halo aci!

halo aci!
Teater Ungu

Jumat, 16 Mei 2014

WALA


Sebuah naskah monolog

Saya ingin bercerita tentang berbagai kehidupan di dunia yang mungkin sulit untuk anda pahami atau walaupun anda pahami itu tidak akan merubah pandangan anda. Pengalaman ketika saya berbicara tentang kehidupan, saya selalu ditolak. Tetapi begitulah nasib semua orang yang berbicara tentang kehidupan mereka selalu ditolak. Kita harus menjadi penipu untuk bisa hidup. Itu namanya adaptasi. Siapa yang tak mampu beradaptasi maka dia tak bisa hidup. Jadi, beradaptasilah dengan hidup.
Apakah kau ingin mendengarkan ceritaku? Baiklah. Suatu hari aku bertemu dengan seseorang yang kira-kira berumur 30 tahun di sebuah warung kopi. Awalnya dia yang menyapaku dengan ramah. Waktu itu aku sebenarnya tak suka menyapa orang yang kelihatan tak penting; maklum aku selalu bergaul dengan orang elit. Jadi, aku selalu memilih teman yang tepat supaya juga terlihat cukup elit. Gaya sangat penting bagiku. Aku selalu memberi kesan menarik pada orang-orang yang baru ku temui setidaknya itu menjadi perangkap awal. Apalagi untuk wanita, kesan pertama itu adalah perangkap bagi mereka. Tampil apa adanya itu adalah tindakan orang bodoh. Kita harus menjebak wanita pada kesan-kesan pertama. Setelah mereka menyadari siapa kita sebenarnya buatlah itu pada saat yang sudah terlambat.
Baik, akau akan melanjutkan ceritaku. Orang yang ku temui di warung kopi itu bernama Aslan…ah bukan! Arlan…emn, mungkin Abram, ya, Abram. Dia kelihatan tak bahagia dalam hidupnya. Itu kesimpulan sementara yang ku ambil sebelum mengetahui namanya. Tetapi ternyata itu benar. Hari itu Minggu. Aku tanya “mengapa kau tak ke gereja?” dia menjawab “aku tak punya cukup uang untuk menyogok Tuhan supaya tutup mulut atas semua dosa-dosaku”. Saya pikir jawaban ini cukup gila untuk orang yang baru ku kenal. Dia menceritakan kisah hidupnya hampir tak menarik nafas sedikit pun. Tapi aku kadang-kadang menyela memberikan pertanyaan dan setidaknya memberikan kesempatan padanya untuk bernapas. Dari cara bicaranya dia sungguh orang terpelajar tetapi menurutku kekurangan terbesarnya adalah cara berpakaiannya. Seperti kataku tadi bahwa gaya itu sangat penting. Gaya bisa memberi citra hiperbolis atas diri kita.
Orang itu sebenarnya bisa diterima menjadi pegawai perkantoran atau perusahan besar. Tetapi menurut ceritanya dia bisa saja mendapatkan pekerjaan dan jabatan-jabatan tinggi tetapi itu bertentangan dengan prisnsip hidupnya. “orang jujur selalu terasing dalam hidupnya” itulah salah satu kalimat yang cukup menarik perhatian telingaku dari orang itu. Menurut orang itu penipuan ada dua jenis yaitu menipu orang lain dan menipu diri sendiri. Kedua hal itu bisa dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar. Baginya dalam kehidupan normal orang menipu orang lain dan dirinya sendiri. Orang yang sadar akan kejujuran akan memilih untuk tidak hidup dalam dunia orang-orang normal. Dia lebih memilih hidup sendiri atau hidup dengan hewan dan benda-benda mati lainnya yang bisa diajak berkomunikasi dalam diam.
Saya kira anda telah bosan mendengarkan cerita saya. Memang umumnya orang lebih tertarik bicara soal dirinya, seks, keuntungan, kejelekan, keburukan orang lain atau semacam gossip daripada soal kebenaran. Hal yang saya maksud adalah berbicara soal apa yang harus dan tidak harus kita lakukan. Dari sekian banyak orang yang hadir di sini mungkin Cuma dua yang suka bicara soal kebenaran. Yang lainnya lebih suka dengan gaya rambut, jenis pakaian, dan kesenangan-kesenangan sesaat lainnya.
Bagaimana kalau kita ganti topic pembicaraan? Anda setuju? Anda tak harus menjawab karena ini naskah monolog. Saya akan bicara sampai pada akhirnya. Saya akan menjadi seperti tukang pidato atau pembawa wahyu yang tak bisa diinterupsi. Saya akan membawakan narasi kebenaran monolog. Saya kira tidak semuanya anda akan setujui. Tetapi itulah aturannya, narasi monolog tak bisa diinterupsi dan kebenarannya adalah mutlak. Jika anda tidak menyetujuinya saya kira saya bernasib sama dengan para pendeta Kristen yang selalu mendapat umpatan dalam hati dari jemaatnya. Tapi sudahlah kebenaran juga sangat relative.
Suatu hari ada sebuah ular yang ingin melewati seekor sungai. Ular kebingungan untuk melewati sungai itu. Tapi tiba-tiba sungai itu berkata “jangan habiskan waktumu dengan mempertimbangkan segala konsekuensi. Yang terpenting bagimu adalah bisa menjalani kehidupan dan menggapai tujuan”. Saya pikir dalam fable ini ada pesan moralnya. Kita manusia memang kadang terbendung dengan ramalan akan kegagalan dalam mengambil langkah. Kita terlalu takut untuk menerima kegagalan dan mendapat malu. Manusia memang bisa disebut makhluk ide dan makhluk materi. Tapi ada yang didominasi ide dan ada juga yang didominasi oleh materi. Tergantung. Ide mengkritik materi dan materi mengkritik ide. Sebenarnya ketika materi mati ide juga ikut mati dan juga sebaliknya.
(tertawa) kita sementara terjebak dalam alam berpikir rumit. Mari kita tinggalkan itu dan menghisap sebatang rokok. Rokok secara medis merugikan kesehatan tetapi dia memenuhi kebutuhan manusia yang paling urgent yaitu : gaya. Hampir semua orang yang belajar merokok bukan karena tuntutan kebutuhan biologis tetapi ingin bebas bergaya. Merokok bagi para remaja adalah gambaran kebebasan dari kekangan orang tua dan bukti dari keberanian mendobrak moral. Jika ada anak anda yang berusia di atas empat belas tahun jangan percaya kalu dia belum pernah menyentuh alcohol dan rokok atau setidaknya pernah terlintas dipikiran mereka untuk mencoba-coba. Itu biasanya atas dorongan teman sejawat atau keinginan mengidentifikasikan diri dengan orang dewasa. Tapi tak usah kita bicara panjang lebar tentang itu karena anak anda adalah urusan anda. Oleh karena anak selalu dijadikan budak dan barang bagi orang tua. Mereka menganggap anak adalah ciptaan mereka sehingga mereka berhak seutuhnya untuk menentukan jalan kehidupannya. Mungkin mirip juga dengan Tuhan yang merasa berhak menentukan kehidupan manusia karena dia yang menciptakannya.
Bagaimana kalau kita bicara soal seks saja? Karena seks selalu menjadi wacana paling menarik dan hal yang menarik kedua adalah membicarakan keburukan orang lain. Dua hal ini membuat kita lebih semangat dan lebih aktif untuk berdiskusi. Beda halnya dengan politik atau filsafat, dua hal ini membuat kita bosan dan mengantuk pada kalimat keempat. Seks dan keinginan menghancurkan orang lain adalah naluri sementara politik dan filsafat adalah pemaksaan dalam system social. Keinginan kita untuk berkelamin dan mendominasi orang lain lebih kentara daripada keinginan untuk belajar bagaimana merubah dunia dari kekacauan menjadi lebih beradab. Nampaknya kebiadaban selalu menjadi mayoritas dalam masyarakat. (tertawa)
Dengarkan, aku punya puisi
Ibu aku telah kembali
Tetapi aku bukan anakmu lagi
Aku kini terlahir dari dusta dan kemunafikan
Aku telah menjadi budak dosa
Dan ini adalah kehidupan normal kata mereka
Kegilaan dan peradaban memang sulit dipisahkan. Menurut para filsuf gerak alam semesta menuju kebahagiaan tetapi nampaknya tidak begitu. Dunia kini telah menuju pada kegilaan. Kegilaan telah menjadi tren masa kini. Yang laku terjual adalah hal-hal yang gila. Sekarang ini tidak gila berarti tidak ada. Semua hal dituntut harus menjadi gila. Mungkin kegilaan adalah kebahagian juga.
Ibuku telah menyesal melahirkan aku karena aku tak sesuai dengan harapannya ayahku juga marah-marah karena aku tak mampu mewujudkan cita-citanya. Orang tua kita ketika berkelamin harapan mereka yang paling segera adalah enjakulasi. Menikmati sensasi-sensasi dari persenggamaan. Tetapi harapan mereka selanjutnya adalah terjadinya proses pembuahan yang berubah menjadi fetus sampai akhirnya menjadi bayi. Bayi itu akan menjadi mainan mereka selama beberapa bulan dan ketika mainan itu mulai nakal maka mereka akan menyiksanya. Setelah itu mereka akan menuliskan takdir untuk mainan itu bahwa di masa depan dia harus menjadi sesuai dengan keinginan penciptanya. Tuhan menciptakan manusia dan menjadikan mereka mainan di Eden dan ketika mereka nakal maka dia menyiksa mereka. Selanjutnya dia membuat takdir bagi mainan yang nakal ini sesuai dengan apa yang dia kehendaki. Maaf…aku salah bicara. Aku tak bermaksud mengganggu iman percaya kalian. Walaupun aku tahu iman yang kalian miliki hanyalah sebentuk fanatisme dan solidaritas religius.
Aku lupa bahwa aku harusnya bicara soal seks. Seks itu naluriah yang diselimuti kemunafikan moralitas. Memang bicara soal seks itu tabu tetapi itu hanya ketika kita membicarakannya di ruang terbuka yang dihadiri oleh beberapa tingkatan usia. Kalau kita bicara soal seks hanya berduaan terlepas apakah itu dengan pacar, istri, atau suami kita atau juga dengan pacar, istri, atau suami orang lain maka seks itu bebas dieksplorasi secara wacana maupun fisiknya. Jika seks itu adalah kebutuhan maka para pemerkosa dan mereka yang suka selingkuh akan membuat pembenaran diri. Kita mengkritik soal seksualitas tetapi kita sering melakukan onani dan oral seks begitu rajinnya. Jika seks itu jahat mengapa taka da undang-undang untuk masturbasi? (tertawa)
Karena seks adalah kebutuhan maka seks telah menjadi komoditas yang dijual di pasar-pasar. Banyak orang yang jualan seks sekarang ini. Komoditas yang paling laku sekarang ini adalah seks. Harganya akan makin tinggi ketika keadaan moralitas di tempat itu naik. Ketika akses untuk mendapatkan seks menjadi sulit maka harganya akan semakin naik. Jualan seks di negara yang moralitasnya tinggi memang sangat menguntungkan karena konsumennya terdiri dari berbagai kalangan. Yang paling untung adalah jualan seks pada pejabat-pejabat. Walaupun mereka menyicil tetapi jumlah uangnya sangat besar dan terpercaya karena mereka memiliki gaji tetap dan tabungan hamper di semua bank. Apakah anda ingin menjadi pedagang seks? Sistemnya adalah mitra kerja. Jika anda mampu mendapatkan pelanggan dan pelanggan ini juga mampu menjaring pelanggan lain maka dengan begitu terjadi pelipatgandaan yang sangat cepat. Usaha kita ini terjamin karena hukum konvensional melindungi kita.
Semua pekerjaan memiliki risiko. Itu yang harus anda pahami. Jualan seks juga beresiko. Tapi kerja ini enak kita bisa mencoba produk ini satu persatu untuk memastikan kualitasnya. Segel tidak terlalu penting karena hanya sedikit saja konsumen yang menginginkan produk ini disegel. Produk ini unik karena kita tak memerlukan berbagai bahan pengawet karena dia bisa mengawetkan dirinya ketika telah berinteraksi dengan konsumennya. Konsumennya pasti akan memberikan biaya perawatan khusus untuk produk itu. Jadi distributor seperti kita akan menerima hasil penjualan dengan bersih. Produk ini begitu uniknya sehingga bisa digunakan beberapa kali pakai dalam jangka waktu yang lama. Yang sangat menguntungkan dalam perdagangan produk ini adalah sebelum masa batas penggunaannya kita bisa membuat produk ini menggandakan dirinya dan hasil dari penggandaan dirinya kita bisa gunakan lagi untuk berdagang. Asyik kan?
Baiklah ini profil usaha itu (membagikan brosur produk seks). Bapak ibu sekalian jangan ragu-ragu untuk usaha ini. Jika bapak ibu sekalian mempunyai anak gadis di rumah coba diselidiki jangan sampai dia adalah salah satu komoditas yang saya perdagangkan. Karena terus terang saja yang banyak anak gadis yang datang pada saya dan menjadi produk saya secara sukarela. Mereka banyak mengeluh bahwa orang tua mereka tidak dapat memberi uang jajan yang cukup bagi mereka untuk berdandan dan membeli produk-produk elektronik terkini. Daripada juga mereka dijual di pasar murah seperti taman dan pada supir-supir angkot lebih baik saya jual mereka ke pejabat-pejabat tinggi. Ada juga istri-istri muda yang datang pada saya mengeluh suami mereka yang kurang rajin memenuhi kebutuhan hidup. Istri-istri ini sungguh ingin kembali ke masa-masa berjaya mereka. Maklum, di masa mereka Berjaya belum ada pelurus dan pelembut rambut dan mereka hanya bisa berkomunikasi dengan pacar melalui surat manual yang ditulis di atas kertas. Hari ini teknologi digital membuat mereka menyesal telah terlahir di zaman yang begitu kuno. Jadi mereka mengkomodifikasikan kemaluan mereka untuk bisa menikmati masa kini yang penuh dengan fashion.
Saat ini saya akan memperkenalkan orang yang berhasil berdagang seks. Saya panggilkan. Inilah dia Mr. Prodio. Inilah dia bapak ibu sekalian orang yang dulunya selalu ngompol di tempat tidur di masa kecilnya kini tak bisa lagi ngompol karena dia mengalami penyakit kelamin yang serius. (tertawa). Itu hanya lelucon. Orang ini dulunya hanya seorang supir truk tetapi sejak dia menjadi mitra kerja kami maka semua berubah dalam hidupnya. Dia bisa membelikan perhiasan untuk istrinya, memberi jajan untuk anak-anaknya dan dia pokoknya telah mewujudkan keluarga yang bahagia. Dia tak takut lagi dengan tagihan harian dan bulanan. Anaknya tak lagi mengeluh diejek karena tak memiliki produk masa kini dan kini anaknya bisa bergabung dengan perkumpulan elit anak muda. Bayangkan kehdiupannya yang dulu dan saat ini. Ini berkat jualan seks. (memberi isyarat pada Mr. Prodio untuk meninggalkan panggung). Anaknya mungkin kemudian hari juga akan menjadi produk unggulan kami.
Nah, sekarang jika anda tertarik untuk perdagangan seks maka saya akan meninggalkan nomor telepon saya. Hati-hati sekarng ini banyak penipuan lewat SMS. Pastikan anda mendapat nomor telepon saya yang benar. Jadi urusan kita di sini sudah selesai. Saya akan pergi karena ada juga banyak orang yang menunggu saya untuk membawakan ceramah tentang bagaimana melejitkan potensi diri untuk menjadi pengusaha seks yang sukses. Demikian. Saya ucapkan terima kasih dan satu hal terakhir; ingat! Seks adalah kebutuhan…

