Pierre Moret di Watu Lutau Tondei |
“Bangsa
Eropa datang dengan dalih membawa peradaban dan demokrasi. Bangsa kalian telah
beradab jauh sebelum penetrasi kolonialis. Kampanye demokrasi dari eropa dan
negara-negara kapitalis adalah ironi karena justru mereka mendukung
pemerintahan diktator di beberapa negara”. Pierre Moret
26 Februari. Saya, Bung Frits, Iswan Sual, dan Yanli Sengkey menunggu
di Bandara Internasional Sam Ratulangi kurang lebih dua jam. Menunggu Pierre
Moret dari Prancis. Ini pertama kali kunjungannya di Minahasa jadi ada rasa
was-was bagaimana membuat kesan ketika bertemu untuk pertama kalinya. Bagi
orang timur etika menjamu tamu sangat sensitive karena mungkin tradisi orang
timur yang religious. Selang beberapa saat setelah menerka-nerka ada pesawat
yang baru saja tinggal landas kami mengamati seluruh sudut bandara dan akhirnya
berpapasan dengan sosok manusia yang ubanan, jangkung, dan bergaya turis. Kami
menghampirinya dan setelah saling menyapa diputuskan untuk mencari tempat makan
malam terlebih dahulu. Dalam perjalanan, di dalam mobil kami berusaha
mengakrabkan diri. Pierre mengatakan bahwa dia bisa berbicara dalam beberapa
bahasa dan menceritakan perjalanannya di Jawa, Makasar, dan Toraja. Makan malam
akhirya di Wisata Bahari, sebuah restoran elit yang menghabiskan delapan ratus
ribu rupiah hanya untuk enam orang walaupun makanan yang kami pesan hanya
sedikit dan sederhana. Kami juga mendiskusikan agar turis Prancis yang terlibat
dalam gerakan kiri ini bisa menjadi pembicara dalam diskusi dengan mahasiswa.
Setelah selesai kami mencarikan penginapan dan sesudah itu sayadan Yanli tidur
di rumahnya Bung Frits.
01 Maret. Pierre dan Iswan datang di sekretariat LMND Minahasa
dengan menggunakan sepeda motor. Orang-orang yang ada di sekretariat kaget
dengan kunjungan mendadak ini. Setelah mendapat suguhan kopi Pierre
mengutarakan keheranannya dengan apa yang dia lihat sepanjang di atas sepeda
motor. Dia heran kenapa terlalu banyak gereja yang dibangun dan bukannya
sekolah atau rumah sakit. Menurutnya itu masih lebih baik daripada membangun
terlalu banyak gereja.
02 Maret. Saya, Yubu, Marxis, Junaidi Rawis (yang disebut Pierre
sebagai Ho Chi Minh), Dina Mondong (yang disebut Pierre sebagai Chinesse girl),
Iswan, Jonathan Worotitjan, dan Michael Tular berjalan kaki dari terminal
Tomohon sampai puncak Gunung Mahawu. Melelahkan tetapi setidaknya ini memupuk
kebersamaan dan kedekatan. Kawah dan pemandangan tanah Minahasa memberi
kesejukan dan mengobati rasa lelah. Banyak pendaki gunung menganggap bahwa
mencapai puncak gunung adalah suatu penaklukan terhadap gunung itu. Sebenarnya
kita yang menaklukkan gunung atau gunung yang menaklukkan kita. Saya kira itu
soal sensasi saja. Ketika mencapai puncak kami bertemu beberapa kenalan lama
dan juga ada turis Prancis yang sempat terlibat pembicaraan dengan Pierre.Tak
lama kami memutuskan untuk turun ke kota dan mencari tempat makan dan warung
kopi. Di warung kopi kami berdiskusi panjang tentang masalah sosial.
04 Maret. Saya bangun kira-kira pukul 09.00 dan mengajak beberapa
kawan untuk mempersiapkan ruangan diskusi. Sementara kami mempersiapkan ruang
tiba-tiba Pierre dan Iswan masuk dalam ruangan. Sambil tersenyum mereka menyapa
kami. Saya sendiri terperangah dengan kedatangan mereka yang terlalu cepat.
Padahal diskusi dijadwalkan dimulai pukul 11.00 sesuai dengan undangan yang
telah di-share via facebook. Denni Pinontoan, Fredy Wowor,
Hendra Mokorowu, dan Kalfein Wuisan (tamu khusus dari Mawale Movement) tiba
setengah jam sesudah itu. Dengan kedatangan mereka yang dini maka diskusi
tentang peradaban ini pun dimulai tepat waktu. Iswan bertugas sebagai moderator
dan interpreter. Fredy dan Denni memberikan pengantar diskusi dengan memaparkan
peradaban Minahasa. Setelah itu Pierre menanggapinya dengan menganalisa dan
memberikan komentar kritis tentang isu sejarah ketika penetrasi Eropa di
Indonesia. Diskusi berlangsung sampai lima jam. Tetapi karena situasi diskusi
yang aktif maka walau berjam-jam pun tak terasa dan keinginan untuk
berpartisipasi tetap ada. Setelah selesai diskusi kami diundang untuk makan di
kafe Dharma Wanita FBS UNIMA oleh dekan. Di sini pun diskusi berlanjut sekitar
tiga jam. Ketika hari hampir gelap kami mengundang Pierre untuk mengunjungi
sekretariat S. S. Tolu melihat ornamen dan hal-hal yang berkaitan dengan
kebudayaan Minahasa. Setelah itu dilanjutkan menikmati secangkir kopi di
sekrtariat LMND Minahasa.
05 Maret. 10.00 kami (Jonathan, Satriano Pangkey, Septian Paat,
Jun, Alpon, Epeng, dan saya) menjemput Pierre dan Iswan di Highland Resort
Tomohon. Hari ini kami berencana mengunjungi situs-situs budaya yang ada di
Minahasa tetapi Pierre lebih memprioritaskan kunjungan ke Tondei – karena
kebetulan juga di sana ada situs budaya. Ada yang menarik dalam perjalanan hari
ini. Pierre memberikan sumbangan sebesar Rp 2000 untuk kantin pengumpulan dana
yang biasanya ada di pinggir jalan. Tetapi dia tidak tahu untuk apa sebenarnya
sumbangan itu. Setelah seratus kilometer mobil kami menjauh dia bertanya
sumbungan itu akan digunakan untuk apa. Iswan mengatakan padanya bahwa itu
untuk membangun gereja. Pierre sungguh menyesal memberikannya karena dia
berpikir lebih baik itu untuk biaya sekolah atau rumah sakit. Di pelabuhan Amurang
kami sempat singgah membeli beberapa ikan segar dan mengambil beberapa foto.
Ketika sampai di Tondei kami mempersiapkan makan siang sebelum berjalan ke
situs budaya (Batu Lutau). Waktu makan siang ada juga yang menarik ketika ayah
berbicara dengan Pierre menggunakan bahasa Tountemboan yang sama sekali tidak
dimengerti oleh orang Prancis ini. Hal yang sama juga terjadi ketika kami
berjalan melintasi desa dan bertemu dengan tokoh masyarakat (Lumapouw), dia
berbicara dengan Pierre menggunakan bahasa Tuontemboan. Sungguh percakapan yang
tak biasa ketika dua orang berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda dan tak
saling mengerti. Tetapi keduanya tertawa. Mungkin ini pengaruh perjumpaan
pertama bagi orang Tondei dan Prancis di dekat Batu Lutau. Hari ini adalah hari
terakhir kami bersama dengan Pierre karena besoknya dia akan kembali ke Prancis
tetapi karena terkesan dengan situasi di Minahasa dia berjanji akan datang lagi
tahun depan.