halo aci!

halo aci!
Teater Ungu

Rabu, 16 Januari 2013

KALIYE


(Permainan rakyat Tondei sampai tahun 1990-an)
Kaliye adalah permainan rakyat tradisional yang bertujuan hanya sebagai hiburan semata. Oleh karena itu permainan ini akhirnya termarjinalisasi hanya untuk kalangan anak-anak (offspring) – khususnya anak laki-laki. Usia lima sampai empat belas tahun sangat tertarik pada jenis permainan ini. Ini adalah salah satu jenis mainan musiman anak-anak selain kuda-kuda, lulutau (leletau), plinggir, gambaran, skiping, dan lain sebagainya.
Permainan ini terdiri dari manusia (orang), kaliye; terbuat dari  tampurung (cangkang kelapa) yang dibentuk menyerupai segitiga – tetapi bentuknya bisa bervariasi sesuai dengan kemaunan pembuatnya -, dan permentek; terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai alat pemukul (stick) kaliye. Adapun istilah yang dikenal dalam permainan ini yaitu kaliber; jika kaliye dipukul dari garis star dan langsung mengena pada kaliye yang ditanam di tanah, verlak; ini adalah izin kepada pemain yang merasa kondisi tanah tidak memungkinkan untuk memukul kaliye dan meminta untuk memindahkannya di garis star kembali, dan puntel; jika kaliye itu nyasar dan mengena pada seseorang. Dalam hal ini ada juga istilah lef ketika kaliye mengena pada seseorang maka dari kelompok yang sedang bertanding akan berebutan mengujar kata "lef!". Kelompok yang lebih dulu menyerukan kata itu berhak untuk meenempatkan posisi kaliye di mana pun mereka suka. Ada juga istilah untuk menunjukkan kualitas kaliye seperti ta'teles di mana kaliye tersebut melayang tinggi dan ta'tena bila selalu mengenai sasaran.
Kaliye adalah permainan yang melibatkan dua orang atau lebih; biasanya permainan ini dilakukan oleh dua kelompok yang kurang lebih masing-masing memiliki lima anggota. Biasanya untuk menentukan kelompok mana yang lebih dulu memulai akan diadakan ces kaliye yang dilakukan oleh perwakilan dari masing-masing kelompok. Ces kaliye semacam undi atau lempar koin untuk menentukan pihak yang lebih dahulu menguasai permainan. Ces kaliye juga dilakukan untuk menentukan orang-orang yang tergabung dalam satu kelompok. Setiap orang berpasangan untuk melakukan ces kaliye jika kaliyenya terbuka maka dia harus bergabung dengan orang yang juga memiliki kaliye terbuka dan juga sebaliknya.
Jika setiap kelompok anggotanya berjumlah lima orang maka ada lima kaliye yang ditanam berbanjar di atas tanah. Kemudian kelompok yang lainnya akan berembuk untuk membagi sasarannya masing-masing (kaliye lawan harus ditumbangkan). Permainan ini akan berakhir sesuai kesepakatan dari dua bela pihak mengenai jumlah akhirnya. Biasanya  permainan ini menggunakan kelipatan seratus. Setiap kelompok akan berusaha mencapai jumlah yang telah disepakati; misalnya dinyatakan gem spuluh ribu. Jika dari garis star langsung mengena sasaran (kaliber) maka itu dihitung lima ratus. Tetapi jika dari garis star belum mengena dan dilanjutkan sampai mengena pada kaliye lawan maka dihitung seratus. Kalau menggunakan verlak maka walaupun dari garis star langsung mengena sasaran tetap hitungannya seratus. Ketika salah seorang anggota kelompok gagal menumbangkan sasarannya dengan begitu permainan akan berganti pada pihak lawan kelompok.
Biasanya anak-anak ketika tidak puas dengan hasil permainan ini akan mengundang lawan mainnya untuk bakupica kaliye – karena kelompok yang kalah masing-masing akan menggendong lawannya sambil berlari sampai lima kali bolak-balik. Ini untuk membuktikan kaliye siapa yang paling tebal dan tahan cangkang kelapanya. Mereka juga menggunakan ces kaliye untuk menentukan siapa yang akan memulai. Jarak kaliye yang di tanam di atas tanah dengan kaliye satunya kira-kira 3 cm. Anak-anak biasanya membuat kaliye dari tampurung yang difufu[1] tetapi dari tampurung yang hanya dicukur isinya saja.


[1] Cangkang kepala yang telah diasapi (fufu) dalam pembuatan kopra. Cangkang yang sudah diasapi ini biasanya akan mudah rapuh atau terbela.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar