halo aci!

halo aci!
Teater Ungu

Rabu, 12 Juni 2013

PAHLAWAN TANPA TOPENG



(Sebuah renungan idealistik)

“NO MAN IS A PROPHET ON HIS OWN COUNTRY.” JESUS

Saul termenung dalam diam. Dia mendapati dirinya sendirian, terbuang dari lingkungan masyarakat. Dia percaya bahwa jika seseorang menabur hal yang baik pasti juga akan menuai hal yang baik.  Tapi saat ini dia mulai meragukan hal itu. Dia telah menjelajah mencari puing-puing kebenaran yang berserakan dan kembali membagikannya pada orang-orang di sekitarnya. Mereka menyambut dia dengan sukacita dan harapan dia bisa membawa perubahan untuk masyarakatnya. Ketika dia mulai berbicara tentang kebenaran mereka menjauhinya.
Percikan-percikan air yang dingin menyadarkannya bahwa dia berada di kamar mandi. Bak air telah terisi penuh sehingga airnya berhamburan ke mana-mana. Saul menceburkan kepalanya dalam bak air berharap beban-beban pikirannya membeku dalam dinginnya air. Membasuh diri menghilangkan lekatan-lekatan pada dirinya. Air adalah simbol penyucian; Yohanes membaptis orang dengan air sebagai tanda mereka membasuh diri dari kehidupan lama dan akan memulai hidup baru.
Saul percaya pada karma seperti dalam injil yang lebih menguatkan idealismenya bahwa jika kita menabur kebaikan maka pasti juga akan menuai kebaikan. Tapi bukankah yang baik belum tentu benar dan juga sebaliknya? Dia telah berusaha keras untuk belajar dengan semangat bahwa dia akan mengabdi untuk kemanusiaan terlebih untuk orang-orang yang ada di desa kelahirannya. Dia mendorong orang untuk maju. Dia berkorban untuk mereka. Waktu, materi, dan pemikiran adalah bagian dari pengorbanannya. Tetapi yang tak disadarinya adalah sifat manusia itu tak jauh beda dengan binatang. Ibaratnya kau menolong seekor ular besar yang terperangkap akhirnya setelah terlepas dia menelan dirimu hidup-hidup. Banyak orang yang sudah ditolongnya tetapi setelah mereka berada pada posisi nyaman dia tak lagi dihiraukan. Bahkan mereka justru menyebarkan desas-desus tentang dirinya yang selalu mencari masalah dalam setiap kegiatan. Terlalu banyak bicara; terlalu banyak mengkritik, bicara blak-blakan dan tak pandang bulu.
Ketika masih menimba ilmu dia yakin bahwa dirinya diutus oleh rakyat untuk belajar segala hal dan kembali untuk menolong mereka. Pikirnya rakyat butuh kebenaran; tidak! Rakyat butuh makan. Karena kebutuhan ini maka urusan-urusan kebenaran bukanlah prioritas mereka jadi apa gunanya membawakan kebenaran untuk mereka. Bukankah juga Yesus ditolak karena membawa kebenaran yang memisahkan anak dari orang tuanya? Kebenaran hanya akan menimbulkan perpecahan karena sifat kebenaran selalu mengkritik. Jika kau datang untuk meluruskan tradisi maka kau akan berhadapan dengan mereka yang menganggap kesalahan adalah kebenaran. Kau akan berhadapan dengan mereka yang menggunaka usia untuk menyatakan suatu kebenaran. Sementara kau adalah ingusan yang baru mengenal dunia (anak spanggal).
Air tercurah mengalir di lekuk-lekuk tubuhnya. Tubuhnya kurus kerempeng tak terurus. Mungkin karena telalu banyak berpikir sehingga dia tak bisa gemuk. Kata orang memang banyak berpikir bisa berpengaruh pada berat badan. Sebagian orang yang mendapat penyakit maag kronis bukan karena kekurangan makanan tetapi karena terlalu banyak berpikir. Otak adalah bagian tubuh yang paling banyak membutuhkan nutrisi. Apakah ini juga yang menjadi landasan dalam institusi social bahwa orang yag bekerja dengan otak lebih tinggi upahnya daripada orang yang bekerja menggunakan otot? Dalam realitas sosial pekerjaan yang lebih banyak aktivitas berpikir lebih mendapat upah yang besar daripada mereka yang bekerja dengan otot. Sehingga banyak orang ingin mendapat pekerjaan yang lebih lebih melibatkan proses berpikir. Walaupun memang pada kenyataannya mereka yang menduduki posisi-posisi pekerjaan itu tidak punya otak sama sekali. Posisi-posisi dalam pekerjaan mereka diraih dengan sogokkan atau melalui saudara dan yang seiman. Saul terus berpikir. Mandi adalah kegiatan yang sering dilakukan jadi dia melakukan aktivitas itu seperti mesin saja yang otomatis. Sementara pikirannya menjelajah organ-organ lain terus bekerja membersihkan dirinya.
Mungkin Saul adalah seorang megalomania yang terobsesi dengan tokoh-tokoh superhero di film-film Hollywood. Tetapi tak sadarkah dia bahwa tokoh-tokoh itu juga sebagian ditolak oleh orang-orang yang mereka tolong? Batman, seorang kesatria malam juga ditolak karena menurut warga Gotham dia juga adalah sumber kekacauan di lain pihak dia dianggap bertindak di luar hukum legal formal yang tidak didasarkan pada prinsip demokrasi. Bruce Wayne sisi lain dari Batman adalah seorang konglomerat  berhati mulia yang menginginkan keadilan ditegakkan sehingga dia berupaya membantu Harvey Dent untuk membongkar jaringan mafia yang bersatu dengan kaum kapitalis. Tetapi akhirnya juga jaksa itu mengalah dengan idealismenya dan menjadi seorang penjahat padahal dia sempat mengungkapakan bahwa kita bisa mati sebagai pahlawan atau hidup panjang dan perlahan menjadi penjahat. Dengan provokasi Joker dia memburu semua orang yang diketahui terlibat atas kematian Rachel. Selanjutnya,  Spider-man pahlawan bertopeng yang dalam kesehariannya seorang photographer bernama Peter Parker – yang meyakini bahwa seseorang yang memiliki kekuatan besar memiliki tanggung jawab yang besar pula – juga mendapat penolakan dari banyak orang. Banyak pahlawan bertopeng mengalami nasib yang sama. Tetapi Saul bukanlah pahlawan bertopeng dia adalah anak lugu yang tak suka berdusta ataupun menipu orang. Tetapi kenapa dia ditolak?
Pahlawan yang menggunakan topeng umumnya tidak ingin diketahui identitasnya dan juga sebagai bukti mereka tak mengejar popularitas diri. Mereka lebih memilih ‘anonimisasi’ diri walaupun tetap saja mereka akan mendapatkan nama baru juga. Identitas pada dasarnya akan berpengaruh pada penilaian orang terhadap diri kita. Alasan penolakan terhadap Yesus adalah identitasnya yang berasal dari keluarga yang ayahnya seorang tukang kayu. Saul adalah anak dari keluarga miskin dan orang tuanya hanyalah petani. Bagaimana mungkin anak petani ini tiba-tiba datang dan mengajari tokoh-tokoh masyarakat, pendeta, gembala, pastor, pimpinan desa, pemerintah, kaum intelektual tua, dan golongan bangsawan terdidik tentang kebenaran? Sungguh itu akan dianggap sebuah penghinaan terhadap diri mereka. Seakan mereka baru saja ditampar anak ingusan.
Saul adalah seorang Kristen tetapi dia tak menutup diri membaca kitab suci agama-agama lain. Dia juga selalu berkecimpung dengan dunia filsafat tetapi yang tidak disadarinya bahwa Lao Tzu pernah berkata “Isilah mangkukmu penuh-penuh maka ia akan tumpah. Tajamkalah pisaumu maka ia akan tumpul.”Ada juga pepatah Cina yang mengatakan bahwa paku yang terlalu menonjol akan dihantam dengan martil. Dalam Taoisme dikenal dengan hukum keseimbangan yang sering kita lihat dalam lingkaran yang berisi warna hitam dan putih; di wilayah putih ada titik hitam dan di wilayah hitam ada titik putih (yin dan yang). Saul memang terlalu banyak belajar tentang teori dan segala macam konsep dunia sehingga dia menjadi begitu kritis. Karena pemikirannya yang terlalu melampaui pemikiran  banyak orang maka dia juga menjadi sulit untuk beradaptasi. Dia menjadi sedemikian menonjol di tengah-tengah banyak orang sehingga banyak yang iri dan berniat menjatuhkannya. Sebenarnya sudah banyak peringatan tentang kehidupan ini tetapi kita saja yang kurang menyadari dan memaknai peringatan-peringatan itu. Pengorbanannya memang tidak sia-sia tetapi tidak dihargai. Mungkin dia harus belajar dari ungkapan tokoh antagonis dalam film The dark knight, Joker berkata bahwa jika kau ahli dalam suatu hal jangan pernah melakukannya tanpa bayaran.
                Lelaki itu keluar dari kamar mandi menuju kamarnya. Sejak dari kamar mandi dia telah memilih baju yang akan dipakainya. Dia mengambil baju dan celana berwarna putih dan mengenakannya setelah itu dia menyisir rambutnya rapih. Kemudian diambilnya secarik kertas dan pena lalu menulis sesuatu.   Kertas itu diletakkan di meja kerjanya kemudian dia membaringkan diri di tempat tidur. Kedua tangannya ditaruh di antara perut dan dada sambil menutup matanya. Saul meninggal dengan pikiran yang berkecamuk, dia kalah bergulat dengan absuditas. Dia tak mampu menerima kenyataan hidup yang penuh dengan penipuan dan pengkhianatan. Dia dikenang dalam diam sebagai pahlawan idealisme yang memilih mati bersama pemikirannya daripada hidup dengan mengkhianati ide-ide yang dipahaminya. Dia meninggal tanpa kekasih. Semua perempuan yang pernah menemaninya pergi meninggalkannya. Mereka tersadar bahwa perasaan mereka padanya telah menipu mereka. Mereka harus bersama lelaki yang tak bisa menjamin semua kebutuhan-kebutuhan mereka. Lebih baik mereka melacurkan diri daripada hidup dengan lelaki baik yang melarat. Wanita bukan hanya materialistik tetapi mereka juga sangat idealistik yaitu mengejar kebahagian semu dalam kecantikan. Mereka butuh lelaki yang selalu memuji kecantikan dan menjanjikan akan membawakan rembulan kepada mereka. Bukan seperti Saul yang hanya berbicara konsep-konsep yang menjemukan telinga selama berduaan.
                Tiga hari kemudian ibadah pemakamannya dilangsungkan. Semua teman, kawan, dan sahabatnya hadir. Mereka adalah orang-orang yang pernah didorong dan ditolongnya semasa dahulu tetapi sekarang mereka datang di pemakamannya dengan setelan jas berdasi. Mobil dinas dan mobil pribadi banyak terparkir di sekitar acara pemakaman. Sepertinya yang meninggal adalah orang penting. Semuanya meminta waktu untuk bicara sebagai kata-kata pengiring pemakamannya. Ada yang membawakan lagu, puisi, pantun, dan juga pidato untuk mengenang pribadi Saul. Mereka terisak menangis melihat dirinya terbaring kaku dan wajah yang masih mengekspresikan kekacauan pikirannya. Saul hanya terdiam di dalam peti mati. Apalah artinya kata-kata yang ditujukan pada orang mati? Setelah Saul dikuburkan semua orang yang hadir dalam pemakamannya kembali ke kehidupan normal seakan tak pernah terjadi apa-apa. Pikir mereka kehadiran dalam acara pemakaman adalah impas karena dulu juga mereka pernah menolongnya ketika dia kelaparan dan tak punya jajan. Saul; seorang idealis yang mati di usia dini dan dilupakan.
                Angin bertiup sepoi dan secarik kertas melayang terbang …

Rabu, 05 Juni 2013

SEJARAH GEREJA KATOLIK DESA TONDEI

 (cikal bakal dan fenomena di balik pendiriannya)
Disusun oleh:
Iswadi Sual
Editor:
Pnt. Iswan Sual, S.s

MENULIS SEJARAH, BAIK BURUK HARUS DIISI.” GUSTAV F. TAMAKA[1]

Gereja Katolik di Tondei didirikan pada tahun 1984 yang diprakarsai oleh Manuel Lumapouw[2]. Disahkan oleh Pastor Mailangkay[3] paroki Tompaso Baru bersama dewan-dewan paroki serta rombongan jemaat yang mendampingi melalui misa (kebaktian) peletakan batu pertama pendirian rumah ibadah dan penerimaan sakramen bagi pemeluk agama katolik yang baru.  Ketua jemaat Bpk. Kilisan[4] dan sekretaris Gustav Fransiskus Tamaka dengan jumlah jemaat pertama  dua puluh kepala keluarga (KK)[5].
Awalnya umat katolik di desa Tondei hanya terdiri dari beberapa keluarga yang sering melaksanakan misa di rumah-rumah. Ini merupakan kelompok katolik yang digerakan oleh Gustav F. Tamaka dan Lius Piri. Lius Piri adalah seorang katolik dari desa Kroit[6] yang kebetulan menikah dengan orang Tondei bermarga Lumempouw. Mereka membuat gereja (dalam pengertian etimologis) kecil dan melaksanakan ibadah rutin di rumah-rumah. Ini semata hanya sebagai solidaritas sesama katolik dan belum ada rencana untuk mendirikan tempat ibadah.
Pada tahun 1984 pasca pemilihan ukung tua (hukum tua) terjadi ketegangan politik antar para calon yang kalah dalam pemilihan itu[7] dengan lawan-lawan politiknya. Yang menjadi ukung tua waktu itu adalah Laloan L. L. Sumangkut; terpilih pada 9 Juni 1984 – 1992[8]. Kekecewaan politik ini berubah menjadi sentimen-sentimen yang berkaitan dengan apa saja. Seminggu sesudah pesta demokrasi itu (Bernard?) Lumapouw[9] mengunjungi Gustav Tamaka dan membicarakan soal pendirian gereja katolik. Kemudian disusul oleh Manuel Lumapouw dan Julian Wongkar[10] datang mendiskusikan hal itu. Awalnya Gustav Tamaka tidak mempercayai proposal ini tetapi karena ada hasrat besar dari Manuel Lumapouw maka disetujui juga. Untuk menindaklanjuti itu mereka kemudian pergi dengan sepeda motor – usaha ini sedikit ada kecanggungan karena misi mendirikan gereja baru akan membuat risi jemaat lain - menghadap Pastor Mailangkay di Tompaso Baru. Saat itu Manuel Lumapouw mengutarakan kehendak besarnya untuk mendirikan gereja katolik. Dalam pemahamannya katolik hanyalah golongan dalam kekristenan yang tak disadarinya bahwa katolik sudah merupakan agama yang berbeda dengan protestan. Ini sebenarnya yang menjadi kegundahan dari Gustav Tamaka sendiri. Tetapi karena Manuel Lumapouw sudah mengutarakan niatnya dan telah menjanjikan jumlah jemaat yang cukup banyak serta akan menyumbangkan tanahnya untuk bangunan gereja maka pastor pun setuju.
Pada bulan agustus tahun itu pastor dan dewan paroki Tompaso Baru datang ke Tondei dan membicarakan soal pendirian gereja katolik. Setelah semuanya telah diurus mengenai administratif gereja maka kemudian pastor mengirim Bpk. Kilisan  dari Kinamang Tompaso Baru beserta istrinya ke Tondei untuk memimpin jemaat. Sesudah itu muncul surat dari paroki untuk mengadakan misa dalam peletakan batu pertama pendirian gedung gereja katolik. Maka sehari sebelum misa dilaksanakan jemaat mengadakan persiapan demi persiapan walaupun yang banyak berkorban secara materil adalah Manuel Lumapouw. Pada malam sebelum misa laksanakan tiba-tiba muncul surat gugatan dari Detje Sumangkut[11] – usaha ini diduga ada desakan dari pihak-pihak lain yang ingin membatalkan pendirian gereja katolik - yang adalah istri dari Manuel Lumapouw terhadap tanah yang akan didirikan bangunan gereja. Oleh karena kintal (sebidang tanah) itu adalah milik keluarga. Surat ini memunculkan ketegangan dalam semangat mula-mula di jemaat katolik. Tetapi ketika dirundingkan kembali dengan istrinya maka akhirnya surat hibah pun ditandatangani oleh suami istri tersebut.
Di pagi hari sebelum misa dilaksanakan memang ada kepanikan karena rombongan paroki sudah di tengah jalan. Apa jadinya jika misa ini dibatalkan. Pastor juga sempat membaca surat gugatan itu dan dengan kecewa mengatakan akan membatalkan acara tetapi tetap akan melakukan pemberkatan terhadap material yang sudah dibawa. Tetapi akhirnya Manuel Lumapouw muncul dan memastikan semua akan berjalan lancar – manuel dan istrinya menandatangani surat hibah di altar. Rombongan paroki yang datang cukup banyak walaupun keadaan jalan waktu itu belum baik karena banyak lubang dan lumpur. Tetapi atas usaha Manuel Lumapouw yang menggerakan orang-orangnya untuk kerja bakti maka mobil-mobil pun bisa masuk ke desa Tondei. Dalam misa yang dilaksanakan para umat katolik yang baru juga menerima sakramen sebagai tanda diterima sebagai umat katolik secara sah (kudus?).
Setelah gereja katolik berdiri selang tiga bulan Bpk. Kilisan yang sering sakit-sakitan akhirnya menyerahkan tanggung jawab untuk memimpin gereja katolik pada Gustav Tamaka. Hal ini pun mendapat restu dari pastor Mailangkay dan sejak saat itu Gustav Tamaka menjadi ketua jemaat gereka katolik di Tondei. Manuel Lumapouw selama dua puluh tahun aktif di gereja katolik sampai di ujung usiannya; istrinya walaupun tidak menjadi katolik tapi juga menyempatkan diri membantu kegiatan-kegiatan di gereja katolik stasi Tondei. Menurut Gustav Tamaka jika kita bertanya kenapa ada gereja katolik di Tondei itu karena Manuel Lumapouw. Walaupun awalnya gereja katolik di tondei didirikan karena perseteruan politik tapi dia telah membuktikan konsistensinya memeluk agama katolik sampai ditutup usianya.
Sekarang ini bangunan gereja katolik sudah sangat memprihatinkan jemaatnya pun tinggal lima belas kepala keluarga. Jemaatnya pun banyak yang tidak menetap di desa karena bekerja di kota atau di luar desa. Kadang orang menyebut gereja ini sebagai gereja musiman karena jarang terlihat melakukan aktivitas. Tetapi sejak katolik berdiri di desa Tondei terlepas dari berbagai motif-motif pendiriannya telah mengalami dinamika dan masih konsisten sampai hari ini.



