halo aci!

halo aci!
Teater Ungu

Sabtu, 27 Oktober 2012

TUMONDEI[1] SEJARAH


(sebuah kritik)
Tim tari Sanggar Tumondei
                Setelah membaca tulisan Fredi S Wowor[2] berjudul Mencari Jati Diri yang dimuat Harian Media Sulut edisi Rabu 24 Oktober 2012 aku teringat di tahun yang lalu aku dan seorang teman (Junaidi Rawis) juga mendapati buku yang berjudul Asal Usul/Arti Nama-nama Kampung di Tanah Toar Lumimuut[3]. Kami juga bergegas mencari arti dari nama kampung kami masing-masing. “Tondei  ~ diambil dari nama jenis tamate atau tomat yang buahnya berbentuk tondei (lonjong) / tidak bulat (cardiopteris moluccana). Ini merupakan jenis tomat yang dibawa  Spanyol dari Maluku ; Pontak ~ (pentak, lepo, depo = lumpur). Tempat basah berair yang dipilih Spanyol abad – 17 untuk menanam padi sawah. Jenis padinya dari Filipina, karena Minahasa belum mengenal padi sawah. Lisung menumbuk padi periode pendudukan spanyol masih ada di negeri pontak.”  Dalam pikiran kami ada kejanggalan dan ‘rasa tersinggung’ ketika membaca arti dari kedua nama kampung tersebut. Oleh karena sebenarnya kami mengetahui arti nama kampung kami masing-masing dari cerita atau tradisi lisan dari orang tua maupun tua-tua desa.
                Oleh karena peristiwa kami secara tak langsung termotivasi untuk mencari kebenaran dan arti nama kampung kami masing-masing. Sehingga yang menjadi topik pembicaraan dan kegiatan kami selalu berkaitan dengan budaya Minahasa dan desa kami khususnya. Hampir semua orang yang kami temui waktu itu kami mintai keterangan tentang apa yang mereka ketahui mengenai sejarah desa atau tempat-tempat yang berhubungan dengan kebudayaan Minahasa.  Akhirnya setelah melakukan ekspedisi kami menjumpai beberapa tua-tua kampung dan juga mendapat buku-buku tentang sejarah desa.
Sejarah desa Pontak yang dibuat dalam bentuk ukiran gambar
                Dalam buku Sejarah Desa Tondei[4] yang ditulis oleh Ny. A. J. Bujung- Moningka diterangkan bahwa awalnya desa Tondei disebut orang tinondeian yang artinya dicari kembali. Oleh karena di abad – 17 ketika terjadi perang antara Tontemboan dengan Mongondow daerah ini sudah pernah didirikan perkampungan yang bernama mawale dan akhirnya ditinggalkan. Begitu juga dengan buku yang disusun oleh Arnold J. Masinambow yang berjudul Apo’ Masinambow dan Keturunannya[5] yang sedikit menyentil tentang arti nama Pontak; pontak berasal dari kata ‘’ PONTAR ’’ ASE KAYU ‘‘ NIETAKAN ‘’ TINAMI I APO MASINAMBOW ‘‘ NIONTAKAN ‘’ diangkat/digabung menjadi satu kata yang asalnya dari kata-kata : PINONTAR –ETAK – ONTAK menjadi ‘’PINONTAKAN’’ lalu menjadi ‘’PONTAK’’ artinya ‘’TANDA’’.
                Dalam buku yang ditulis oleh Jessy Wenas dan Djery Warokka juga dijabarkan arti nama kampung Picuan, Wuwuk, dan Poigar. “Picuan ~ jerat penangkap tikus di hutan berupa tali dan kayu pegas (woran),  di letakkan di jalur tempat tikus hutan mondar-mandir… Wuwuk ~ (wu’uk = rambut) negeri ini diambil dari pohon cemara rambut (canarium casuarina)  yang daunnya seperti bulu burung kasuari… Poigar ~ (poikan, pocan = tuturuga, penyu)…” Karena rasa penasaran aku juga sempat menanyakan dan mendapat sedikit informasi mengenai arti nama-nama kampung ini. Menurut keterangan warga  sendiri Picuan asal katanya dari pinekuan yang artinya da patah akang atau ditandai. Wuwuk (wuwukeng) atau fufu artinya pengasapan. Semasa terjadi perang dengan Mongondow desa Wuwuk adalah tempat pertahanan. Para apo melakukan kegiatan mengasa pengetahuan (wentel) untuk menghalau orang Mongondow yang telah sampai di Pinamorongan[6]. Poigar berasal dari kata poyar yang artinya pagar atau batas[7]. Poigar adalah wilayah perbatasan dengan Mongondow makanya ada Poigar Minahasa dan Poigar Mongondow.
Iswan Sual dan batu lisung di Raanan Baru
                Dalam hal ini tidak diketahui pendekatan apa yang digunakan oleh J. Wenas & Dj. Warokka dalam menjabarkan pengertian nama-nama kampung tersebut. Tetapi arti nama-nama kampung yang sudah saya jelaskan di atas tampaknya lebih ke pendekatan etimologi[8]. Etimologi adalah penyelidikan mengenai asal usul kata serta perubahan dalam bentuk dan makna[9]. Memang dalam nama-nama kampung yang ada di Minahasa bisa diartikan secara denotatif tetapi tidak seharusnya digeneralisir untuk nama-nama kampung lainnya. Saya juga pernah terlibat diskusi dengan Arie Tulus[10] dan saya menyampaikan keberatan saya tentang arti nama Tondei yang dimuat dalam buku Asal Usul/Arti Nama-nama Kampung di Tanah Toar Lumimuut dan saya menjelaskan arti sebenarnya menurut versi orang Tondei sendiri. Arie Tulus mengatakan pada saya waktu itu bahwa saya harus menolerir penulisan buku itu karena maklum penulisnya berasal dari Tombulu sehingga ditulis berdasarkan versi Tombulu.
                Diskursus ilmiah sebenarnya tidak mengenal toleransi oleh karena ilmu pengetahuan selalu diupayakan agar bebas nilai. Ilmu pengetahuan selalu dialektis dan harus dibebaskan dari persoalan sentimen status sosial. Saya pikir usaha yang harus kita lakukan adalah rekoleksi dan rekonstruksi sejarah dan kebudayaan Minahasa. Bahkan pun kita perlu dekonstruksi agar kita tidak terjebak pada chauvinisme. Upaya yang sudah dilakukan oleh para pendahulu dalam dalam menulis dan mempertahankan budaya Minahasa patut diapresisasi tetapi kemudian kita tidak seharusnya mengesampingkan kaidah ilmiah.
                Saya berharap jika suatu waktu tulisan tentang sejarah dan kebudayaan Minahasa dimasukkan dalam pendidikan formal negara pada saat itu proses rekoleksi, rekonstruksi, dan dekonstruksi  telah berjalan sebagaimana mestinya. Agar informasi tentang jati diri kita sangat akurat dan objektif sehingga tidak ada pembohongan sejarah yang diwariskan untuk generasi selanjutnya. Sebab pembohongan sejarah adalah keji dan sangat tidak berperikemanusiaan.


[1] Tumondei dalam bahasa tontemboan artinya mencari kembali.
[2] Sastrawan dan dosen di Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi.
[3] Jessy Wenas & Djerry Warokka. Asal usul/arti Nama-nama Kampung di Tanah Toar lumimuut. Jakarta. Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. 2010.
[4] Ny. A. J. Bujung-Moningka. Sejarah Desa Tondei, Keadaan Sampai Tahun 1989. Ditulis kembali oleh Cyrtje A. C. Bujung dan diterbitkan oleh KSMT dan STMS pada tahun 2012.
[5] Arnold J. Masinambow. Apo’ Lukas Masinambow dan Keturunannya. Jakarta. PT Dahan Elok. 1987.
[6] Pinamorongan berasal dari kata porong. Porong adalah topi yang digunakan oleh orang-orang Mongondow waktu itu.
[7] Informasi ini diperoleh dari Dilan Rumajar mahasiswa asal Poigar Minahasa.
[8] Menurut saya ada kontradiksi antara judul buku dan penjabaran menganai nama-nama kampung yang sudah saya jelaskan. Judul buku dimulai dengan kata ‘asal usul’ jadi seharusnya ada penelitiannya harus bersentuhan langsung dengan masyarakat yang mendiami kampung tersebut dan tidak hanya menjabarkan secara denotatif.
[9] Harimurti Kridalaksana. Kamus Linguistik. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama. 1993
[10] Dosen di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado.

Minggu, 21 Oktober 2012

PERAYAAN HUT DESA TONDEI RAYA KE – 99 DEKLARASI SANGGAR TUMONDEI MINAHASA SELATAN DAN LAUNCHING BUKU SEJARAH TONDEI DAN KARYA SASTRA

Rua waraney

Sebuah laporan kegiatan
                20 0ktober 2012 adalah hari bersejarah bagi desa Tondei di mana diselenggarakannya sebuah event yang menampilkan Budaya Minahasa. Dalam acara ini ditampilkan Tarian Perang (Kabasaran) baik versi anak-anak dan versi dewasa, Tarian Maengket, Tarian Patokaan, dan Tradisi Mapalus Marantong. Kegiatan yang dikepalai oleh Iswan Sual, S.s ini disambut dengan antusias oleh masyarakat  desa Tondei dengan jumlah massa yang memadati Balai Pertemuan Umum Desa Tondei. Kegiatan yang juga didukung oleh Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Sanggar Seni Toar Lumimuut, Teater Ungu, dan Kerukunan Siswa Mahasiswa (KSMT) dihadiri oleh Masyarakat Adat Tontemboan, Mawale Mouvement, Tonaas Rinto Tarore dan Tim Tari dusun jauh Pelita.
dari kiri : hukum tua Tondei Dua (Frangky Sual), hukum tua Tondei (John Kawengian), camat Motoling Barat (Drs. Alex Rindorindo), dan hukum tua Tondei Satu (Johnny Sumanti)
                Menurut saya kegiatan ini memiliki nilai mistis dalam konteks budaya Minahasa. Oleh karena angka 9 sangat berkaitan erat dengan budaya Minahasa dalam upacara adat tumani. Sehingga dalam kegiatan ini dibuat sebagai acara yang berkarakteristik budaya Minahasa an sic. Kegiatan yang juga dirangkaikan dengan Deklarasi Sanggar Tumondei Minahasa Selatan dan Peluncuran Buku Sejarah Desa Tondei ini mendapat sambutan baik dari camat Motoling Barat Drs. Alex Rindorindo, “Saya bangga karena mahasiswa Tondei menggelar acara seperti ini. Di kecamatan baru Desa Tondei yang mengelar acara yang berbau budaya apalagi mengangkat budaya desa yang sampai hari ini telah digerogoti oleh globalisasi. Maju terus…”. Youce Pondaag sebagai perwakilan Masyarakat Adat Tontemboan juga menambahkan bahwa kegiatan ini memotivasi para tua-tua dan juga generasi muda untuk sadar dan mempertahankan budaya Minahasa.

                Dalam acara khusus peluncuran buku Sejarah Desa Tondei, Fredi Wowor, S.s menegaskan bahwa pentingnya sebuah tulisan adalah mengingatkan kita tentang suatu masa. Cyrtje A. C Bujung juga mengungkapkan kenapa dia menulis kembali Sejarah Desa Tondei yang telah lama ditulis oleh ibunya. Itu dikarenakan sudah banyak orang Tondei sendiri tidak mengetahui sejarah desa baik para orang tua apalagi generasi muda di Desa Tondei. Tradisi mapalus marantong juga memeriahkan kegiatan ini; tradisi ini sebenarnya disebut mareng i lele yang artinya kembalikan pukulan lidi. Dalam kerja mapalus di Desa Tondei diterapkan hukum cambuk kepada anggota mapalus demi disiplin kerja oleh yang disebut marantong atau ma’dantong dan ma’bali wali. Setelah selesai kerja mereka melakukan aksi saling cambuk di depan orang banyak sebagai pelampiasan rasa marah ataupun dendam karena mendapat cambukan dari marantong atau ma’bali wali sehingga rasa itu akan berakhir di situ saja.

                Perayaan hari ulang tahun desa yang dirangkaikan dengan deklarasi Sanggar Tumondei dan peluncuran buku ini dilaksanakan atas dorongan bahwa kesadaran akan Budaya dan Adat Minahasa yang telah hampir ditinggalkan dan sebagai wujud kepedulian terhadap peninggalan leluhur. “Minahasa dan Desa Tondei khususnya memiliki banyak situs budaya  dan potensi-potensi wisata yang belum diketahui banyak orang. Jadi kami menggelar kegiatan ini untuk mengangkat budaya Minahasa sekaligus mendeklarasikan Sanggar Tumondei Minahasa Selatan yang akan menjadi lokomotif  dan katalis dalam perjuangan kebudayaan Minahasa. Kami juga melihat bahwa generasi muda saat ini cenderung destruktif dan apatis. Jadi sudah waktunya kita mempelopori sebuah gerakan mencari kembali atau tumondei terhadap jati diri bangsa kita. “ tegas Yanli Sengkey yang adalah ketua Sanggar Tumondei Minahasa Selatan.
H. B Sondakh dan Iswadi Sual bersama rua waraney Tondei
                Akhir kegiatan sebelum santap kasih bersama makanan khas Minahasa; dibacakan puisi  motivasi terhadap generasi muda untuk membangun Desa Tondei tercinta oleh H. B Sondakh sebagai tokoh masyarakat.

Selasa, 25 September 2012

SEKILAS TENTANG DESA PICUAN

Sebuah laporan perjalanan
                Agustus 2011, untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di desa Picuan[1]. Memang sebagai orang Minahasa aku mempunyai kerinduan untuk menjelajahi semua perkampungan yang ada di tanah Minahasa. Kebetulan juga pada waktu itu aku sementara menyusun sejarah singkat desa Lalumpe yang notabene adalah lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNIMA gelombang ke 2 tahun 2011. Jadi dengan ajakan Junaidi Rawis[2] maka aku akhirnya bisa ke desa ini.
Junaidi Rawis berpose di depan Batu Budaya Picuan
                Kami disambut oleh keluarga Lendo – Mamusung dengan secangkir teh. Sementara menikmati teh panas ini aku terlibat pembicaraan tentang sejarah desa ini dengan opa Lendo[3]. Diceritakan bahwa desa picuan didirikan dengan upacara adat (tumani)[4] oleh Rumondor dan Tompodung. Picuan asal katanya adalah pinekuan[5] yang berarti tanda atau batas[6]. Tanda atau batas ini untuk memisahkan antara Picuan dan Wanga. Dalam upacara ini pula ada semacam mantera yang diucapkan agar supaya setiap orang yang datang ke desa ini sangat menyesal bila akan meninggalkannya. Orang akan merasa susah untuk beranjak dari desa ini. Makanya di gapura masuk desa tertulis ‘Elur ma te up’. Desa Picuan Baru dan Powalutan katanya juga didirikan dengan upacara adat oleh orang Picuan.
Batu Budaya
                Tempat upacara tumani biasanya diberi tanda dengan bebatuan. Sampai hari ini masyarakat sekitar masih menghargai peninggalan leluhur mereka dan kadang mereka melakukan ibadah (tradisi Kristen) di batu ini. Tempat upacara tumani ini oleh warga desa sering disebut Batu Budaya atau Batu dasar desa. Ini mungkin karena kurangnya wawasan sejarah dari orang-orang kampung atau juga pengaruh agama modern  sehingga tidak mengetahui sejarah desa mereka sendiri. Tetapi yang terpenting masih ada kesadaran warga desa untuk menjaga situs budaya itu.


[1] Untuk sebagaian besar orang menyebut desa ini Picuan Lama oleh karena ada juga desa yang bernama Picuan Baru.
[2] koordinator lapangan di lokasi KKN
[3] Nicolas (nico) Marten Lendo.
[4]Biasanya upacara tumani menggunakan patahan lidi yang di masukan dalam kendi atau kure’ dan di kuburkan di tanah. Tetapi menurut keterangan opa Lendo upacara tumani di desa ini menggunakan bayi (orok) yang tak bernapas ketika lahir dan ayam berbulu putih.
[5] Sebagian  nama kampung di tanah Minahasa terjadi perubahan bentuk dan pelafalan (alomorf dan alofon). Contoh seperti Tondei dari tinondeian, Pontak dari pinontaran, Raanan dari raang, dll.
[6] Menurut keterangan Marto Kumakau (meweteng) pinekuan artinya dalam bahasa melayu manado da patah akang tuis.