halo aci!

halo aci!
Teater Ungu

Selasa, 27 Agustus 2013

TOU MINAHASA DAN LANDASAN BERPIKIRNYA



FILSAFAT MINAHASA[1]
(sebuah sumbangan untuk rekonstruksi kebudayaan)
        I.            MASALAH JUDUL
Filsafat[2] adalah istilah yang akan memunculkan gambaran mental, bagi orang yang telah mengenalnya, pada pemikiran Yunani dan Eropa. Sejumlah tokoh dengan deret nama-nama seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Descartes, Kant, Hegel akan menjadi rujukan dalam benak kita. Oleh karena kata filsafat itu sendiri diadopsi bukan milik kebudayaan kita. Filsafat identic dengan Yunani dan Eropa karena perkembangannya di dua wilayah itu. Filsafat kontemporer telah direduksi sehingga filsafat hanya berbicara soal metafisika dan dalam pengertian umum filsafat adalah tentang sesuatu yang bermakna lebih dalam. Filsafat menjadi sesuatu yang berkaitan dengan interpretasi terhadap suatu hal yang dapat dijabarkan lebih luas. Lalu, bagaimana dengan ‘Filsafat Minahasa’? Minahasa adalah etnis yang terletak jauh dari wilayah di mana filsafat tumbuh subur. Dalam konteks pengertian filsafat yang bisa kita terjemahakan sebagai usaha (yang didorong oleh keinginan) untuk mencari tahu segala sesuatu sampai ke akar (radikal), logis, dan sistemis apakah hal itu bisa ditemukan dalam masyarakat (Tou) Minahasa di masa lalu merupakan hal yang masih harus dicari dan diperdebatkan.
Tetapi dalam wacana secara umum ada perbedaan signifikan antara filsafat timur dan filsafat barat. Ciri filsafat barat adalah temanya yang makrokosmos sementara filsafat timur mikrokosmos. Kita bisa melihat bahwa filsafat  yang muncul di barat memiliki empat elemen pembentuk kosmos yaitu api (fire), air (water), udara (air), dan  tanah (earth) sementara di timur ada air, kayu, api, tanah, dan logam. Wilayah dan keadaan alam adalah faktor mempengaruhi cara berpikir manusia dan itulah yang membedakan antara filsafat timur dan barat. Misalnya dalam kepercayaan masyarakat politeisme itu disebabkan oleh factor lingkungan yang memaksa mereka untuk mengidentifikasi kekuatan supranatural dalam berbagai wujud seperti pohon besar, gunung, petir, laut, langit, hujan, dan sebagainya.
Tampaknya wilayah Filsafat Minahasa yang akan kita bahas akan dipersempit ke wilayah timur. Dalam perspektif umum masyrakat di wilayah timur dunia memiliki kesamaan dalam kebudayaannya. Kemudian kita tidak akan mempermasalahkan lagi tentang istilah ‘filsafat’ tetapi kita akan menyepakati bahwa istilah itu akan dimaknai dari perspektif kita sendiri. Setidaknya, terlepas dari identifikasi filsafat sebagai logika barat dengan metodenya. Mari kita melihat filsafat dari perspektif bahwa hal itu adalah tentang paradigma yang membangun etos masyarakat dalam mempertahankan dirinya. Sebuah cara pandang yang terus direkonstruksi sehingga membuat masyarakat dapat hidup dengan kekhasannya.
      II.            FILSAFAT MINAHASA
Minahasa adalah kumpulan etnik yang memiliki kebudayaan yang sama tetapi istilah minahasa sebenarnya muncul kemudian. Sebelum Minahasa dikenal istilah Malesung yang terdiri dari tiga subetnis besar yaitu Tontemboan, Tolour, Tombulu. Orang Belanda menggunakan istilah bergboeren kepada masyarakat ini karena wilayah hidupnya di pegunungan dan bertani. Istilah minahasa muncul karena kebiasaan masyarakatnya yang selalu melakukan musyawarah untuk menentukan sesuatu. Misalnya untuk membuat perjanjian dengan Belanda atau menghadapi serangan dari musuh. Keunikan masyarkat ini adalah sistem pemerintahannya hanya berakhir pada ukung/tonaas yang memerintah sebuah walak (wilayah) atau roong/wanua (kampung). Setiap walak/roong akan diwakili oleh para ukung/tonaas untuk melakukan musyawarah karena tidak ada pemerintah di atas walak/roong. Para pemimpinnya pun diangkat berdasarkan tiga syarat yaitu ngaasan, niatean, dan mawai. Masyarakatnya tidak tunduk secara buta kepada pemimpinannya tetapi mereka mendelegasikan diri mereka pada seseorang yang dianggap mampu melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan bersama.
Tou Minahasa adalah masyarakat komunal yang melahirkan sebuah pandangan bagi etniknya karena keterdesakan dalam lingkungannya baik faktor alam sekitar maupun ancaman serangan dari masyarakat luar. Etos Tou Minahasa dideklarasikan dalam Nuwu in tua yang berisi: “…Sapakem si kayo’ba’an anio, tana’ ta im baya! Asi endo makasa, sa me’em si ma’api, wetengan e pa’tuusan, wetengan eng kayo’ba’an! Tumani e kumeter, mapar e waraney, akad se tu’us, tumou on tumou tou!...” (secara bebas diterjemahkan, “…Dengan ini kami nyatakan, dunia in adalah tanah air kita semua! Bila pada suatu saat, burung telah memberi tanda yang pasti, bagilah tanah ini hai kamu pemuka masyarakat pemberi contoh! Bukalah wilayah pertanian baru, hai kamu pemimpin pekerjaan! Kuasailah wilayah, hai prajurit perkasa, agar keturunan kita dapat hidup dan memberi hidup!”…)[3] Masyarakat ini menyadari bahwa kebersamaan adalah cara hidup yang paling baik untuk mempertahankan kehidupan etniknya. Kesadaran akan kebersamaan memimpin masyarakat ini untuk terus maju walaupun tanpa penaklukan sistem pemerintahan seperti dalam masyarakat kerajaan.
Ada ungkapan yang masih terkenal hingga saat ini di kalangan masyarakat Minahasa yaitu Si tou timou tumou tou (seorang manusia menjadi manusia dalam perannya menghidupkan orang lain). Ruh komunal dalam ungkapan itu pada nuwu in tua.  Ciri komunalitas dalam masyarakat ini juga kita temukan dalam tradisi mapalus di mana masyarakat bekerja bersama demi kepentingan bersama. Dalam beberapa ungkapan berikut digambarkan betapa solidaritas masyarakt Minahasa begitu kuat.
maesa esaan (saling bersatu seia sekata)
maleo leosan (
saling mengasihi dan menyayangi)
magenang genangan (
saling mengingatkan)
malinga lingaan (
saling mendengar)
masawang sawangan (
saling menolong)
matombo tomboloan (
saling menopang)
Banyak ungkapan atau peribahasa dalam masyarakat Minahasa yang berdasar pada kesadaran kolektif. Misalnya dalam pekerjaan membangun rumah ada ungkapan sumiwi wale weru ma sule silengan (membangun rumah baru harus saling topang menopang). Selanjutnya ada ungkapan paesaan rorak, porak, tio-tionan ung kanaramen (pekerjaan berat bila dikerjakan bersama-sama akan ringan, dan lakukanlah sebagaimana mestinya) dan esa ate u mawangun banua (satu hati membangun desa). Tou Minahasa berpikir dalam perspektif kolektif tetapi bukan berarti taka da prinsip individual. Individualitas bagi Tou Minahasa adalah membangun diri sendiri menjadi baik, terampil, intelek dan untuk diabdikan pada kebersamaan masyarakatnya. Masyarakat ini telah mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang tak dapat hidup sendiri. Jadi senantiasa manusia harus hidup bersama, bekerja bersama untuk kepentingan bersama.
Masyarakat Minahasa juga sangat disiplin dalam hal kerja sebagaimana dalam prinsip-prinsip mapalus. Ketika melakukan kerja bersama-sama setiap orang yang terlambat, bermalas-malasan, atau memaki akan mendapat sanksi dari marantong (pimpinan mapalus) yang telah dipilih. Marantong akan memberi cambukan bagi mereka yang melanggar prinsip-prinsip mapalus. Dalam hal memberi sanksi pimpinan mapalus juga harus adil dan tidak terbawa emosi atau sentiment tertentu. Kalau tidak maka anggota mapalus semuanya akan memberi sanksi berupa cambukan. Kejujuran juga adalah hal yang penting dalam masyarakat Minahasa di mana jika pemimpinnya tidak jujur maka masyarakat pasti tidak akan mendengar perintahnya. Hal ini kita bisa temukan dalam sejarah ketika para tonaas/Ukung berkolusi dengan orang Belanda maka masyarakat tidak akan menjalankan kesepakatan yang telah dibuat itu.
Tradisi berpikir Minahasa secara esensial didasarkan pada prinsip komunalisme di mana individu hidup menempa diri dan untuk mengabdi pada kebersamaan masyarakat. Ini adalah kesadaran yang dibangun berdasarkan keadaan objektif kehidupan di mana masyarakat harus bersatu untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Etos kerja masayarakat Minahasa berdasar pada prinsip komunal dan telah disadari sepenuhnya bahwa kebersamaan bukan hanya dalam arti bersama-sama. Masyarakat Minahasa telah mengenal sistem pembagian tugas untuk mewujudkan cita-citanya. sa cita esa, telu cita - sa cita telu, esa cita (Kita bersatu, karena kita bertiga – Kita bertiga, karena kita bersatu). Dari ungkapan tadi kita bisa melihat bahwa ketika bersatu harus dipahami bahwa kita bertiga artinya taka da penyeragaman kehendak tetapi juga harus ada pembagian fungsi; jika kita ada tiga maka kita harus bersatu untuk mewujudkan cita-cita kita karena jika kita tercerai berai maka akan mudah dihancurkan.
    III.            KONTEKS MASYARAKAT KONTEMPORER