(keluar sambil membagikan kartu nama dan brosur)

KONDISI WACANA DALAM KAPITALISME


(Sebuah konstruksi terhadap gerakan sosial)
       I.            PENDAHULUAN
Wacana (discourse) adalah serangkaian gambaran tentang sesuatu yang bisa dilihat dari berbagai perspektif. Peristiwa, gejala, masalah, terutama yang berkaitan dengan kehidupan manusia akan menjadi bahan pembicaraan ataupun dielaborasi menjadi catatan-catatan baik dalam bentuk ilmiah ataupun yang lainnya. Hakikatnya wacana merepresentasikan sesuatu yang bisa dijangkau oleh akal. Dalam semiotika wacana masuk dalam kategori teks atau juga tanda (sign). Dengan demikian wacana juga tak luput dari persoalan interpretasi yang beragam. Oleh karena bermacam revolusi yang terjadi akhirnya sampai pada masa di mana manusia secara individual ikut berpatisipasi dalam menginterpretasi lingkungannya.
Wacana tentunya adalah keseluruhan realitas yang mewujud dalam lingkup interaksi social. Dia memuat segala hal yang tercerap oleh indera dan konstruksi persepsi atau interpretasi terhadap realitas. Setiap masalah dalam peradaban manusia yang telah mencapai kesadaran social, kesadaran akan keterkaitan satu sama lain, akan dielaborasi dan ditampilkan dalam bentuk tulisan (writing) atau secara lisan (speech). Pidato, khotbah, pengajaran, buku, lukisan, dan segala tanda yang memuat soal wacana. Artinya kita di sini mendapati bahwa elaborasi wacana tidak hanya dalam bentuk lisan atau tulisan saja karena bahkan ada juga yang merupakan percampuran seperti lukisan, pentas teater, potret, dll.
Menghadirkan wacana yang telah dielaborasi adalah usaha untuk memberi pengertian kepada masyarakat soal realitas. Para nabi membuat nubuatan dan berkhotbah adalah tindakan mengangkat persoalan-persoalan social yang kemudian dievaluasi dengan tujuan membuat keteraturan di dalam masyarakat itu sendiri. Mereka juga menulis kitab-kitab untuk dijadikan pedoman masyarakat dalam kehidupan. Para filsuf juga mengelaborasi wacana untuk membebaskan masyarakat dari mitos-mitos. Sampai pada para ilmuan yang membuat penemuan untuk meningkatkan kualitas hidup umat manusia. Seniman dan sastrawan menciptakan tanda-tanda juga memiliki tujuan yang tergambar dalam karya-karya mereka. Tentunya deskripsi masalah bertujuan untuk mengevaluasi dan mengubah keadaan.
Dalam konteks masyarakat kapitalistik wacana akan teralienasi dari esensinya. Kehadiran wacana akan bertujuan ganda yang pertama adalah memberi informasi soal realitas dan yang kedua adalah soal keuntungan. Dari tujuan yang ganda itu yang kedua adalah prioritas dalam masyarakat modern. Wacana menjadi komoditas yang memiliki nilai ganda, sebagaimana juga yang diungkapkan oleh Marx, yaitu nilai informative (nilai guna) dan nilai tukar. Dalam kenyataannya nilai informative ini tak bisa dikonsumsi tanpa terlebih dahulu membeli nilai tukarnya. Inilah soal yang saya maksud dengan komodifikasi wacana. Wacana yang dulunya tidak untuk dijual ketika dia masuk dalam system social kapitalistik berubah menjadi komoditas; komodifikasi. Mengkonsumsi wacana  hari ini akan diikuti oleh kegiatan ekonomi di mana terjadi transaksi jual beli.
Kapitalisme mengubah masyarakat menjadi ‘manusia ekonomis’ yang selalu melihat segala hal yang berpotensi menguntungkan untuk dijual; wacana salah satunya. Sebelumnya wacana yang notabene diproduksi oleh kaum intelektual untuk tujuan seperti perbaikan masalah sosial atau pengembangan kualitas hidup tidak untuk diperjualbelikan. Tetapi bersama kapitalisme kaum intelektual akan menjadi partner bisnis yang baik[1]. Bukankah dalam lembaga-lembaga pendidikan wacana telah dijual dalam paket strata yang nilai tukarnya bervariasi. Sehingga dalam diskusi dengan orang-orang berhaluan kiri mereka menyatakan bahwa pendidikan hari ini adalah investasi[2]. Kemudian wacana dalam posisinya sebagai komoditas sangat tidak stabil dalam pasar karena dia tidak hanya dipertukarkan dengan uang saja tetapi melampauinya. Sebagai contoh ketika saya berpidato dengan membawa wacana social menyangkut keberpihakan terhadap orang-orang tertindas maka saya akan memiliki prestise sebagai aktivis atau politisi yang berpihak pada rakyat kecil. Prestise itu akan menjadi modal kepercayaan agar saya bisa menang dalam pencalonan sebagai anggota legislatif. Nah, ketika wacana telah dilihat berpotensi menguntungkan maka intensi kehadiran wacana yang dihadirkan adalah untuk mencapai tujuan lain dari isi wacana[3]. Keuntungannya akan didapat belakangan sehingga kita tidak bisa melihat transaksinya secara eksplisit.
Adakah wacana gratis atau murah? Tentu saja dalam masyarakat kapitalistik untuk melindungi dirinya dari tuduhan orang-orang kiri sebagai system yang tidak manusiawi mereka membuat program gratisan. Kita akan menemukan wacana gratis dalam bentuk tertulis misalnya di internet tetapi kita tentu saja akses gratis itu mempertimbangkan masalah kualitas dan soal kelangkaan. Wacana dengan kualitas rendah dan using bisa digratiskan tetapi yang berkualitas tinggi dan masih segar tidak bisa diakses gratis. Di internet ada system pembayaran online jadi bukan hanya produk berupa digital tetapi produk yang biasa pun bisa langsung dibayar.
Mungkin ada kerumitan memahami wacana sebagai komoditas dan transaksi jual beli yang tidak biasa atau bisa dikatakan sebuah pertukaran yang tidak disadari oleh pihak lain. Karena pembawa wacana memiliki intensi mengambil keuntungan lebih sesudahnya sementara konsumen wacana tak mengetahui bentuk pembayarannya. Karena belakangan pembayarannya bisa berupa dukungan politik atau pembelaan sukarela. Tetapi ada juga wacana yang dijual secara terang misalnya dalam kegiatan seminar, workshop, dan sebagainya yang menuntut pesertanya harus membayar pendaftaran; uang pendaftaran itu umumnya akan dibagi untuk konsumsi, sewah alat dan tempat, biaya produksi sertifikat, honor pembicara dan tim pelaksana. Inilah ketidakstabilan wacana sebagai komoditas. Wacana dalam hal ini memiliki intensi keuntungan apakah dalam bentuk uang atau prestise; penghargaan, sanjungan, dukungan moral atau politik.
Komodifikasi wacana adalah usaha sadar yang dilakukan oleh kaum intelektual untuk mengambil keuntungan dari isu-isu. Pemanfaatan isu yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan sehingga menjadi intelektual adalah profesi yang berorientasi profit[4] (profit oriented). Dengan demikian wacana-wacana revolusioner sekalipun akan menjadi impoten karena akan disanggah melalui apologi intelektual. Kapitalisme mendikte kaum intelektual sehingga proyek lmu pengetahuan pun akan mengabdi pada produktivisme.
    II.            KOMODIFIKASI WACANA
A.  KOMODIFIKASI ISU SOSIAL POLITIK
Kita akan mendapati bahwa berbagai isu mengenai persoalan social politik yang terdapat dalam buku serta pidato politik adalah proyek ekonomi. Wacana dalam bentuk buku yang dicetak jutaan eksemplar itu berorientasi profit. Dalam politik ekonomi wawasan masyarakat harus dibatasi. Dalam perspektif ekonomi pembacaan pasar dalam konteks social politik adalah mengidentifikasi isu yang segar yang digemari oleh masyarakat. Maka akan dilaksanakan proyek buku yang berkaitan dengan isu hangat. Ketertarikan terhadap isu itu akan membuat berjuta eksemplar buku habis terjual. Tetapi mereka juga tahu mengendalikan psikologi social karena ketika, misalnya, isu-isu social politik yang revolusioner mendominasi dan memprovokasi masyrakat maka akan juga digelar proyek buku yang membantah soal isu-isu itu. Masyarakat yang mengkonsumsi buku akhirnya terjebak pada perdebatan-perdebatan soal wacana yang benar dan salah. Tetapi disamping itu keuntungan hasil penjualan buku-buku itu tetap stabil. Harga buku yang terlalu mahal akan sulit dijangkau oleh masyarakat ekonomi menengah ke bawah sehingga yang mengkonsumsi wacana itu hanya orang yang berkemampun menunjukkan nilai tukar dari buku itu. Tentunya ada yang akan mengatakan bahwa ada perpustakaan umum yang menjadi alternative. Pertanyaannya seberapa baik pengelolaannya apalagi yang diurus oleh negara.
Masyarakat adalah pasar sehingga mengetahui kebutuhan masyarakat adalah kunci untuk mendapatkan keuntungan besar. Dalam hal politik praktis hari ini kita bisa membaca bahwa isu yang paling laku sesuai dengan kondisi objektif masyarakat adalah isu yang berpihak pada rakyat kecil. Dengan begitu kelompok politikus dan politisi kanan pun akan mengumbar isu-isu kiri untuk meraih simpati masyarakat. Secara tiba-tiba orang-orang ini akan bicara soal anti imperialism, kapitalisme, dan lain sebagainya. Padahal pada kenyataannya status ekonominya menengah ke atas dan dia juga terjerat dalam praktik akumulasi modal. Para politikus kanan yang dulunya dengan lahap memakan keuntungan dari hasil pemerasan tiba-tiba sibuk bicara soal ideology bahkan perjuangan yang revolusioner. Saya kira sudah jelas bahwa intense menghadirkan wacana revolusiner adalah untuk mendapat dukungan politik dari masyarakat khususnya ekonomi menengah ke bawah.
Pidato-pidato politik tak lebih dari lip servis bahkan diskusi social politik dalam siaran-siaran televisi hanya untuk menarik banyak jumlah penonton sehingga iklan produk akan antri di stasiun itu yang tentunya  dengan bayaran yang mahal; sementara diskusi mengenai isu social-politik juga tidak solutif dan hanya memberikan kepuasan intelektual bagi para penontonnya. Apakah mungkin stasiun televisi swasta yang berorientasi profit akan dengan sukarela menyajikan fakta yang bisa membunuh orang tuannya, yaitu kapitalisme. Menurut Ayn Rand baik pebisnis maupun intelektual professional keduanya adalah anak dari kapitalisme karena mereka lahir dari revolusi industri[5].  Stasiun TV swasta dan intelektual dalam programnya adalah kakak beradik yang memiliki orientasi yang sama.
Partai politik kiri apalagi yang menganut pandangan sosial-demokrasi pada kenyataannya tak mampu merealisasikan program-program partai dan merubah keadaan sehingga ada tuduhan bahwa semangat revolusinya hanya sampai pada tataran wacana[6]. Mereka justru melebur dalam sistem walaupun secara konseptual ingin merubah tantanan social bahkan mereka tak bisa berbuat apa-apa selain melanjutkan kebijakan politik kanan.
B.  KOMODIFIKASI ISU LINGKUNGAN
Membicarakan masalah lingkungan rasanya tak mungkin terlepas dari kapitalisme. Kita mulai dengan masalah sampah; sampah plastic dan botol adalah produk industri kapitalis. Polusi udara dan air penyumbang utama adalah aktivitas industri besar; aktivitas pertambangan. Pembangunan kota-kota besar yang menjadi pusat produksi sampah dan polusi juga memperkecil daerah resapan air yang akhirnya akan berdampak pada perubahan struktur alam; terjadinya banjir dan tanah longsor. Sebagian besar kerusakan lingkungan adalah dampak dari pengejaran keuntungan. Produktivisme. Tetapi pertumbuhan ekonomi yang tak berujung ini mengundang kaum intelektual untuk mengevaluasi dampaknya. Obsesi akumulasi modal menggerogoti lingkungan;  padahal lingkungan adalah modal kehidupan. Munculnya eko-sosialisme yang melihat masalah lingkungan dari perspektif ekologi politik adalah kritik terhadap produktivisme[7]. Dalam usaha penanggulangan masalah lingkungan kekuatan politik mutlak perlu untuk membatasi pertumbuhan ekonomi kapitalistik yang merusak alam.
Berapa banyak organisasi lingkungan yang kita punya yang sanggup menghentikan produktivisme yang secara nyata merusak alam? Saya kira ada banyak. Dalam kasus-kasus pertambangan organisasi non-pemerintah (ornop) atau LSM lingkungan berjuang setengah hati atau bahkan memiliki intense memperkaya diri[8]. Kasus lingkungan menjadi semacam komoditas karena ketika para aktivis lingkungan bersuara maka mereka akan mendapat sejumlah sogokan. Semakin keras mereka melawan maka semakin besar pula uang yang mengalir ke kantong mereka. Para ahli hukum pun sangat bersemangat mengurusi kasus-kasus semacam ini karena akan menerima bagian juga. Dalam buku Imperialism abad 21 yang ditulis oleh Henry Veltmeyer dan James Petras menggambarkan bahwa organisasi-organisasi social hanyalah kakitangan imperialisme. Kaum intelektual juga tak luput karena dalam kasus pertambangan mereka adalah penyusun Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) walaupun hanya rekayasa tanpa ada penelitian serius.
Isu-isu lingkungan menjadi wacana yang kosong karena kampanye mengenai problem-problem lingkungan yang semakin marak tetapi sementara itu juga kapitalisme terus berproduksi menghancurkan alam. Kampanye-kampanye ini hanya sekedar proyek untuk memperlihatkan bahwa ada perjuangan tetapi tak mampu merubah keadaan karena proyek kampanye itu pun dibiayai oleh instansi terkait dalam semangat akumulasi modal. Adakah setan yang membiayai manusia untuk melawan dosa? Tentu itu adalah kontradiksi yang akan membunuh diri sendiri.
Ketika persoalan-persoalan masuk dalam ruang persidangan maka proyek hokum pun berjalan sehingga muncul lobi-lobi yang berujung pada keadilan berpihak pada yang ber-uang. Bukankah hukum pun di dikte oleh ekonomi sehingga keadilan akan sejajar dengan kepentingan-kepentingan ekonomi. Kita bisa melihat dalam perundang-undangan ada kesetaraan antara sebuah pelanggaran dengan sejumlah uang. Ancaman penjara dan denda akan menentukan nilai dari sebuah kasus hukum.
Dalam masyarakat hari ini ada perbedaan antara kata proyek dan program dalam interpretasinya. Program adalah rancangan kegiatan yang berorientasi pembangunan sementara proyek adalah kegiatan yang menghasilkan uang. Program pemerintah adalah proyek bagi kontraktor. Makanya sering terjadi kesepakan bagi hasil antara pemerintah dan kontraktor. Program mengenai penanggulangan bencana alam dengan pembuatan fasilitas-fasilitas tertentu akan menjadi proyek pembangunan fasilitas yang tak berkualitas. Program penghijauan di jalan raya misalnya dengan penanaman pohon di pinggiran jalan akhirnya dilaksanakn oleh orang-orang yang hanya ingin mengambil keuntungan sehingga tidak menganalisa dampaknya; pohon yang semakin membesar akhirnya juga merusak fasilitas lain.
C.  KOMODIFIKASI ISU BUDAYA
Jean-Pierre Dupuy seorang filsuf Prancis ketika diwawancarai soal bukunya yang berjudul L’avenir de l’economie, sortir de l’economystification mengatakan bahwa

".…, Il y a une phrase, je dois dire, qui m'a choque. La culture devrait etre le moteur de l'economie. C'est exactement j'appelle l'economystification. Comme si ce qui avant tout, c'etait l'economie. La culture au service de l'economie. Moi, je dirais, l'economie devrait etre au service de la culture." [9]

Dalam penjelasannya yang singkat dia menyatakan bahwa kebudayaan eropa telah terpuruk karena telah menjadi budak dari kepentingan ekonomi. Menurut dia sendiri ekonomi haruslah menjadi pelayan kebudayaan dan bukan sebaliknya.  Dalam hal politik pun pemimpin negara yang terpilih juga adalah seorang ekonomis (businessman) sehingga politik juga mengabdi pada ekonomi. Saya kira ini juga paralel dengan apa yang terjadi di Indonesia hari ini.
Mistifikasi ekonomi (L’économystification) adalah usaha menjadikan ekonomi sebagai pusat dari kegiatan sosial. Ekonomi menjadi panglima sehingga dia mendikte politik, pendidikan, budaya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini isu-isu budaya pun telah menjadi komoditi. Gerakan kebudayaan di asia hari ini yang berpacu juga adalah sebuah proyek global yang dipengaruhi oleh wacana-wacana dari eropa. Seperti dalam kasus isu social politik maka wacana budaya pun dicetak dalam jutaan eksemplar serta seminar-seminar yang digelar karya proyek yang bisa menghasilkan uang.
Kebudayaan dalam konteks masyarakat kapitalistik harus mengabdi pada kepentingan-kepentingan ekonomi karena sekalipun dia berusaha mengada tanpa bantuan ekonomi maka usianya akan singkat. Tetapi ketika isu kebudayaan dijadikan proyek dalam bentuk buku atau karya seni yang memiliki nilar tukar maka dia akan tumbuh subur. Tentunya kebudayaan yang akan diangkat adalah yang sesuai dengan kebutuhan pasar atau masyarakat. Jika yang laku adalah kebudayaan tradisional maka produk kebudayaan adalah yang tradisional dan juga sebaliknya. Isu budaya dalam hal ini hanya bisa dikonsumsi oleh mereka yang memiliki kemampuan melakukan transaksi jual beli.
Eksistensi kebudayaan akan selalu bergantung pada nilai tukarnya. Kita bisa ambil contoh mengenai bahasa local daerah dan bahasa internasional. Menguasai bahasa internasional memiliki potensi besar dalam persaingan kerja. Sementara bahasa local hanya sekedar pengetahuan saja atau memiliki kebanggaan tersendiri. Pada kenyataannya generasi yang menghadapi pasar global harus memprioritaskan bahasa internasional. Kegunaan bahasa asing adalah system pasar transnasional yang menuntut setiap orang dapat berkomunikasi dengan baik. Apakah gerakan pelestarian kebudayaan local adalah kesadaran ideologis sementara budaya pop adalah kesadaran ekonomis yang menjamin eksistensi hidupnya dalam system ekonomi yang berlaku.
Kebudayaan local dalam masyarakat modern berubah menjadi produk yang ditawarkan kembali. Artinya kebudayaan itu hilang atau hampir hilang jadi gerakan pelestarian kebudayaan local adalah gerakan menciptakan kembali kebudayaan itu dalam bentuk buku, tarian, pentas, teater, kursus, dan lainnya. Di sini kebudayaan harus dibeli karena telah menjadi sesuatu yang langka. Manuskrip kuno yang dicetak kembali akan diedarkan tetapi telah ditambah dengan nilai tukarnya. Masyarakat yang telah kehilangan budayanya sendiri harus membayar untuk mengaksesnya kembali. Produk dalam masyarakat kapitalistik tentunya telah terkonstruksi dari nilai-nilai dan yang terutama juga adalah nilai tukarnya.
D.  KOMODIFIKASI AYAT-AYAT SUCI
Ketika pemimpin keagamaan menjadi profesi maka dalam masyarakat kapitalistik akan ada pertukaran atau transaksi jual beli barang maupun jasa religius. ‘Pelayanan’ sebagai jasa religious akan dibayar dengan sejumlah uang atau hal lain yang bernilai. Kita bisa melihat bahwa profesi kependetaan misalnya dicapai dengan menempuh jalur pendidikan formal dengan pembayaran regular. Status kependetaan menjadi mirip dengan profesi lainnya yang menawarkan jasa dan mendapat imbalan. Penerimaan uang atau barang dan jasa lainya lumrah tetapi jika intense seseorang untuk memperoleh status kependetaan hanya karena melihat potensi ekonomis maka wacana keagamaan itu menjadi hal sekunder.
Orientasi agama berubah menjadi akumulasi modal dari tujuan untuk mengatur tatanan social. Eksistensi agama pun akan ditentukan oleh kepentingan ekonomi karena dengan begitu dia mampu mempertahankan institusinya. Sudah lumrah bahwa terjadi perselingkuhan antara pebisnis, pemerintah, dan pendeta. Dalam banyak kasus wacana yang dihadirkan oleh pemuka-pemuka agama adalah pembelaan terhadap kebijakan pemerintah dan eksploitasi pebisnis walaupun secara esensial sudah bertentangan dengan visi agama itu sendiri.
Ayat-ayat suci menjadi wacana yang mati karena daya kritiknya sengaja dihilangkan demi eksistensi institusi. Kebanyakan donatur terbesar dalam pembangunan rumah ibadat adalah pebisnis atau orang kaya dan pejabat-pejabat pemerintahan. Ketika para donator melakukan kesalahan maka ayat-ayat suci justru menjadi pembela. Padahal dalam usaha meruntuhkan kekuasaan agama dan feodalisme kaum borjuis sangat anti terhadap agama[10]. Kehadiran agama hari ini adalah alat pemebenaran system karena agama juga didikte oleh ekonomi. Dulunya agama membenarkan feodalisme namun sekarang diberalih membenarkan kapitalisme.
Dalam agama akan terjadi kenaikan jumlah persembahan yang disesuaikan dengan perubahan nilai mata uang. Perubahan dalam ekonomi menuntut perubahan dalam nilai persembahan. Pemimpin agama akan mengumumkan soal ini dalam ibadah-ibadah agar anggotanya  memberi korban sesuai dengan nilai yang ditentukan. Firman secara tak langsung harus menyesuaikan dengan keadaan dan bukan sebaliknya. Ayat-ayat suci yang menyerang pribadi elite akan diperhalus sehingga berusaha tak menyinggung karena jika tidak maka agama akan kehilangan donatur.
 III.            IMPOTENSI WACANA
Dalam sistem ekonomi kapitalistik wacana revolusioner sangat tak berdaya karena dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan. Wacana-wacana yang mengancam system menjadi kerdil dan bahkan mati. Daya aplikasinya akan menurun tetapi sebagai wacana dia bisa menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Semua akan bergantung pada kebutuhan pasar karena jika wacana revolusioner sangat menjanjikan keuntungan besar maka kaum kapitalis akan memproduksinya secara besar-besaran. Tetapi mereka mampu membaca psikologi ssosial karena ketika wcana revolusioner telah memprovokasi maka akan muncul wacana bantahan.
Kehadiran wacana yang menyoal perubahan dan kritik sangat impoten karena dalam media social misalnya yang lebih banyak ditampilkan adalah wacana-wacana yang berorientasi profit dengan sejumlah ornament yang menciptakan realitas artificial. Yang lebih banyak adalah iklan produk daripada diskusi serius soal keadaan yang sebenarnya. Adapun kehadiran wacana-wacana revolusioner yang sangat minim diminati karena memiliki tingkat kesukaran. Sebab kapitalisme membuat daya analisa masyarakat menjadi minim sehingga kualitas wacana yang popular adalah yang ringan saja seperti life style.



[1]Lihat Rand, Ayn. For The New Intellectual. New York. Signet. 1961.  "The professional businessman and the professional intellectual came into existence together, as brother borns of the industrial revolution. Both are the sons of capitalism - and if they perish, they will perish together."
[2] Pendidikan dinilai adalah hal yang akan membuahkan keuntungan di masa depan karena upah kerja terhadap orang  yang berijazah strata tinggi akan lebih tinggi dan juga dalam kondisi tempat kerja yang nyaman dan kerja yang ringan. Tak jarang orang tua mengorbankan tanahnya dijual untuk mengirim anak-anak mereka ke perguruan tinggi. Politik pemerintah menggratiskan pendidikan di tingakat dasar sampai menengah dan menaikkan biaya pendidikan ditingkat perguruan tinggi. Seperti strategi pasar dalam memberi diskon terhadap sebuah produk; harga dinaikkan dua kali lipat dan diberi potongan setengah (50%). Dalam tulisan Albert Einstein yang berjudul Mengapa Sosialisme?, dia mengkritik soal pendidikan dalam kapitalisme serta mengusulkan pendidikan yang ideal, “Seluruh sistem pendidikan kita menderita karena setan ini. Suatu sikap kompetisi yang berlebihan tertanam dalam benak setiap pelajar, yang diajarkan semata-mata untuk memperoleh kesuksesan sebagai persiapan untuk masa depannya. Saya yakin hanya ada satu jalan untuk menghilangkan setan jahat ini, yaitu dengan menciptakan suatu ekonomi sosialis, disertai dengan sistem pendidikan yang dapat diorientasikan untuk mencapai tujuan sosial.” Sumber: Mengapa Sosialisme? (Why Socialism?) oleh  Albert Einstein Situs Indo-Marxist—Situs Kaum Marxist Indonesia, Februari 2002
[3] Tanda atau teks dapat digunakan untuk menipu walaupun isinya memiliki tujuan yang baik karena tanda memiliki fungsi ganda yang bisa digunakan untuk menyamapaikan kebenaran dan juga kebohongan. Lihat Eco, Umberto. Teori Semiotika; signifikasi komunikasi, teori kode, serta teori produksi – tanda. Kreasi Wacana. 2009.
[4] Ibidem.
[5] Ibidem.
[6] Dalam tulisan Rosa Luxemburg yang berjudul Reformasi atau Revolusi dia mengkritik pendapat Eduard Bernstein penganut pandangan social-demokrasi yang mengusulkan bentuk perjuangan tanpa revolusi tetapi melakukan gerakan yang agak kompromis.
[7] Lihat, Melenchon, Jean-Luc. Aturan Hijau untuk Eko-Sosialisme. Bandung. Ultimus. 2013.
[8] Lihat Veltmeyer, Henry dan James Petras. Imperialisme abad 21. Yogyakarta. Kreasi Wacana. 2002. “Ornop-ornop menekankan proyek, bukan gerakan .... ornop-ornop mengkooptasi bahasa golongan kiri- “kekuasaan rakyat”, “pemberdayaan”, “keadilan jender”, “pembangunan berkelanjutan”, “kepemimpinan dari bawah”, dan sebagainya.”
[9] “…., ada sebuah ungkapan yang mengagetkanku yaitu kebudayaan harus menjadi mesin dari ekonomi. Inilah yang saya maksudkan dengan mistifikasi ekonomi; dan sebagaimana adanya bahwa budaya mengabdi pada ekonomi. Tetapi menurutku, ekonomi seharusnya mengabdi pada budaya.”
[10] Paul Lafargue dalam tulisannya yang berjudul Hak untuk Malas menulis “Borjuasi mengibarkan bendera pemikiran bebas dan atheisme ketika mereka berjuang melawan kaum ningrat yang didukung jajaran kependetaan. Namun begitu berjaya, mereka merubah nada suara serta caranya, dan sekarang menggunakan agama untuk mendukung supremasi ekonomi dan politiknya. “

Jumat, 27 Desember 2013

SEMANGAT KEMINAHASAAN DAN PERSOALAN IDENTITAS[1]



(Sebuah catatan terhadap kondisi generasi muda)
Oleh
Iswadi Sual

Sejarah berkaitan dengan identitas (jati diri) individu maupun komunitas masyarakat tertentu. Kehilangan ingatan akan masa lalu (amnesia) juga adalah kehilangan jati diri. Jika seseorang tidak ingat lagi siapa orang tuanya, tempat di mana dia lahir dan lingkungan dia dibesarkan maka seseorang itu akan kehilangan pijakan. Sama halnya dengan suatu bangsa yang tidak ingat lagi akan sejarah tentang siapa leluhurnya, tanah leluhur dan budaya leluhur maka bangsa itu akan kehilangan pijakan untuk masa depan. Hal ini juga yang dihadapi oleh bangsa Minahasa hari ini di mana sebagian besar masyarakat atau generasi muda telah mengalami amnesia sejarah dan kebudayaan Minahasa. Apakah generasi muda saat ini masih mengenal leluhurnya? Apakah mereka mengetahui peristiwa-peristiwa penting di tanah adat ini? Apakah mereka masih memiliki kemampuan menerjemahkan nilai-nilai budaya lokal dalam konteks modern? Apakah juga mereka mengenal gagasan-gagasan Ratu Langi dan tonaas-tonaas lainnya?
Sejumlah pertanyaan menyangkut identitas keminahasaan mungkin akan membuat generasi muda sekarang bingung karena kurangnnya referensi ataupun memang apatis jika diperhadapkan dengan masalah kebudayaan sendiri. Karakteristik Minahasa hari ini tidak harus berpijak pada situasi yang sudah terkondisikan tetapi harus ada usaha mencari karakter asli Minahasa untuk dijadikan pijakan dalam kehidupan yang diperhadapkan dengan tantangan global hari ini.
Generasi muda Minahasa praktisnya dalam arus globalisasi merasa inferior terkait persoalan budaya lokal sebagai jati dirinya. Superioritas budaya pop sangat mendominasi baik pola pikir maupun perilaku generasi saat ini. Rasa percaya diri untuk mengangkat budaya Minahasa dalam persaingan global memang masih kurang. Dalam usaha penyesuaian gaya hidup maka banyak sekali kearifan local yang telah dilupakan dan ditinggalkan. Padahal dalam lingkup globalisasi yang dibutuhkan adalah daya saing dan bukan hanya sekedar terbawa arus saja. Orang Minahasa hari ini telah menjadi sedemikian pragmatis dalam menghadapi berbagai hal. Kebobrokan tatanan sosial diakibatkan oleh hilangnya tumpuan etos budaya masyarakat.
Globalisasi yang kemudian identik dengan berbagai terminologi seperti neokolonialisme, imperalisme, kapitalisme transnasional, dan lain sebagainya ternyata memiliki dampak terhadap persoalan identitas bangsa khususnya di negara-negara yang dikategorikan Dunia Ketiga. Walaupun globalisasi diikuti dengan kampanye semangat perdamaian dunia lewat keterbukaan tetapi pada kenyataannya terjadi hegemoni ekonomi yang berpengaruh dalam berbagai sektor; baik itu dalam hal politik, budaya, pendidikan, media, dan lain sebagainya. Yang paling nyata adalah perilaku masyarakat yang terkooptasi oleh gaya pop yang dipengaruhi oleh media massa  Media menjadi standarisasi perilaku masyarakat dari cara berbicara, berpakaian, sampai kepada apa yang harus dikonsumsi.
Tou Minahasa khususnya yang masih muda tidak harus berada dalam lingkup konsumerisme tetapi harus produktif dalam berbagai hal. Tetapi intinya kemudian adalah landasan yang kuat terhadap kebudayaan Minahasa itu sendiri. Modernitas harus disambaut dengan akar budaya yang kuat agar supaya identitas Minahasa tidak memudar dalam persaingan global. Konsumsi masyarakat hari ini yang dianggap gaya hidup standar perlu disadari dipengaruhi oleh budaya bangsa-bangsa yang memiliki daya saing tinggi yang ditunjang oleh  kemampuan berpikir (sumber daya manusia). Banyak budaya local hari ini yang telah diangkat menjadi budaya internasional; walaupun telah banyak dimodifikasi tetapi kekhasan budaya local itu tetapi ada. Kita bisa mendapati hal-hal demikian dalam music, sastra, fashion, dan teknologi.
Etos budaya Minahasa yang semakin memudar harusnya menjadi tanggung jawab generasi muda untuk membangkitkannya lagi. Semangat kerja mapalus dan sifat pemberani waraney harusnya menjadi tumpuan dalam menghadapi modernitas. Harusnya generasi muda Minahasa tidak malu untuk mengglobalkan kearifan lokal kita. Rasa cinta akan kebudayaan sendiri harus ditumbuhkembangkan disamping menerima modernisasi. Artinya generasi muda tidak harus terjebak pada tradisionalisme ataupun terbawa arus modernisasi. Etos kerja mapalus dan semangat waraney baiknya menjadi tumpuan generasi muda dalam berpikir dan berperilaku untuk menciptakan tatanan masyarakat yang maju tetapi dilandasi nilai-nilai asli budaya Minahasa. Generasi muda perlu menemukan kembali jati diri ke-Minahasa-an dalam upaya mengangkat nilai-nilai budaya asli.
Rasa rendah diri (inferior) harus ditepis untuk membangkitkan kepercayaan diri (superior) kita untuk mengangkat identitas kolektif. Kita harus sadar tentang potensi kita dan memanfaatkannya dalam persaingan global sehingga identitas kolektif (Minahasa) memilki posisi tawar dalam skala internasional. Saya kira ini juga yang dilakukan oleh bangsa dan negara lain. Generasi muda Minahasa harus lebih produktif dalam berbagai bidang yang diisi dengan nilai-nilai budaya. Produktivitas yang dilandasi dengan prinsip maesa (Minahasa), matuari, dan mapalus serta semangat waraney mungkin adalah solusi kemajuan kita bersama baik generasi sekarang maupun selanjutnya. Menumbuhkan rasa persatuan, persaudaraan, dan kerja sama antar Tou Minahasa dalam pembangunan.
Kebanggaan terhadap kebudayaan sendiri bukan untuk menciptakan etnosentrisme, chauvinisme, ataupun nasionalisme sempit. Tetapi bangga menjadi diri sendiri juga adalah hak yang disertai kewajiban untuk menghormati yang lain. Generasi muda Minahasa harus berani keluar dari rasa inferioritas dan bangkit untuk bersaing. Oleh karena era globalisasi selain persaingan ekonomi juga adalah persaingan budaya. Yang menentukan adalah kesiapan generasi muda apakah memiliki daya saing menghadapi kondisi saat ini. Revitalisasi ataupun revival nilai-nilai kebudayaan Minahasa adalah kunci untuk menghadapi masa sekarang dan masa yang akan datang. I yayat u santi!!!





[1] Disampaikan dalam kegiatan Dialog Budaya Minahasa Akhir Tahun di Langowan yang diselenggarakan oleh Kerukunan Warga Langoan (KWL) se-JABOTABEK pada 27 Desember 2013.

Rabu, 18 Desember 2013

SURAT KEPADA DR. BERT ADRIAN SUPIT



Yang saya hormati dr. Bert. A. Supit

                Setelah pertemuan di rumah anda yang bertujuan membahas Protokol Minahasa saya memiliki keterbebanan untuk menjelaskan soal konstalasi gerakan di Minahasa. Walaupun saya sangat menyadari bahwa anda lebih berpengalaman dalam soal gerakan terutama dalam melihat realitas politik di Indonesia. Tetapi dengan dasar pemahaman saya hari ini saya akan mencoba untuk memaparkan analisa saya terhadap kondisi yang ada. Di mana dalam pertemuan di rumah anda ada ketidakmengertian soal tujuan pertemuan itu sendiri. Dari segi pemahaman terhadap protocol itu sendiri. Tetapi ada kemungkinan bahwa mereka mengerti tetapi tidak bersepakat untuk membuat protocol. Yang lain bicara soal bagaimana membuat petisi atau manifesto yang menurut saya sangat berbeda dengan protocol sebagai kesepakatan bersama untuk dijalankan untuk Minahasa dalam totalitasnya; baik dari segi politik, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Artinya dalam pertemuan itu ada kesenjangan antara orang-orang yang hadir. Walaupun menurut saya yang hadir pada waktu itu adalah para intelektual dengan disiplin ilmu dan profesionalitas masing-masing yang sebenarnya diharapkan mampu merumuskan Minahasa ke depan dari berbagai aspek. Situasi pertemuan waktu itu menurut analisa saya mengecewakan beberapa orang. Pendeta Tangkudung waktu itu menuntut sakralisasi yang artinya keseriusan karena kesan yang lain tidak serius dalam pertemuan itu. Sementara dosen sejarah yang hadir waktu itu sebenarnya sudah bicara soal esensi protocol di mana dia membaginya dalam dua kategori yaitu kategori visi dan misi (atau protocol dalam kategori landasan ideal dan praktis). Dan gerakan Minahasa itu akan dilakukan dengan metode each one teach one sehingga terjadi yang namanya silent revolution. Tetapi akhirnya, yang mengecewakan, moderator justru di ujung pertemuan itu membantah usulan-usulan itu dengan argumentasi yang tidak mendasar dan kurang taktis menurut saya. Yang lain hanya merespon pertemuan itu dalam perspektif ‘pragmatis’.
                Saya telah membaca makalah dan buku yang sudah anda berikan pada saya menyangkut pemikiran anda yang dilandaskan pada Ratu Langi yang kemudian menurut anda Gubernur SULUT S. H. Sarundajang juga menjadikannya landasan dalam disertasinya. Tetapi saya kira dalam pertemuan-pertemuan dengan anda juga menyinggung bahwa konsep Ratu Langi tidak bukan tanpa kritik tapi bisa dimodifikasi. Dalam buku van Klinken yang menguraikan soal Ratu Langi saya mendapati bahwa pemikirannya dipengaruhi oleh Inazo Nitobe (Bushido), William James (Pragmatisme), Karl Haushofer (konsep Geopolitik), dan juga keadaan waktu itu tentunya. Konstruksi pemikiran Ratu Langi tentunya dilahirkan dalam zamannya dan S. H. Sarundajang justru melakukan rekonseptualisasi terhadap pemikirannya yang berbasis geostrategi. Saya akan mencoba mengkritisi semua ini agar supaya pertemuan-pertemuan berikutnya kita lebih akan mengerucut membahas soal Minahasa.
                Ratu Langi yang terpengaruh oleh Bushido-nya Inazo Nitobe menjadikan dasar perjuangannya berangkat dari kebudayaan etnik. Bushido secara sederhana bicara soal etos masyarakat Jepang yang berangkat dari Budhhisme, agama Sinto, yang dulunya menjadi etika perang bagi para samurai. Tetapi aplikasi Bushido kemudian diterapkan bukan hanya dalam perang samurai tetapi secara meluas yaitu pada totalitas perjuangan masyarakat Jepang. Di mana semangat itu merasuki dunia pendidikan, pemerintahan, dan budaya. Tetapi dalam konteks masa Ratu Langi dia belum berhasil merumuskan etos masyarakat Minahasa[1] dalam konsepsi seperti Bushido yang merasuki segala aspek masyarakat. Padahal kita memiliki etos masyarakat komunal seperti Mapalus dan juga semangat Waraney. Mapalus merupakan ciri masyarakat Minahasa untuk membangun bersama; kerja kolektif yang displin. Sementara waraney adalah karakter prajurit yang sifatnya pemberani, jujur, disiplin (patuh pada tonaas – tou-taas/tou-ngaas atau teterusan), serta memiliki jiwa patriotis untuk tanah dan masyarakatnya. Sekiranya etos mapalus dan semangat waraney ini menjiwai pemerintahan dan pendidikan kita maka masyarakat Minahasa yang berkepribadian dan kesejahteraan bisa terwujud. Dalam buku sejarah Minahasa saya pernah membaca soal kesepakatan di Watu Pinawetengan yang kemudian disebut Nuwu in Tua:
“…Sapakem si kayo’ba’an anio, tana’ ta im baya! Asi endo makasa, sa me’em si ma’api, wetengan e pa’tuusan, wetengan eng kayo’ba’an! Tumani e kumeter, mapar e waraney, akad se tu’us, tumow on tumow tow!...” (secara bebas diterjemahkan, “…Dengan ini kami nyatakan, dunia in adalah tanah air kita semua! Bila pada suatu saat, burung telah memberi tanda yang pasti, bagilah tanah ini hai kamu pemuka masyarakat pemberi contoh! Bukalah wilayah pertanian baru, hai kamu pemimpin pekerjaan! Kuasailah wilayah, hai prajurit perkasa, agar keturunan kita dapat hidup dan memberi hidup!”…[2]
Secara sederhana saya melihat bahwa dalam kesepakatan itu ada fungsionalisasi masyarakat menjadi tiga golongan yaitu: pertama, golongan pemberi contoh (walian-agama/religi) yang membentuk etos moralitas masyarakat. Walaupun dalam konteks waktu itu masyarakat Minahasa masih dalam kepercayaan aslinya dan belum bersinggungan dengan Kekristenan. Tetapi hari ini harusnya semua agama yang ada di tanah Minahasa harus menjadi panutan yang berpihak pada prinsip Minahasa. Kedua, golongan petani (tonaas); dalam konteks masyarakat Minahasa dulunya yang disebut oleh Belanda bergboeren petani harus mampu menyuplai kehidupan masyarakat. Jadi sederhanya dalam soal ekonomi golongan ini memiliki tanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan pokok masyarakat. Ketiga, golongan golongan ksatria. Golongan ini bertanggung jawab untuk menjaga keamanan di wilayah masyarakatnya. Fungsionalisasi masyarakat ini bukan seperti pembagian kasta/kelas sosial seperti pada masyarakat feudal tetapi pembagian tugas demi keamanan dan kesejahteraan bersama. Jika bisa dikatakan negara Minahasa/Malesung memiliki struktur inti sebagai berikut.
1.       WALIAN : merupakan pemimpin adat, kepercayaan/agama.
2.       TONAAS : merupakan kepala walak, wanua, ahli pertanian.
3.       TETERUSAN : pimpinan perang.
4.       POTUASAN : sebagai penasihat.[3]
Nuwu in tua adalah kesepakatan yang lahir dari suatu kondisi di mana masyarakatnya harus hidup dalam ancaman eksternal (imperialisme) sehingga persatuan itu adalah syarat untuk kelangsungan masyarakat. Fungsionalisasi masyarakat adalah langkah taktis dalam perjuangan hidup tou Minahasa pada waktu itu demi apa yang dimaksud dalam kalimat terakhir; tumow on tumow tow (hidup untuk member hidup). Dalam slogan si tou timou tumou tou – saya pikir dipetik dari nuwu in tua dan dimodifikasi - yang identik dengan pemikiran Ratu Langi dimaknai oleh masyarakat hari ini secara ahistoris. Oleh karena banyak slogan kedaerahan justru dimaknai dalam konsep-konsep modern yang luas. Harusnya slogan-slogan itu harus ditelusuri landasan atau pijakan di mana dia lahir. Gerakan budaya Minahasa hari memang harus melakukan rekonstruksi terhadap mitologi, sejarah, tradisi dan kesenian. Saya kira anda juga pernah menyebut remitifikasi dalam buku anda soal bagaimana membangkitkan semangat Minahasa itu sendiri. Tetapi gerakan budaya juga harus berbarengan dengan proyek politik.
                Pragmatisme William James dijadikan Ratu Langi untuk menjembatani Minahasa ke modernitas barat. Kebudayaan tradisional yang kuat yang dilandasi oleh identitas etnik tetapi juga membuka diri pada perkembangan zaman. Ide Ratu Langi untuk modernisasi Minahasa patut diapresiasi tetapi kemudian perubahan dan pembalikan budaya yang revolusioner membutuhkan kekuatan politik. Ini dibuktikan di Jepang melalui restorasi Meiji yang dilegitimasi oleh kaisar, revolusi kebudayaan Turki oleh Mustafa Kemal Ataturk, dan revolusi kebudayaan Cina di bawah pemerintahan Mao Tje Tung (Mao Zedong). Di eropa, kebudayaan Kristen sangat di pengaruhi oleh kebijakan kaisar Konstantin yang membuat Kristen menjadi agama negara; bahkan sampai pada reformasi Cluny sebagai upaya mengkristenkan Eropa. Di sini kita melihat bahwa melakukan pembalikan kebudayaan membutuhkan kekuatan politik. Masyarakat Minahasa sekarang ini yang ‘pragmatis’ yang dipengaruhi budaya pop akan sangat sulit untuk menerima ide-ide. Setiap masyarakat akan berperilaku sesuai dengan sistem yang ada. Karl Marx menganggap bahwa perilaku kapitalisme yang menyebabkan sebagian masyarakat tereksploitasi bukanlah kesalahan mereka tetapi kesalahan sistem dan oleh karena itu sistem harus dirubah. Kekuatan politik itulah yang akan menggerakan masyarakat ke etos kerja yang berlandaskan nilai-nilai budaya Minahasa. Kebudayaan masyarakat bukanlah muncul serentak dalam benak semua individu tetapi dari individu ke sosial. Kebudayaan adalah hasil konstruksi pikiran manusia menyesuaikan dengan alam tempat tinggalnya. Kebudayaan  adalah kata majemuk dari kata budaya dan budaya berarti ‘pikiran’ dalam bahasa Sansekerta berasal dari kata budh. Kebudayaan yang dihasilkan oleh pikiran senantiasa bergerak dari particular menuju universal.
                Menuju Minahasa yang modern pada dasarnya harus dilandasi oleh kebudayaan lokal yang kuat agar supaya identitas cultural kita menjadi landasan perilaku politik, ekonomi, dan pendidikan. Kondisi masyarakat Minahasa hari ini sangat memprihatinkan di mana masyarakat dikuasai oleh budaya pop, konsumerisme, dan politik praktis yang mengejar keuntungan pribadi. Sistem social kita dipengaruhi oleh kapitalisme global yang merusak politik, hukum, pendidikan, ekonomi rakyat, media, agama dan lain sebagainya.  
                “…., saat ini dunia tengah didesain dengan agenda global menuju terbentuknya pasar global yang terkuasai. Tentu, di sini yang berkuasa sekarang bukan lagi para politisi atau negarawan, tapi para bos besar pemilik modal. Aparat pemerintah, militer, politisi, kaum cendekiawan, ornop, dan kelas menengah hanyalah agen-agen local kapitalis transnasional ini. Segala usaha dikerahkan untuk merealisasikan agenda global mereka. Strategi dan konsep disususun untuk memuluskan jalan ini. Segala rintangan dan potensi perlawanan akan dihabisi jika perlu. Tidak peduli itu demokrasi, HAM, masyarakat sipil, kelompok bersenjata, agama, bahkan Tuhan sekalipun.”[4]
                Dalam buku anda beberapa kali saya mendapati anda mengkritisi soal posisi agama yang apatis terhadap persoalan social. Di mana fungsi kenabian (profetik) tidak ada lagi dalam gereja bahwa gerakan liberation theology banyak ditentang oleh aliran-aliran gereja tertentu. Saya kira jelas bahwa dalam sistem yang dipengaruhi oleh kapitalisme agama tidak akan menjadi apa-apa selain legitimator sistem yang disebut oleh Marx sebagai candu karena mengkhotbahkan bahwa persoalan-persoalan manusia telah ditakdirkan Tuhan. Agama kini menjadi sarang kapitalisme dengan semangat akumulasi modal dan menciptakan tingkat kesejahteraan di kalangan pemuka agama sementara sebagian besar jemaatnya melarat.
                Konsep geopolitik Karl Haushofer yang juga diadopsi oleh Ratu Langi menyangkut posisi Minahasa di wilayah Asia Pasifik harus diperbincangkan secara serius oleh karena anda telah melakukan sinkretisme antara pemikiran Ratu Langi dan S. H. Sarundajang yang menurut saya mungkin tidak sinkron. Ketika Ratu Langi menulis tentang setiap bangsa berhak menentukan nasib sendiri itu sebenarnya dipengaruhi zaman pada waktu itu yang anti terhadap penjajahan (imperialisme) sehingga kemerdekaan bangsa adalah topic dunia waktu itu. Geostrategi pada dasarnya dirumuskan dari geopolitik. Geopolitik Minahasa menyangkut ruang hidup, luas dan batas-batas wilayah serta potensi alam yang akan melandasi strategi mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Sesuai dengan pengaruh Karl Haushofer, Ratu Langi berbicara soal Pan-Minahasa di Sulawesi yang disebut auctor intellectualis. Ini berkaitan dengan sentiment regionalisme etnik/nasionalisme etnologis. Van Klinken menulis bahwa Ratu Langi sering melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan ekonomi kolonial, namun dia tidak pernah menjadikan argument ekonomi sebagai bagian daya tarik nasionalismenya (Klinken 2010 : 154). Hal ini membuat saya kemudian bingung soal geostrategic yang dirumuskan oleh S. H. Sarundajang yang dilandaskan pada pemikiran Ratu Langi. Harus di akui bahwa saya memang kekurangan literature tentang tulisan-tulisan Ratu Langi. Tetapi ketika untuk pertama kalinya saya bertemu dengan anda di Kora-kora untuk membahas disertasi S. H. Sarundajang saya juga adalah salah seorang yang tidak sepakat secara penuh dengan konsep geostrategi itu. Tujuannya mungkin sudah baik tetapi dalam hal penerapannya harus bertahap dan melihat prioritas.
                Forum pada waktu itu menginterpretasi bahwa konsep geostrategi Sarundajang menganggap adalah titipan neoliberalisme (kapitalisme global). Minahasa memang harus membuka diri terhadap dunia modern tetapi dia harus siap secara mental budaya kolektif. Sederhananya kita menutup diri sebagai persiapan untuk membuka diri. Agar supaya di kawasan asia pasifik, Minahasa bukan hanya menjadi pasar tempat berdagang tetapi bagaimana menjadi penguasa perdagangan itu sendiri. Keterbukaan ekonomi yang tidak dilandasi oleh kemandirian produktivitas akan mengarahkan masyarakat kita menjadi konsumen saja. Artinya dari segi sumber daya manusia kita sudah siap lebih dulu baru kemudian melakukan keterbukaan di bidang ekonomi. Yang menurut saya bahwa perjuangan Minahasa harus diawali dengan perubahan di bidang politik, pendidikan, dan budaya. Kapitalisme global sangat tidak menghargai soal adat dan budaya karena yang terpenting bagi mereka adalah akumulasi modal. Jadi pada dasarnya interpretasi Sarundajang terhadap Ratu Langi mungkin agak berbeda oleh karena dalam epilog bukunya pun jelas mengakui bahwa hal itu adalah rekonseptualisasi. Sarundajang tidak menjadikan landasan budaya sebagai praktik ekonominya. Kita punya etos mapalus yang bisa dijadikan landasan konsep dan praktik ekonomi kita. Minahasa tidak mengenal strata kelas social karena ciri masyarakatnya adalah komunal. Berkaca dari masyarakat Cina bahwa sistem ekonomi mereka yang kapitalistik dengan sistem politik komunis telah mampu mengangkat derajat bangsa mereka di dunia internasional walaupun sejarah perjuangannya penuh dengan suku duka[5]. Cina mampu dalam bidang politik, teknologi, ekonomi, dan budaya mereka banyak dikonsumsi oleh masyarakat dunia seperti film, produk elektronik dan obat-obatan, bahkan pemikiran-pemikiran Cina kuno; Sun Tzu (Strategi Perang), Confusius, Tao Te Ching, dan lainnya. Cina memiliki hak veto di PBB padahal republik mereka didirikan pada tahun 1949 sementara Indonesia pada 1945.
                Dalam perpektif saya, Ratu Langi memiliki pandangan sinkretis terhadap tradisionalisme Minahasa dan modernisme barat. Ratu Langi memiliki visi yang hebat tetapi itu berangkat dari kondisi zamannya. Hari ini saya kira kita perlu memodifikasi pemikiran-pemikirannya dalam mewujudkan Minahasa yang memiliki martabat, berwawasan luas, adil, dan makmur. Ratu Langi sendiri saya pikir anti terhadap dogmatisme.
                “Dogmatisme adalah kematian setiap pikiran yang hidup, setiap hal yang memiliki jiwa dan berkembang di dalam pergaulan manusia. Opini-opini dan pemikiran-pemikiran manusia berubah sesuai tuntutan-tuntutan masa yang berubah” (Menara, 23-6-1934)
                Ketika anda menyinggung soal keberhasilan bangsa Israel membangun negara mereka saya pikir kita harus berusaha menelusuri perjuangan mereka. Bagaimana mereka memproyeksikan negeri yang tandus       itu – tetapi disebut tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu – menjadi hijau dan mampu menghasilkan. Saya sempat membaca bagaimana orang Yahudi belajar di Yeshiva dengan metode yang mereka ciptakan sendiri tidak seperti metode yang digunakan negara lain. Proyeksi Negara Israel dirumuskan secara serius dengan mempertimbangkan berbagai aspek baik politik, ekonomi, budaya, teknologi, dan lainnya. Yang uniknya juga masyrakat Israel adalah masyarakat plural tetapi dengan keterikatan etniknya mereka mampu bersatu. Walaupun juga gerakan zionisme juga telah mengabaikan prinsip kemanusiaan di Palestina. Yang saya harapkan adalah bagaimana semua elemen gerakan Minahasa membuat protocol sebagai proyeksi Minahasa ke depan. Segala aspek gerakan harus kita rangkul tetapi yang pasti mereka punya semangat dan bisa percayai. Perbedaan harus kita akui tetapi kebersamaan harus tetap ada dan gerakan kita harus didasarkan pada prinsip-prinsip moral dan kemanusiaan.
Saya kira mengenai konstalasi gerakan kaum muda Minahasa saya sudah sempat mempresentasikannya di Kora-kora soal gerakan yang sporadis yang dipengaruhi oleh multi-identitas dan landasan berpikir antara yang tradisionil dan modern bahkan yang sinkretis. Apalagi yang dipengaruhi oleh semangat dekonstruksi; pada dasarnya metode dekonstruksi adalah upaya untuk keluar dari dogmatism tetapi implikasinya jauh daripada itu yaitu kemudian menghancurkan landasan-landasan ideologis. Saya pikir dekonstruksi tak lain juga adalah destruksi (postmodernisme) yang telah diproyeksikan oleh kapitalisme global di mana arah pemikirannya anti modernitas sehingga menggiring para inteletktual untuk kembali berpikir tradisionil dan menghindari proyek-proyek berskala besar seperti pengembangan nuklir dan lain sebagainya. Kapitalisme global ingin merusak perjuangan-perjuangan lewat dekonstruksi ide-ide apalagi yang berkaitan dengan sosialisme. Ketakutan negara-negara kapitalis besar adalah bangkitnya negara-negara yang mandiri secara ekonomi dan intelektual sehingga menyaingi kekuasaan yang ada. Walaupun mungkin lahirnya postmodernisme memang tidak berkaitan dengan upaya meminimalisir gerakan social yang berujung pada persaingan antar negara. Tetapi metode dekonstruksi memang sangat mempengaruhi dunia seni dan budaya di mana di antaranya ada pemikir seperti Julia Kristeva, Jacques Derrida, dan Jean Baudrillard.
Gerakan kita hari ini saya kira anda juga bersepakat adalah peacefull movement kita tidak harus melakukan revolusi berdarah yang telah memakan banyak korban. Tetapi bagaimana kita merumuskan gerakan damai yang simultan dari berbgai aspek. Kita tidak perlu mencontoh revolusi-revolusi yang menelan biaya dan korban (baik fisik maupun psikis) tetapi marilah kita mewujudkan tatanan masyarakat seperti yang dimaksudkan oleh Benni E. Matindas:
“Negara yang sebenarnya adalah pranata yang dibuahkan oleh prestasi peradaban manusia untuk tujuan-tujuan fitriahnya, yang diselenggarakan dengan nilai-nilai keadilan dan kebersamaan yang kemudian mengkristalkan kesadaran mengenai mutlaknya azas keadaulatan rakyat…. tujuan kehidupan bernegara tidak boleh dirumuskan dengan kegandrungan memajang teori-teori ataupun ideology segagahnya; ia harus sesuai fitrah manusia berkenaan dengan kebutuhannya sebagai individu di tengah masyarakat bangsanya maupun pergaulan antar bangsa-bangsa. Sementara azas-azas penyelenggaraan negara cukup ditujukan saja pada pengutamaan azas keadilan, azas kebersamaan atau persatuan demi pembesaran daya, dan azas kedaulatan rakyat.”[6]
Buku yang berjudul negara sebenarnya oleh Benni E. Matindas adalah upaya untuk mencari alternative bahkan ingin mengembalikan hakikat negara. Yang harusnya dapat menjamin kebutuhan dan keamanan dan bukan seperti apa yang terjadi selama ini demi sebuah ideologi aparat pemerintah membunuh masyarakat yang tidak menyetujuinya; demi ideologi terjadi perang saudara padahal semua menginginkan kesejahteraan. Kita harus mampu menepis egoisme-egoisme berpikir kita untuk mewujudkan gerakan social yang menjunjung tingga azas kebersamaan dan menjamin hak-hak kita.
Saya mengenal dr. Bert. A. Supit baru beberapa bulan dan tidak sama dengan orang-orang yang lain yang sudah dua tiga tahun bahkan sudah belasan tahun. Tetapi saya sangat mengerti jalan pikiran anda dan kendala-kendala dalam gerakan yang menghalanginya. Saya berterima kasih telah menularkan semangat ke-Minahasa-an melalui pribadi, pemikiran dan buku-buku yang telah anda berikan pada saya. Saya akan terus membawa ide-ide ke-Minahasa-an dalam perjuangan hidup  dan semoga cita-cita tentang Minahasa yang berdaulat sebagai bangsa akan terwujud; cepat atau lambat namun pasti. Anda mungkin tidak akan melihatnya begitu pun dengan saya tetapi harapan kita pasti akan mewujud karena kita telah meletakkan dasar-dasar harapan itu untuk diperjuangkan generasi selanjutnya. Hidup itu singkat (vita brevis).
Mengakhiri surat ini saya ingin mengutip beberapa kalimat dari roman Bintang Minahasa karya H. M. Taulu:
“…janganlah kita menaruh benci lagi kepada bangsa yang senenek moyang dengan kita! Seboleh-bolehnya kita harus bekerja bersama-sama akan membersihkan tanah air kita daripada musuh. Jangan mengatakan ia orang Tonseak, ia orang Tolour, ia orang Tombulu, ia orang Tontemboan, melainkan mulai saat ini kita harus pandang, bahwa kita semua bersaudara, kita bangsa “Minaesa”, artinya : bangsa yang telah menjadi satu.”


Tondano, 18 Desember 2013




Iswadi Sual
(…dari atas bukit Tampusu dalam masa penantian Mesias -Sang penyelamat- di tanah Minahasa)


[1] Sebelumnya disebut Malesung.
[2] Dipetik dari buku Minahasa. Dari amanat Watu Pinawetengan sampai gelora Minawanua karya Bert Supit. Jakarta. Sinar Harapan. 1986.
[3] Sejarah Minahasa. Disitir dari buku Sekilas Sejarah Desa Pontak Dan Perkembangannya oleh M. F. Lumenta 1989 (editing oleh Iswadi Sual: 2011)
[4] Petras & Veltmeyer. Imperialisme abad 21; diterjemahkan dari Globalization unmasked : imperialism in 21st century. London. Zed book Ltd. 2001. Versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Kreasi wacana. Yogyakarta. 2002
[5] Lihat karya Wibowo, I. Negara dan Masyarakat: berkaca dari pengalaman Republik Rakyat Cina. Jakarta. Gramedia. 2000.
[6] Lihat Matindas, Benni E. Negara sebenarnya. Jakarta. Widyaparamita. 2005.