut keberpihakan terhadap orang-orang tertindas maka saya akan memiliki prestise sebagai aktivis atau politisi yang berpihak pada rakyat kecil. Prestise itu akan menjadi modal kepercayaan agar saya bisa menang dalam pencalonan sebagai anggota legislatif. Nah, ketika wacana telah dilihat berpotensi menguntungkan maka intensi kehadiran wacana yang dihadirkan adalah untuk mencapai tujuan lain dari isi wacana[3]. Keuntungannya akan didapat belakangan sehingga kita tidak bisa melihat transaksinya secara eksplisit.
Adakah wacana gratis atau murah? Tentu saja dalam masyarakat kapitalistik untuk melindungi dirinya dari tuduhan orang-orang kiri sebagai system yang tidak manusiawi mereka membuat program gratisan. Kita akan menemukan wacana gratis dalam bentuk tertulis misalnya di internet tetapi kita tentu saja akses gratis itu mempertimbangkan masalah kualitas dan soal kelangkaan. Wacana dengan kualitas rendah dan using bisa digratiskan tetapi yang berkualitas tinggi dan masih segar tidak bisa diakses gratis. Di internet ada system pembayaran online jadi bukan hanya produk berupa digital tetapi produk yang biasa pun bisa langsung dibayar.
Mungkin ada kerumitan memahami wacana sebagai komoditas dan transaksi jual beli yang tidak biasa atau bisa dikatakan sebuah pertukaran yang tidak disadari oleh pihak lain. Karena pembawa wacana memiliki intensi mengambil keuntungan lebih sesudahnya sementara konsumen wacana tak mengetahui bentuk pembayarannya. Karena belakangan pembayarannya bisa berupa dukungan politik atau pembelaan sukarela. Tetapi ada juga wacana yang dijual secara terang misalnya dalam kegiatan seminar, workshop, dan sebagainya yang menuntut pesertanya harus membayar pendaftaran; uang pendaftaran itu umumnya akan dibagi untuk konsumsi, sewah alat dan tempat, biaya produksi sertifikat, honor pembicara dan tim pelaksana. Inilah ketidakstabilan wacana sebagai komoditas. Wacana dalam hal ini memiliki intensi keuntungan apakah dalam bentuk uang atau prestise; penghargaan, sanjungan, dukungan moral atau politik.
Komodifikasi wacana adalah usaha sadar yang dilakukan oleh kaum intelektual untuk mengambil keuntungan dari isu-isu. Pemanfaatan isu yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan sehingga menjadi intelektual adalah profesi yang berorientasi profit[4] (profit oriented). Dengan demikian wacana-wacana revolusioner sekalipun akan menjadi impoten karena akan disanggah melalui apologi intelektual. Kapitalisme mendikte kaum intelektual sehingga proyek lmu pengetahuan pun akan mengabdi pada produktivisme.
    II.            KOMODIFIKASI WACANA
A.  KOMODIFIKASI ISU SOSIAL POLITIK
Kita akan mendapati bahwa berbagai isu mengenai persoalan social politik yang terdapat dalam buku serta pidato politik adalah proyek ekonomi. Wacana dalam bentuk buku yang dicetak jutaan eksemplar itu berorientasi profit. Dalam politik ekonomi wawasan masyarakat harus dibatasi. Dalam perspektif ekonomi pembacaan pasar dalam konteks social politik adalah mengidentifikasi isu yang segar yang digemari oleh masyarakat. Maka akan dilaksanakan proyek buku yang berkaitan dengan isu hangat. Ketertarikan terhadap isu itu akan membuat berjuta eksemplar buku habis terjual. Tetapi mereka juga tahu mengendalikan psikologi social karena ketika, misalnya, isu-isu social politik yang revolusioner mendominasi dan memprovokasi masyrakat maka akan juga digelar proyek buku yang membantah soal isu-isu itu. Masyarakat yang mengkonsumsi buku akhirnya terjebak pada perdebatan-perdebatan soal wacana yang benar dan salah. Tetapi disamping itu keuntungan hasil penjualan buku-buku itu tetap stabil. Harga buku yang terlalu mahal akan sulit dijangkau oleh masyarakat ekonomi menengah ke bawah sehingga yang mengkonsumsi wacana itu hanya orang yang berkemampun menunjukkan nilai tukar dari buku itu. Tentunya ada yang akan mengatakan bahwa ada perpustakaan umum yang menjadi alternative. Pertanyaannya seberapa baik pengelolaannya apalagi yang diurus oleh negara.
Masyarakat adalah pasar sehingga mengetahui kebutuhan masyarakat adalah kunci untuk mendapatkan keuntungan besar. Dalam hal politik praktis hari ini kita bisa membaca bahwa isu yang paling laku sesuai dengan kondisi objektif masyarakat adalah isu yang berpihak pada rakyat kecil. Dengan begitu kelompok politikus dan politisi kanan pun akan mengumbar isu-isu kiri untuk meraih simpati masyarakat. Secara tiba-tiba orang-orang ini akan bicara soal anti imperialism, kapitalisme, dan lain sebagainya. Padahal pada kenyataannya status ekonominya menengah ke atas dan dia juga terjerat dalam praktik akumulasi modal. Para politikus kanan yang dulunya dengan lahap memakan keuntungan dari hasil pemerasan tiba-tiba sibuk bicara soal ideology bahkan perjuangan yang revolusioner. Saya kira sudah jelas bahwa intense menghadirkan wacana revolusiner adalah untuk mendapat dukungan politik dari masyarakat khususnya ekonomi menengah ke bawah.
Pidato-pidato politik tak lebih dari lip servis bahkan diskusi social politik dalam siaran-siaran televisi hanya untuk menarik banyak jumlah penonton sehingga iklan produk akan antri di stasiun itu yang tentunya  dengan bayaran yang mahal; sementara diskusi mengenai isu social-politik juga tidak solutif dan hanya memberikan kepuasan intelektual bagi para penontonnya. Apakah mungkin stasiun televisi swasta yang berorientasi profit akan dengan sukarela menyajikan fakta yang bisa membunuh orang tuannya, yaitu kapitalisme. Menurut Ayn Rand baik pebisnis maupun intelektual professional keduanya adalah anak dari kapitalisme karena mereka lahir dari revolusi industri[5].  Stasiun TV swasta dan intelektual dalam programnya adalah kakak beradik yang memiliki orientasi yang sama.
Partai politik kiri apalagi yang menganut pandangan sosial-demokrasi pada kenyataannya tak mampu merealisasikan program-program partai dan merubah keadaan sehingga ada tuduhan bahwa semangat revolusinya hanya sampai pada tataran wacana[6]. Mereka justru melebur dalam sistem walaupun secara konseptual ingin merubah tantanan social bahkan mereka tak bisa berbuat apa-apa selain melanjutkan kebijakan politik kanan.
B.  KOMODIFIKASI ISU LINGKUNGAN
Membicarakan masalah lingkungan rasanya tak mungkin terlepas dari kapitalisme. Kita mulai dengan masalah sampah; sampah plastic dan botol adalah produk industri kapitalis. Polusi udara dan air penyumbang utama adalah aktivitas industri besar; aktivitas pertambangan. Pembangunan kota-kota besar yang menjadi pusat produksi sampah dan polusi juga memperkecil daerah resapan air yang akhirnya akan berdampak pada perubahan struktur alam; terjadinya banjir dan tanah longsor. Sebagian besar kerusakan lingkungan adalah dampak dari pengejaran keuntungan. Produktivisme. Tetapi pertumbuhan ekonomi yang tak berujung ini mengundang kaum intelektual untuk mengevaluasi dampaknya. Obsesi akumulasi modal menggerogoti lingkungan;  padahal lingkungan adalah modal kehidupan. Munculnya eko-sosialisme yang melihat masalah lingkungan dari perspektif ekologi politik adalah kritik terhadap produktivisme[7]. Dalam usaha penanggulangan masalah lingkungan kekuatan politik mutlak perlu untuk membatasi pertumbuhan ekonomi kapitalistik yang merusak alam.
Berapa banyak organisasi lingkungan yang kita punya yang sanggup menghentikan produktivisme yang secara nyata merusak alam? Saya kira ada banyak. Dalam kasus-kasus pertambangan organisasi non-pemerintah (ornop) atau LSM lingkungan berjuang setengah hati atau bahkan memiliki intense memperkaya diri[8]. Kasus lingkungan menjadi semacam komoditas karena ketika para aktivis lingkungan bersuara maka mereka akan mendapat sejumlah sogokan. Semakin keras mereka melawan maka semakin besar pula uang yang mengalir ke kantong mereka. Para ahli hukum pun sangat bersemangat mengurusi kasus-kasus semacam ini karena akan menerima bagian juga. Dalam buku Imperialism abad 21 yang ditulis oleh Henry Veltmeyer dan James Petras menggambarkan bahwa organisasi-organisasi social hanyalah kakitangan imperialisme. Kaum intelektual juga tak luput karena dalam kasus pertambangan mereka adalah penyusun Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) walaupun hanya rekayasa tanpa ada penelitian serius.
Isu-isu lingkungan menjadi wacana yang kosong karena kampanye mengenai problem-problem lingkungan yang semakin marak tetapi sementara itu juga kapitalisme terus berproduksi menghancurkan alam. Kampanye-kampanye ini hanya sekedar proyek untuk memperlihatkan bahwa ada perjuangan tetapi tak mampu merubah keadaan karena proyek kampanye itu pun dibiayai oleh instansi terkait dalam semangat akumulasi modal. Adakah setan yang membiayai manusia untuk melawan dosa? Tentu itu adalah kontradiksi yang akan membunuh diri sendiri.
Ketika persoalan-persoalan masuk dalam ruang persidangan maka proyek hokum pun berjalan sehingga muncul lobi-lobi yang berujung pada keadilan berpihak pada yang ber-uang. Bukankah hukum pun di dikte oleh ekonomi sehingga keadilan akan sejajar dengan kepentingan-kepentingan ekonomi. Kita bisa melihat dalam perundang-undangan ada kesetaraan antara sebuah pelanggaran dengan sejumlah uang. Ancaman penjara dan denda akan menentukan nilai dari sebuah kasus hukum.
Dalam masyarakat hari ini ada perbedaan antara kata proyek dan program dalam interpretasinya. Program adalah rancangan kegiatan yang berorientasi pembangunan sementara proyek adalah kegiatan yang menghasilkan uang. Program pemerintah adalah proyek bagi kontraktor. Makanya sering terjadi kesepakan bagi hasil antara pemerintah dan kontraktor. Program mengenai penanggulangan bencana alam dengan pembuatan fasilitas-fasilitas tertentu akan menjadi proyek pembangunan fasilitas yang tak berkualitas. Program penghijauan di jalan raya misalnya dengan penanaman pohon di pinggiran jalan akhirnya dilaksanakn oleh orang-orang yang hanya ingin mengambil keuntungan sehingga tidak menganalisa dampaknya; pohon yang semakin membesar akhirnya juga merusak fasilitas lain.
C.  KOMODIFIKASI ISU BUDAYA
Jean-Pierre Dupuy seorang filsuf Prancis ketika diwawancarai soal bukunya yang berjudul L’avenir de l’economie, sortir de l’economystification mengatakan bahwa

".…, Il y a une phrase, je dois dire, qui m'a choque. La culture devrait etre le moteur de l'economie. C'est exactement j'appelle l'economystification. Comme si ce qui avant tout, c'etait l'economie. La culture au service de l'economie. Moi, je dirais, l'economie devrait etre au service de la culture." [9]

Dalam penjelasannya yang singkat dia menyatakan bahwa kebudayaan eropa telah terpuruk karena telah menjadi budak dari kepentingan ekonomi. Menurut dia sendiri ekonomi haruslah menjadi pelayan kebudayaan dan bukan sebaliknya.  Dalam hal politik pun pemimpin negara yang terpilih juga adalah seorang ekonomis (businessman) sehingga politik juga mengabdi pada ekonomi. Saya kira ini juga paralel dengan apa yang terjadi di Indonesia hari ini.
Mistifikasi ekonomi (L’économystification) adalah usaha menjadikan ekonomi sebagai pusat dari kegiatan sosial. Ekonomi menjadi panglima sehingga dia mendikte politik, pendidikan, budaya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini isu-isu budaya pun telah menjadi komoditi. Gerakan kebudayaan di asia hari ini yang berpacu juga adalah sebuah proyek global yang dipengaruhi oleh wacana-wacana dari eropa. Seperti dalam kasus isu social politik maka wacana budaya pun dicetak dalam jutaan eksemplar serta seminar-seminar yang digelar karya proyek yang bisa menghasilkan uang.
Kebudayaan dalam konteks masyarakat kapitalistik harus mengabdi pada kepentingan-kepentingan ekonomi karena sekalipun dia berusaha mengada tanpa bantuan ekonomi maka usianya akan singkat. Tetapi ketika isu kebudayaan dijadikan proyek dalam bentuk buku atau karya seni yang memiliki nilar tukar maka dia akan tumbuh subur. Tentunya kebudayaan yang akan diangkat adalah yang sesuai dengan kebutuhan pasar atau masyarakat. Jika yang laku adalah kebudayaan tradisional maka produk kebudayaan adalah yang tradisional dan juga sebaliknya. Isu budaya dalam hal ini hanya bisa dikonsumsi oleh mereka yang memiliki kemampuan melakukan transaksi jual beli.
Eksistensi kebudayaan akan selalu bergantung pada nilai tukarnya. Kita bisa ambil contoh mengenai bahasa local daerah dan bahasa internasional. Menguasai bahasa internasional memiliki potensi besar dalam persaingan kerja. Sementara bahasa local hanya sekedar pengetahuan saja atau memiliki kebanggaan tersendiri. Pada kenyataannya generasi yang menghadapi pasar global harus memprioritaskan bahasa internasional. Kegunaan bahasa asing adalah system pasar transnasional yang menuntut setiap orang dapat berkomunikasi dengan baik. Apakah gerakan pelestarian kebudayaan local adalah kesadaran ideologis sementara budaya pop adalah kesadaran ekonomis yang menjamin eksistensi hidupnya dalam system ekonomi yang berlaku.
Kebudayaan local dalam masyarakat modern berubah menjadi produk yang ditawarkan kembali. Artinya kebudayaan itu hilang atau hampir hilang jadi gerakan pelestarian kebudayaan local adalah gerakan menciptakan kembali kebudayaan itu dalam bentuk buku, tarian, pentas, teater, kursus, dan lainnya. Di sini kebudayaan harus dibeli karena telah menjadi sesuatu yang langka. Manuskrip kuno yang dicetak kembali akan diedarkan tetapi telah ditambah dengan nilai tukarnya. Masyarakat yang telah kehilangan budayanya sendiri harus membayar untuk mengaksesnya kembali. Produk dalam masyarakat kapitalistik tentunya telah terkonstruksi dari nilai-nilai dan yang terutama juga adalah nilai tukarnya.
D.  KOMODIFIKASI AYAT-AYAT SUCI
Ketika pemimpin keagamaan menjadi profesi maka dalam masyarakat kapitalistik akan ada pertukaran atau transaksi jual beli barang maupun jasa religius. ‘Pelayanan’ sebagai jasa religious akan dibayar dengan sejumlah uang atau hal lain yang bernilai. Kita bisa melihat bahwa profesi kependetaan misalnya dicapai dengan menempuh jalur pendidikan formal dengan pembayaran regular. Status kependetaan menjadi mirip dengan profesi lainnya yang menawarkan jasa dan mendapat imbalan. Penerimaan uang atau barang dan jasa lainya lumrah tetapi jika intense seseorang untuk memperoleh status kependetaan hanya karena melihat potensi ekonomis maka wacana keagamaan itu menjadi hal sekunder.
Orientasi agama berubah menjadi akumulasi modal dari tujuan untuk mengatur tatanan social. Eksistensi agama pun akan ditentukan oleh kepentingan ekonomi karena dengan begitu dia mampu mempertahankan institusinya. Sudah lumrah bahwa terjadi perselingkuhan antara pebisnis, pemerintah, dan pendeta. Dalam banyak kasus wacana yang dihadirkan oleh pemuka-pemuka agama adalah pembelaan terhadap kebijakan pemerintah dan eksploitasi pebisnis walaupun secara esensial sudah bertentangan dengan visi agama itu sendiri.
Ayat-ayat suci menjadi wacana yang mati karena daya kritiknya sengaja dihilangkan demi eksistensi institusi. Kebanyakan donatur terbesar dalam pembangunan rumah ibadat adalah pebisnis atau orang kaya dan pejabat-pejabat pemerintahan. Ketika para donator melakukan kesalahan maka ayat-ayat suci justru menjadi pembela. Padahal dalam usaha meruntuhkan kekuasaan agama dan feodalisme kaum borjuis sangat anti terhadap agama[10]. Kehadiran agama hari ini adalah alat pemebenaran system karena agama juga didikte oleh ekonomi. Dulunya agama membenarkan feodalisme namun sekarang diberalih membenarkan kapitalisme.
Dalam agama akan terjadi kenaikan jumlah persembahan yang disesuaikan dengan perubahan nilai mata uang. Perubahan dalam ekonomi menuntut perubahan dalam nilai persembahan. Pemimpin agama akan mengumumkan soal ini dalam ibadah-ibadah agar anggotanya  memberi korban sesuai dengan nilai yang ditentukan. Firman secara tak langsung harus menyesuaikan dengan keadaan dan bukan sebaliknya. Ayat-ayat suci yang menyerang pribadi elite akan diperhalus sehingga berusaha tak menyinggung karena jika tidak maka agama akan kehilangan donatur.
 III.            IMPOTENSI WACANA
Dalam sistem ekonomi kapitalistik wacana revolusioner sangat tak berdaya karena dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan. Wacana-wacana yang mengancam system menjadi kerdil dan bahkan mati. Daya aplikasinya akan menurun tetapi sebagai wacana dia bisa menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Semua akan bergantung pada kebutuhan pasar karena jika wacana revolusioner sangat menjanjikan keuntungan besar maka kaum kapitalis akan memproduksinya secara besar-besaran. Tetapi mereka mampu membaca psikologi ssosial karena ketika wcana revolusioner telah memprovokasi maka akan muncul wacana bantahan.
Kehadiran wacana yang menyoal perubahan dan kritik sangat impoten karena dalam media social misalnya yang lebih banyak ditampilkan adalah wacana-wacana yang berorientasi profit dengan sejumlah ornament yang menciptakan realitas artificial. Yang lebih banyak adalah iklan produk daripada diskusi serius soal keadaan yang sebenarnya. Adapun kehadiran wacana-wacana revolusioner yang sangat minim diminati karena memiliki tingkat kesukaran. Sebab kapitalisme membuat daya analisa masyarakat menjadi minim sehingga kualitas wacana yang popular adalah yang ringan saja seperti life style.



[1]Lihat Rand, Ayn. For The New Intellectual. New York. Signet. 1961.  "The professional businessman and the professional intellectual came into existence together, as brother borns of the industrial revolution. Both are the sons of capitalism - and if they perish, they will perish together."
