halo aci!

halo aci!
Teater Ungu

Jumat, 27 Desember 2013

SEMANGAT KEMINAHASAAN DAN PERSOALAN IDENTITAS[1]



(Sebuah catatan terhadap kondisi generasi muda)
Oleh
Iswadi Sual

Sejarah berkaitan dengan identitas (jati diri) individu maupun komunitas masyarakat tertentu. Kehilangan ingatan akan masa lalu (amnesia) juga adalah kehilangan jati diri. Jika seseorang tidak ingat lagi siapa orang tuanya, tempat di mana dia lahir dan lingkungan dia dibesarkan maka seseorang itu akan kehilangan pijakan. Sama halnya dengan suatu bangsa yang tidak ingat lagi akan sejarah tentang siapa leluhurnya, tanah leluhur dan budaya leluhur maka bangsa itu akan kehilangan pijakan untuk masa depan. Hal ini juga yang dihadapi oleh bangsa Minahasa hari ini di mana sebagian besar masyarakat atau generasi muda telah mengalami amnesia sejarah dan kebudayaan Minahasa. Apakah generasi muda saat ini masih mengenal leluhurnya? Apakah mereka mengetahui peristiwa-peristiwa penting di tanah adat ini? Apakah mereka masih memiliki kemampuan menerjemahkan nilai-nilai budaya lokal dalam konteks modern? Apakah juga mereka mengenal gagasan-gagasan Ratu Langi dan tonaas-tonaas lainnya?
Sejumlah pertanyaan menyangkut identitas keminahasaan mungkin akan membuat generasi muda sekarang bingung karena kurangnnya referensi ataupun memang apatis jika diperhadapkan dengan masalah kebudayaan sendiri. Karakteristik Minahasa hari ini tidak harus berpijak pada situasi yang sudah terkondisikan tetapi harus ada usaha mencari karakter asli Minahasa untuk dijadikan pijakan dalam kehidupan yang diperhadapkan dengan tantangan global hari ini.
Generasi muda Minahasa praktisnya dalam arus globalisasi merasa inferior terkait persoalan budaya lokal sebagai jati dirinya. Superioritas budaya pop sangat mendominasi baik pola pikir maupun perilaku generasi saat ini. Rasa percaya diri untuk mengangkat budaya Minahasa dalam persaingan global memang masih kurang. Dalam usaha penyesuaian gaya hidup maka banyak sekali kearifan local yang telah dilupakan dan ditinggalkan. Padahal dalam lingkup globalisasi yang dibutuhkan adalah daya saing dan bukan hanya sekedar terbawa arus saja. Orang Minahasa hari ini telah menjadi sedemikian pragmatis dalam menghadapi berbagai hal. Kebobrokan tatanan sosial diakibatkan oleh hilangnya tumpuan etos budaya masyarakat.
Globalisasi yang kemudian identik dengan berbagai terminologi seperti neokolonialisme, imperalisme, kapitalisme transnasional, dan lain sebagainya ternyata memiliki dampak terhadap persoalan identitas bangsa khususnya di negara-negara yang dikategorikan Dunia Ketiga. Walaupun globalisasi diikuti dengan kampanye semangat perdamaian dunia lewat keterbukaan tetapi pada kenyataannya terjadi hegemoni ekonomi yang berpengaruh dalam berbagai sektor; baik itu dalam hal politik, budaya, pendidikan, media, dan lain sebagainya. Yang paling nyata adalah perilaku masyarakat yang terkooptasi oleh gaya pop yang dipengaruhi oleh media massa  Media menjadi standarisasi perilaku masyarakat dari cara berbicara, berpakaian, sampai kepada apa yang harus dikonsumsi.
Tou Minahasa khususnya yang masih muda tidak harus berada dalam lingkup konsumerisme tetapi harus produktif dalam berbagai hal. Tetapi intinya kemudian adalah landasan yang kuat terhadap kebudayaan Minahasa itu sendiri. Modernitas harus disambaut dengan akar budaya yang kuat agar supaya identitas Minahasa tidak memudar dalam persaingan global. Konsumsi masyarakat hari ini yang dianggap gaya hidup standar perlu disadari dipengaruhi oleh budaya bangsa-bangsa yang memiliki daya saing tinggi yang ditunjang oleh  kemampuan berpikir (sumber daya manusia). Banyak budaya local hari ini yang telah diangkat menjadi budaya internasional; walaupun telah banyak dimodifikasi tetapi kekhasan budaya local itu tetapi ada. Kita bisa mendapati hal-hal demikian dalam music, sastra, fashion, dan teknologi.
Etos budaya Minahasa yang semakin memudar harusnya menjadi tanggung jawab generasi muda untuk membangkitkannya lagi. Semangat kerja mapalus dan sifat pemberani waraney harusnya menjadi tumpuan dalam menghadapi modernitas. Harusnya generasi muda Minahasa tidak malu untuk mengglobalkan kearifan lokal kita. Rasa cinta akan kebudayaan sendiri harus ditumbuhkembangkan disamping menerima modernisasi. Artinya generasi muda tidak harus terjebak pada tradisionalisme ataupun terbawa arus modernisasi. Etos kerja mapalus dan semangat waraney baiknya menjadi tumpuan generasi muda dalam berpikir dan berperilaku untuk menciptakan tatanan masyarakat yang maju tetapi dilandasi nilai-nilai asli budaya Minahasa. Generasi muda perlu menemukan kembali jati diri ke-Minahasa-an dalam upaya mengangkat nilai-nilai budaya asli.
Rasa rendah diri (inferior) harus ditepis untuk membangkitkan kepercayaan diri (superior) kita untuk mengangkat identitas kolektif. Kita harus sadar tentang potensi kita dan memanfaatkannya dalam persaingan global sehingga identitas kolektif (Minahasa) memilki posisi tawar dalam skala internasional. Saya kira ini juga yang dilakukan oleh bangsa dan negara lain. Generasi muda Minahasa harus lebih produktif dalam berbagai bidang yang diisi dengan nilai-nilai budaya. Produktivitas yang dilandasi dengan prinsip maesa (Minahasa), matuari, dan mapalus serta semangat waraney mungkin adalah solusi kemajuan kita bersama baik generasi sekarang maupun selanjutnya. Menumbuhkan rasa persatuan, persaudaraan, dan kerja sama antar Tou Minahasa dalam pembangunan.
Kebanggaan terhadap kebudayaan sendiri bukan untuk menciptakan etnosentrisme, chauvinisme, ataupun nasionalisme sempit. Tetapi bangga menjadi diri sendiri juga adalah hak yang disertai kewajiban untuk menghormati yang lain. Generasi muda Minahasa harus berani keluar dari rasa inferioritas dan bangkit untuk bersaing. Oleh karena era globalisasi selain persaingan ekonomi juga adalah persaingan budaya. Yang menentukan adalah kesiapan generasi muda apakah memiliki daya saing menghadapi kondisi saat ini. Revitalisasi ataupun revival nilai-nilai kebudayaan Minahasa adalah kunci untuk menghadapi masa sekarang dan masa yang akan datang. I yayat u santi!!!





[1] Disampaikan dalam kegiatan Dialog Budaya Minahasa Akhir Tahun di Langowan yang diselenggarakan oleh Kerukunan Warga Langoan (KWL) se-JABOTABEK pada 27 Desember 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar