halo aci!

halo aci!
Teater Ungu

Sabtu, 09 Februari 2013

MA’GULA


08.00 pm. Api menyala terang benderang dari gulungan kare’kes[1]. Langkah harus dipercepat karena pengelihatan kami bergantung pada nyala itu. Kare’kes adalah penerang alternative selain obor atau senter. Menyelami gelap malam kami bergegas pulang ke rumah dengan beberapa beban di pundak untuk keperluan sehari-hari di rumah. Begitulah kehidupan ma’gula[2]; bangun subuh dan harus pulang malam. Dalam membuat gula batu[3] (gula merah atau juga disebut gula aren) seseorang harus menjadi disiplin dalam kesehariannya. Oleh karena keterlambatan batifar[4] akan membuat tombal[5] menjadi upe’ atau saguer asam dan tak bisa lagi diolah menjadi gula batu. Bangun sekitar jam 05.00 am (bahkan kurang dari itu kalau daerah perkebunannya cukup jauh) langsung batifar sesudah itu semua sareng[6] yang berisi tombal dikumpulkan di pa’gulaang[7]. Satu pohon seho[8] bisa saja berjumlah dua sareng karena ada seho yang mayang[9]nya mesaru[10]. Kalau seho kemawaruang[11] biasanya menggunakan bulu taki[12] oleh karena jumlah tombalnya lebih banyak yang berbeda dengan seho longkay[13] yang hanya sedikit. Setelah seluruh sareng telah dikumpulkan maka harus juga diperiksa jangan sampai ada tombal yang kulewe’[14]. Tombal yang terlalu kental akan menyusahkan dan membuat proses pembuatan gula batu gagal. Dalam kepercayaan ma’gula tombal seperti itu telah dicicipi oleh makhluk halus seperti lo’lok[15]. Semua tombal disatukan dan direbus. Ketika mulai mendidih maka menjadi kewajiban bagi seorang ma’gula untuk merebus sareng. Ini dilakukan agar supaya sisa-sisa tombal tidak akan menjadi asam yang nantinya akan berpengaruh pada tombal berikutnya. Tacu[16] yang berukuran kecil harus menggunakan sangkor[17] untuk mencegah tombal terbuang karena sedang mendidih. Jumlah kayu sebagai bahan bakar harus dikontrol secara serius. Karena api sangat menentukan lajunya pengolahan. Ketika kondisi tombal telah berubah tahap ini disebut gula tare[18] maka jumlah kayu bakar akan dikurangi. Kemudian gula harus diaduk selama waktu yang cukup lama untuk memastikan kalau gula tersebut bisa membeku dalam tempurung. Kalau sudah dipastikan maka gula sudah siap palo[19] dan diisi dalam tempurung – biasanya membutuhkan waktu 5 jam untuk mengolah gula merah; jadi kalau dimasak pada jam 7 maka akan berakhir pada jam 11. Kemudian seorang ma’gula harus mencari, mengumpulkan, dan mengangkut kayu kering maupun mentah untuk keperluan pengolahan selanjutnya. Setelah itu pekerjaan yang tak kalah seringnya adalah me’bel[20] atau cuma mengiris pusu’ yang sudah ditebas pulinca’ (buah tandan pohon aren; yang biasa dibuat menjadi kolangkaling) muda yang menggantung diujung tandan[21]. Suatu kegiatan untuk mengolah tandan enau sebagai pengganti tanda yang tak lama lagi akan habis diolah. Kira-kira pukul 15.00 seorang ma’gula harus kembali ma’keet atau batifar di sore hari. Seperti kegiatan di pagi hari semua sareng di kumpulkan tetapi untuk sore hari tombal hanya dimasak sampai mendidih dan akan dilanjutkan besok hari disatukan dengan tombal pagi hari. Setelah itu baru bisa pulang ke rumah. Sungguh melelahkan.
Iswan Sual dan batu lesung di halaman SMP Raanan Baru
                Umumnya ma’gula pulang sekitar jam 6 sampai jam 7 tetapi kami sering lebih larut karena sesudah menyelesaikan pekerjaan membuat gula batu kami juga harus mengambil sayur dan memetik rica (cabai) untuk dimasak di rumah. Kami pulang diselimuti gelap malam, hujan, dan kadang diterangi cahaya bulan. Aku waktu itu berumur 8 tahun dan kakakku sudah masuk di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Kami sering mengeluh kedinginan dan langkah kami menjadi semakin lambat. Ketika mendengar keluh kami ayah berkata “bagitu reen tu mo jadi tentara, nda cocok reen mo jadi tentara”. Dia kemudian mempercepat langkahnya, mengangkat kare’kes yang menyala, dan mengajak kami berlari layaknya seorang komandan di kesatuan. Kami berlari bersama dan tertawa terpingkal-pingkal sehingga tak lagi merasakan hawa dingin di malam itu. Ternyata itu taktik ayahku supaya kami melupakan kedinginan dan berlari membuat gerak sehingga badan menjadi hangat. Kadang dalam perjalanan dia menceritakan tentang hantu bernama songko’ sehingga kami menjadi was-was dan melupakan juga kedinginan di malam itu. Atau dia akan mulai bernyanyi lagu yang mirip sebuat pantun, mengalami repetisi dan resonansi.

                tente lemi lemi pitola pitola tol tila tidu toldu

Ayahku memang gemar bercerita tentang masa lalu. Kadang dia menceritakan tentang semangat perjuangan Indonesia melawan Belanda dan menirukan pidato-pidato Soekarno. Atau bercerita tentang zaman penjajahan Jepang di mana masyarakat didik ketika bekerja dalam mapalus untuk menyanyikan lagu Jepang.

                “eiki no seigi
 sura asuto...
                 Ibo owa odoro
                 Oiyasima
                 O o…”

Jenis kendaraan yang mengantar anak sekolah di desa Lalumpe
Setelah selesai menyanyikan lagu itu kami pun kembali tertawa terpingkal-pingkal. Tak lama kemudian kami akan berada di bukit dan biasanya kami akan berebut untuk menebak kalau di desa listrik menyala atau padam. Di bukit ini cahaya dari desa akan terlihat dan kami harus membedakan cahaya lampu listrik dan lampu botol atau lampu gas. Kadang aku bertaruh dengan kakakku. Jika tebakannya benar maka dia akan meminta sesuatu padaku dan juga sebaliknya. Sesampai di rumah kami meletakan beban dan aku dan kakaku berebut pergi ke mata air atau pancuran untuk mandi. Kami sering saling mendorong dan bermain-main sampai salah satu orang tua datang tumondong[22] dan memarahi kami agar cepat pulang. Setelah mengenakan pakaian kami disuruh untuk makan kalau listrik menyalah maka kami akan makan sambil menonton. Kalau tidak maka kami akan langsung ke tempat tidur dan bertukar cerita lucu atau dongeng. Kami tidur pulas.
04.00 am. Suasana rumah menjadi ribut. Ibukku mempersiapkan bekal kami di dapur. Kakakku membangunkanku sambil menyuruh mempersiapkan diri. Mengenakan baju kebun dan mengatakan alat-alat apa saja yang harus ku bawa, kadang aku disuruh membawa bekal makanan. Aku berjalan dengan mata sedikit tertutup dan rasa kantuk yang sangat. Kami berjalan menyusuri dingin dan gelap pagi hari ditemani kicauan burung dan ayam berkokok menyambut matahari terbit. Di tengah jalan ayahku memberi tahu nama-nama burung berdasarkan kicauan mereka; ini juga dilakukannya ketika dalam perjalanan malam hari. Ada burung manguni[23], kekek[24], ma’beris[25], tintis, sokope, dan lain sebagainya. Kadang juga ayahku menceritakan mitos yang dilekatkan pada burung-burung itu. Aku lebih bersemangat berjalan di pagi hari karena selalu terbayang akan kenikmatan tombal pagi yang selalu diiming-imingi oleh ayah kepadaku. Itulah cerita di masa libur sekolah bersama ayah dan kakakku.



[1] Daun pohon kelapa yang sudah kering.
[2] Orang yang mengolah gula batu.
[3] Gula batu biasanya berukuran lebih besar daripada gula ecer.
[4] Kegiatan memanjat pohon seho, menurunkan sareng, membuat beberapa irisan pada pusu’ atau tandan seho. Ada juga istilah lain yang digunakan seperti kemeet. Pohon enau yang sedang diolah disebut pa’keetang.
[5] Air nira yang dihasilkan dari pohon enau yang juga bisa diolah menjadi cap tikus.
[6] Tempat atau wadah penampung tombal yang biasanya terbuat dari bambu.
[7] Sering juga disebut porno yaitu tempat untuk memasak gula batu.
[8] Pohon aren atau enau.
[9] Tandan seho yang belum diolah atau dikerjakan.
[10] Memiliki tandan kembar.
[11] Pohon enau yang belum atau baru pertama kali diolah atau dikerjakan.
[12] Jenis bambu yang berukuran besar.
[13] Pohon enau yang sudah beberapa kali diolah atau dikerjakan.
[14] Kental seperti air liur.
[15] Makhluk halus dengan perawakan pendek, berkulit putih, berambut panjang terurai sampai ke tanah dan berwarna merah. Wajahnya cantik/tampan.
[16] Sering juga disebut kuali yaitu semacam tempat menggoreng.
[17] Ada yang terbuat dari drum ada juga yang terbuat dari kulit kayu walimpuket. Berbentuk lingkaran kosong tengah dan memliki tinggi sekitar  50 cm bahkan lebih.
[18] Jika kita mencelupkan kayu atau sesuatu dan mengangkatnya kembali maka gula akan menetes membetuk seperti benang-benang yang melayang ditiup angin. Sebelum tahap ini juga kondisinya disebut gula aer di mana tombal bening berubah menjadi warna merah.
[19] Memindahkan gula dari tacu ke dalam tempurung yang telah dibelah dan biasanya dalam ukuran yang besar.
[20] Kegiatan menepuk tandan enau selama sekitar 15 menit dan menggoyang-goyangkannya dalam hitungan sampai seratus bahkan lebih ataupun kurang.
[21] Biasanya membutuhkan beberapa hari untuk menebas ujung tandan yang menggantung tetapi ada juga yang bereksperimen dengan wantitjeng. Mereka menebas ujung tandan yang menggantung sampai setengah tandan dan menyelipkan gomutu (serabut yang menyelimuti pohon enau).
[22] Menjemput atau mencari keberadaan seseorang.
[23] Burung yang identik dengan angka 9 dan memiliki nama lain seperti wala in endo atau wala im bengi. Dalam mitologi Minahasa juga disebut koko’ i apo Mamarimbing. Burung ini menjadi icon bangsa Minahasa.
[24] Burung malam yang konon katanya dipakai sebagai mata-mata para dukun atau hantu/setan.
[25] Burung yang selalu dipakai oleh hantu/setan atau seorang dukun untuk mencelakai wanita hamil atau orang yang dibencinya.

2 komentar:

  1. Ulasan yang menarik, membawa saya seperti berada dalam situasi sementara Ma'gula.....

    BalasHapus
  2. ini sedikitnya adalah gambaran tentang petani gula dalam kesehariaannya...kerja keras dan jam kerja yang panjang tetapi kemudian kadang harga gula sering dipermainkan oleh para kapitalis komersil...

    BalasHapus