[1] Gustav Fransiskus Tamaka lahir di Manado 27 Agustus 1937. Anak dari keluarga Tamaka-Palengkahu. Ayahnya seorang pedagang disamping mengajar di sekolah dan juga sempat menjadi gembala di Kerapatan Gereja Protestan di Minahasa (KGPM). Menerima pendidikan Sekolah Rakyat (SR) Exelsiur (Katolik) di Ulu Siau –ini yang menjadi faktor penyebab dirinya menjadi Katolik, Sekolah Teknik … (STP) di Makasar, pada 1968 masuk kuliah untuk program sarjana muda di IKIP Manado Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Pendidikan Sosial (Pensos). Pernah bergabung dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Dinas Kesehatan Tentara (ABRI DKT) dan mengikuti misi di Irian Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan (GOM IV), Aceh operasi GAM, terakhir menjadi staf 7/12 di Manado. Pernah mengajar di SMP Candra Kirana sampai tahun 1977. Bertugas sebagai mantri di wilayah Poigar pada 1966. Turut membantu Guru Jemaat Bpk. Cyrus Bujung dalam pendirian SMP Kristen Tondei (Yayasan GMIM) dan juga menjadi salah seorang pengajar mulai 1984; walaupun sempat ada gugatan karena statusnya yang bukan jemaat GMIM. Tiga tahun sesudah gereja katolik didirikan dia ditunjuk oleh Pastor Mailangkay untuk menjadi guru jemaat. Menikah dengan Treisya Sarah Rondonuwu ( 06 Mei 1938 - ….) pada 10 Juni 1960 dan dikaruniai tiga orang anak perempuan (Yohana, Nova, dan Sophia) juga delapan cucu dan sepuluh cece.
[2] Versi Ny. A. J, Bujung-Moningka menyentil sejarah gereja katolik dan menyatakan bahwa pelopor pembentuknya adalah Petrus Tamaka, padahal nama sebenarnya Gustav Fransiskus Tamaka, dan guru jemaat pertama adalah Kilisan dengan jumlah kk sekitar 5 kk jumlah jiwa kira-kira 25 jiwa (Sejarah Desa Tondei. Keadaan sampai tahun 1989. Tondei Raya. KSMT & STMS. 2012. Ditulis kembali oleh Cyrtje A. C. Bujung tahun 2010).
[3] Meninggal di Timor Timur
[4] Nama lengkap tak teridentifikasi.
[5] Ibidem.
[6] Roong (desa) yang berdekatan dengan  Tondei dan masyarakatnya mayoritas beragama katolik.
[7] Ny. Bujung-Moningka menyebutkan bahwa di tahun 1984 bahwa ada dua peristiwa penting yang terjadi yaitu terpilihnya Lon Laloan Londa Sumangkut sebagai ukung tua dan masuknya golongan KGBI dan agama Katolik. Secara implisit dinyatakan bahwa ada hubungan antara peristiwa politik dan masuknya golongan dan agama baru di Desa Tondei. Ibidem.
[8] Ibidem.
[9] Ayah dari Manuel Lumapouw.
[10] Julian Wongkar yang lebih dikenal dengan panggilan Loleng beberapa kali menjabat sebagai ukung tua dan di masa jabatannya yang terakhir desa Tondei dimekarkan menjadi tiga desa. Dia terlibat dalam upaya mendirikan gereja katolik namun sesudah itu tidak aktif lagi.
[11] Menjabat sebagai ukung tua Tondei Dua pada tahun …………………….. isi suratnya adalah gugatan sebagai seorang istri kepada pimpinan katolik waktu itu. Menurut Gustav Tamaka waktu itu lagi genjar-genjar P4. Mungkin ini berkaitan dengan kedisiplinan orde baru yang sangat mempengaruhi keadaan mental masyarakat sehingga isi surat itu memilki ruh militeris.

LANGKOY

(Tuama tanpa rusuk sebelah)
Hidup sendiri di tengah banyak orang; itulah dia. Dia bukan seorang duda yang ditinggal mati, diceraikan atau ditinggalkan oleh wanita yang kawin lari dengan orang lain. Dia juga bukan hermaphrodite yang berkelamin ganda. Dia bukan seorang misoginis. Dia telah memilih jalan untuk dirinya sendiri; jalan yang hanya bisa ditapaki oleh dua kaki. Jalan yang langsung menghilang ketika telah ditapaki; itulah jalannya, jalang langkoy. Apakah jalan ini juga yang dipilih oleh Yesus?
                Ketika berjalan di sebuah lorong tiba-tiba dia dikagetkan dengan suara yang berasal dari sebuah rumah tepat di sampingnya. “woi so bole e … so lebe sore!” suara itu disertai gelak tawa yang terdengar kira-kira ada beberapa orang. Lelaki ini mengacuhkan saja pernyataan itu karena memang pernyataan itu bukan baru sekali dia dengar. Sudah ribuan kali sejak dia berumur 29 tahun. Sekarang dia berumur 38 tahun. Umumnya masa kejayaan dalam pergaulan sampai pada umur 23 tahun dan digantikan oleh generasi-generasi baru. Jadi, pernyataan itu bisa bermakna sindiran, ajakan, atau dorongan. Pernyataan itu berarti dia harus secepatnya menikah karena pria yang makin tua akan kehilangan stamina dalam hal seksualitas. Kemungkinan besar penis tidak akan ereksi secara normal lagi. Tetapi kenapa orang-orang ini mengkhawatirkan hal itu? Dia berjalan terus sambil membalas dengan senyum tipis.
                Tiba di rumah dia mendapati ayahnya sedang duduk bersandar dengan mata tertutup sambil mengelus-elus kepala seekor anjing. Ibunya berada di dapur sedang mencuci baju dan terlihat api sedang menyala di dodika. Orang tuanya pernah mengeluhkan tentang jalan yang dipilihnya ini dan membujuknya untuk menikah dengan seorang gadis belia korban perkosaan dua lima tahun lalu. Walau umur mereka beda jauh tetapi dari segi kualitas sosial mereka bisa dianggap sama. Yang satu segelnya rusak sebelum terjual dan yang satu rusak karena disegel sampai kadaluarsa. Ibunya berpikir seandainya dia menikah maka beban kerja di rumah akan terkurangi. Istrinya juga akan senantiasa mencuci baju, membuat masakan, dan mencari kayu bakar. Setidaknya juga akan ada yang mengurusi mereka di hari-hari tua.
                Dia masuk ke kamar tanpa menyapa ayah dan ibunya. Kamar ini yang sejak kecil adalah kamar pribadinya. Dia membaringkan diri dan berpikir tentang jalan yang telah dipilhnya. Apakah aku sanggup menapaki jalan ini? Dia berpikir. Sudah sekian tahun aku menemanimu dan berharap aku dihuni oleh dua orang yang akan bercinta setiap malam tapi sampai saat ini kau masih menyendiri jua. Apa kau ini homoseks? Kamar itu seakan berbicara kepadanya dan menambah beban pikiran saja. Para langkoy di desa menurut orang-orang adalah mereka yang tidak memiliki kemampuan bergaul yang baik. Mereka juga cenderung introvert perbincangan soal hubungan percintaan. Mereka kebanyakan adalah para pemuda petani yang tak mendapat pendidikan selayaknya. Di desa ada kecenderungan anak-anak lebih suka ke kebun daripada ke sekolah. Sekolah bagi mereka adalah institusi penindasan karena setiap terlambat masuk mereka di hantam guru piket. Belum lagi ketika mereka tak mengerjakan PR atau tak mencatat. Ada juga kesalahan-kesalahan yang ditimpakan kepada mereka hanya karena pelampiasan amarah guru yang tak tersalur di rumah atau ada percekcokan antar sesama guru. Tetapi di kebun mereka belajar banyak hal. Belajar berburu dan juga berkebun. Di kebun mereka merasa sangat bebas daripada di sekolah yang seperti di penjara.
                Tetapi ada juga kecurigaan lain bagi para pemuda langkoy ini yaitu mereka dikira benar-benar homoseks. Karena banyak yang kedapatan mereka lebih suka kongko-kongkow dengan rombongan lelaki dan tidur bersama. Suatu kali ada yang pernah menuturkan bahwa teman lelakinya ternyata homoseks karena ketika mereka tidur bersama dalam keadaan mabuk temannya itu pernah mencoba mempermaikan penisnya. Untung dia cepat tersadar. Pengalaman-pengalaman orang-orang desa akan memunculkan pandangan yang beragam terhadap pemuda yang di usia makin senja namun belum juga menikah. Apakah mungkin juga dia punya wentel yang merupakan pantangan menyentuh seorang gadis apalagi menikahinya. Tetapi ada juga ‘pemuda-pemuda’ langkoy yang broken (broken heart) karena mereka percaya bahwa cinta mereka hanya untuk satu gadis saja. Jika dia pergi, menikah dengan orang lain, atau mati maka mereka memilih untuk hidup sendiri. Di lain sisi ada banyak pemuda-pemuda langkoy yang tak kebagian stok perempuan karena jumlah perempuan di desa lebih kecil daripada lelaki. Anehnya juga walaupun stok perempuan sesuai dengan permintaan tetapi lebih banyak stok ini terjual di kampung tetangga atau di daerah perkotaan. Perempuan memang tidak seperti barang dagangan lain karena komoditi ini memiliki kemampuan untuk memilih konsumennya. Mereka lebih memilih konsumen yang berpendidikan – yang pasti pekerjaannya bukan ma’gula ato ma’kopra – atau bisa saja tukang ojek atau supir yag bisa mengajak mereka berkeliling. Yang paling malang adalah pemuda-pemuda yang akhirnya tak menikah karena waktunya habis dengan pacaran. Katanya dia selalu melakukan koleksi perempuan (playboy) untuk diseleksi tetapi akhirnya suatu saat dia tak lagi dipercaya oleh gadis-gadis. Mereka dapat dikategorikan sebagai pemuda-pemuda langkoy tetapi bukan karena pilihan.