Hari ini kita akan bertanya apakah nilai-nilai filosofis yang telah dirumuskan oleh para leluhur kita dan telah menjadi etos masyarakat Minahasa masih tetap dipertahankan atau hari ini hanya sekedar slogan hafalan. Apakah si tou timou tumou tou benar-benar menjadi landasan berpikir dan berperilaku masyarakat Minahasa kontemporer atau hanya tulisan yang dipajang tanpa makna; atau justru telah disalahpahami?
Setelah Tou Minahasa bersentuhan dengan nasionalisme Indonesia dan globalisasi maka terjadi dekadensi dan degradasi. Struktur masyrakat berubah serta pola berpikir dan gaya hidupnya ikut berubah pula. Di mulai dari kompromi dengan kekristenan, demokrasi pancasila, dan rasionalitas barat. Kemungkinan besar nilai-nilai yang telah diformulasikan oleh leluhur Minahasa tidak lagi mewujud secara holistik. Masyarakat pedesaan yang paling huk pun telah tercemar dalam pengertian tidak murni dengan kebudayaannya. Bahkan yang lebih para adalah terjadi amnesia kolektif dalam masyarakat itu sendiri. Ada beberapa generasi yang tidak lagi mengetahui jati diri etniknya.
Arah dari pendidikan kontemporer memang mengabdi pada system global sehingga memaksa mengeleminir kearifan local sampai ke nilai-nilainya. Kebudayaan lokal dalam posisi kontemporer telah digeser ke posisi yang kurang penting. Kebudayaan Minahasa mengalami nasib yang demikian dan hampir tak tertolong. Lalu, siapakah yang bersalah? se tua mahali, se oki makiit (orang tua membawa anak mengikuti). Sebenarnya ini bukanlah usaha untuk melempar kesalahan tetapi ada ungkapan masyarakat Minahasa yang seharusnya dijadikan tumpuan untuk mempertahankan eksistensinya.
Tou Minahasa sesuai dengan agenda-agenda globalisasi telah menjadi masyarakat konsumeris. Mungkin ini jauh dari harapan seorang tokoh yang sampai saat ini masih dikenal yaitu Sam Ratulangie. Dia adalah seorang intelektual yang barasal dari Minahasa, walaupun mendapat pendidikan di barat, yang memiliki visi mengangkat kembali Bangsa Minahasa. Mengembalikan semangat yang telah diformulasikan oleh leluhur atau berangkat dari kejayaan masa lalu untuk menciptakan generasi Minahasa yang baru dan lebih produktif.
Nilai-nilai kebudayaan Minahasa telah terpecah-pecah sehingga hari ini juga muncul gerakan-gerakan kebudayaan yang berusaha menyatukan nilai-nilai itu dan memodifikasinya. Mengangkat kembali citra baru dengan sedikit bayangan akan keaslian budayanya. Sentiment kebudayaan hari ini bangkit kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda dari perjuangan-perjuangan fasis. Ini dipengaruhi oleh pola ilmu pengetahuan yang berkembang di mana rasionalitas barat berada pada titik kejenuhan (juga dipengaruhi oleh penemuan teknologi dan eksperimen dalam bidang fisika, biologi, dan kimia) dan ingin mengangkat kembali tema kebudayaan. Atau juga pola perkembangan masyarakat yang pada akhirnya akan kembali pada sesuatu yang lama. Kearifan local dahulu ditinggalkan tetapi akhirnya digali kembali karena dalam perkembangan ilmu pengetahuan ternyata memiliki kebenaran universal. Fritjof Capra dalam bukunya yang berjudul Titik Balik Peradaban menggambarkan bagaimana kebudayaan kuno bangkit kembali sebagai sebuah solusi akan kerusakan hari ini. Filsafat Tao dengan prinsip yin dan yang yang mengutamakan keseimbangan dapat menjadi solusi sebagai kajian holistic dalam melihat persoalan social, ekonomi, dan lingkungan.
Kita hari ini harus menggali kembali nilai-nilai budaya kita untuk melihat kebenaran-kebenaran di dalamnya. Mungkin masalah-masalah yang kita hadapi sekarang ini disebabkan oleh tidak diterapkannya prinsip-prinsip kuno masyarakat kita dewasa ini.

                                                                                                           



[1] Tulisan ini adalah sebuah sketsa (outline) tentang Filsafat Minahasa yang disampaikan di Pendidikan Dasar X S. S. Toar-Lumimuut FBS Unima pada Selasa, 27 Agustus 2013.
[2] Secara etimologis filsafat berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu philos  yang berarti cinta dan Sophia yang berarti kebenaran. Filsafat dipersempit dalam wilayah metafisika yang kemudian hanya berkaitan dengan tiga hal yaitu makna, kebenaran, dan hubungan logis.
[3] Minahasa. Dari amanat Watu Pinawetengan sampai gelora Minawanua karya Bert Supit. Jakarta. Sinar Harapan. 1986.