[2] Pendidikan dinilai adalah hal yang akan membuahkan keuntungan di masa depan karena upah kerja terhadap orang  yang berijazah strata tinggi akan lebih tinggi dan juga dalam kondisi tempat kerja yang nyaman dan kerja yang ringan. Tak jarang orang tua mengorbankan tanahnya dijual untuk mengirim anak-anak mereka ke perguruan tinggi. Politik pemerintah menggratiskan pendidikan di tingakat dasar sampai menengah dan menaikkan biaya pendidikan ditingkat perguruan tinggi. Seperti strategi pasar dalam memberi diskon terhadap sebuah produk; harga dinaikkan dua kali lipat dan diberi potongan setengah (50%). Dalam tulisan Albert Einstein yang berjudul Mengapa Sosialisme?, dia mengkritik soal pendidikan dalam kapitalisme serta mengusulkan pendidikan yang ideal, “Seluruh sistem pendidikan kita menderita karena setan ini. Suatu sikap kompetisi yang berlebihan tertanam dalam benak setiap pelajar, yang diajarkan semata-mata untuk memperoleh kesuksesan sebagai persiapan untuk masa depannya. Saya yakin hanya ada satu jalan untuk menghilangkan setan jahat ini, yaitu dengan menciptakan suatu ekonomi sosialis, disertai dengan sistem pendidikan yang dapat diorientasikan untuk mencapai tujuan sosial.” Sumber: Mengapa Sosialisme? (Why Socialism?) oleh  Albert Einstein Situs Indo-Marxist—Situs Kaum Marxist Indonesia, Februari 2002
[3] Tanda atau teks dapat digunakan untuk menipu walaupun isinya memiliki tujuan yang baik karena tanda memiliki fungsi ganda yang bisa digunakan untuk menyamapaikan kebenaran dan juga kebohongan. Lihat Eco, Umberto. Teori Semiotika; signifikasi komunikasi, teori kode, serta teori produksi – tanda. Kreasi Wacana. 2009.
[4] Ibidem.
[5] Ibidem.
[6] Dalam tulisan Rosa Luxemburg yang berjudul Reformasi atau Revolusi dia mengkritik pendapat Eduard Bernstein penganut pandangan social-demokrasi yang mengusulkan bentuk perjuangan tanpa revolusi tetapi melakukan gerakan yang agak kompromis.
[7] Lihat, Melenchon, Jean-Luc. Aturan Hijau untuk Eko-Sosialisme. Bandung. Ultimus. 2013.
[8] Lihat Veltmeyer, Henry dan James Petras. Imperialisme abad 21. Yogyakarta. Kreasi Wacana. 2002. “Ornop-ornop menekankan proyek, bukan gerakan .... ornop-ornop mengkooptasi bahasa golongan kiri- “kekuasaan rakyat”, “pemberdayaan”, “keadilan jender”, “pembangunan berkelanjutan”, “kepemimpinan dari bawah”, dan sebagainya.”
[9] “…., ada sebuah ungkapan yang mengagetkanku yaitu kebudayaan harus menjadi mesin dari ekonomi. Inilah yang saya maksudkan dengan mistifikasi ekonomi; dan sebagaimana adanya bahwa budaya mengabdi pada ekonomi. Tetapi menurutku, ekonomi seharusnya mengabdi pada budaya.”
[10] Paul Lafargue dalam tulisannya yang berjudul Hak untuk Malas menulis “Borjuasi mengibarkan bendera pemikiran bebas dan atheisme ketika mereka berjuang melawan kaum ningrat yang didukung jajaran kependetaan. Namun begitu berjaya, mereka merubah nada suara serta caranya, dan sekarang menggunakan agama untuk mendukung supremasi ekonomi dan politiknya. “

Tidak ada komentar:

Posting Komentar