                Faktor pelarangan terhadap eksogami pun merupakan penyebab para pria di desa menjadi langkoy. Masyarakat yang berdiam di suatu tempat dan yang memiliki penduduk kurang dari 3000 jiwa mempunyai ikatan kekeluargaaan yang cukup kuat. Relasi kekeluargaan antar klan (marga) saling menyilang sehingga membuat bagi para pria di desa sulit menemukan gadis yang tidak memiliki ikatan darah. Menikahi gadis yang masih memiliki ikatan darah (incest) dianggap tindakan yang tidak baik (taboo) bagi para orang tua.  Di satu sisi ada pelarangan walaupun secara konvensional untuk menikah dengan gadis di luar suku apalagi dengan yang memiliki agama berbeda. Tetapi ada banyak juga pria di desa yang melanggar hal semacam itu dan menikah dengan gadis di luar suku bahkan sampai berpindah agama. Mereka lebih memilih melanggar aturan daripada hidup menjadi seorang langkoy. Walaupun sanksi sosialnya mereka terkucil dari masyarakat di mana mereka berasal.
                Tetapi memilih jalan langkoy sungguh berat. Dapatkah kau hidup tanpa seks? Libido; keinginan yang dirangsang secara biologis dan harus segera dipuaskan. Sunat tidak bisa menghentikan kebutuhan ini karena hanya mengeluarkan kulit katannya saja. Mungkin lebih baik dikebiri, dengan membuang buah zakar kau akan terbebas dari rangsangan ini karena buah zakar adalah tempat diproduksinya sperma. Tetapi adakah orang yang pernah dikebiri seperti hewan untuk menghentikan tindakan reproduksinya karena telah menciptakan jumlah spesies yang berlebihan. Menjadi langkoy secara sukarela membutuhkan komitmen yang matang karena setiap komitmen pasti akan diperhadapkan dengan tantangan. Bisa saja suatu saat kau mencabuli anak kecil untuk memuaskan libidomu atau juga kau memilih menikah dengan seorang janda karena lelah dan tak tahan menjalani hidup sebagai orang langkoy. Saat itu kau akan disebut murtad. Ada banyak orang yang dipenjara karena mencabuli anak-anak gadis dan banyak juga orang yang bersungut-sungut tak mendapat keturunan karena menikah di usia ketika istrinya tak produktif lagi (menopause).
                Dia menatap langit-langit di kamarnya dan ribuan suara bercampur aduk di telinga berusaha melunturkan jalan yang dia pilih. Semua saudara lelakinya telah menikah bahkan anak dari saudara-saudaranya kini sedang belajar bergaul dengan anak-anak gadis. Lalu aku ini apa? Dia bertanya pada dirinya. Bagiku pernikahan adalah institusi penindasan. Bersetubuh bukanlah ukuran kebahagiaan manusia. Persetubuhan hanyalah sensasi-sensasi sesaat. Itulah yang paling banyak diidam-idamkan oleh banyak lelaki untuk menikah. Bukankah onani juga bisa memberi sensasi-sensasi semacam itu? Setiap malam kau bisa bersetubuh dengan istrimu tetapi ketika ayam berkokok kau harus bangun untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan untuk mempertahankan kecantikan istrimu. Jika kau punya anak awalnya kau merasa bahagia tetapi sesudahnya kau harus bekerja keras untuk membesarkannya. Kau harus memenuhi kebutuhan pokok sampai kebutuhan-kebutuhan ilusif. Dengan begitu kau akan disebut bertanggung jawab dan keluargamu bahagia.
                Menjadi seorang langkoy adalah menjadi orang yang bebas tetapi tidak semua orang langkoy sama. Pria ini menyebut dirinya sebagai seorang langkoy filosofis. Dia memilih hidup tanpa wanita bukan karena ketidakmampuannya menaklukkan wanita, atau dirinya homoseks, tak berpendidikan, tak berharta, atau tak mendapat bagian stok wanita. Dia hanya ingin hidup bebas dari keinginan. Tak seperti langkoy-langkoy yang menghabiskan waktu di warung-warung dengan minuman keras dia justru bekerja keras dan menghasilkan uang yang cukup untuk orang tua, diri sendiri, dan pesta kecil-kecilan dengan komunitas pergaulannya. Dia sungguh orang yang produktif tetapi ketika dia berkeluarga belum tentu hasil kerjanya bisa memenuhi semua kebutuhan.

                Memilih jalan langkoy sama dengan melanggar kodrat biologis. Lalu untuk apa penis diciptakan kalau tak difungsikan? Bentuk penis yang menyerupai silinder bukanlah sekedar sebagai pipa saluran kencing tetapi lebih daripada itu  memiliki sparring partner. Kaum homoseks memahami bahwa jiwa mereka beroposisi dengan kenyataan fisiknya sendiri dan pria ini bukan seperti itu. Jadi jelas bahwa tak ada kesalahan genetis di sini. Mungkin pilihan ini semacam pemberontakan terhadap konvensi-konvensi sosial. Atau mungkin dia telah belajar dari para pejuang yang jatuh karena perempuan? Apakah dia berhasrat menjadi seorang pejuang tanpa perempuan? Entalah.