halo aci!

halo aci!
Teater Ungu

Kamis, 04 April 2013

WATU LUTAU



(Sebuah renungan Paskah)
Dalam tradisi Israel, Paskah adalah hari peringatan terhadap terbebasnya masyarakat Israel dari perbudakan Mesir. Tetapi dalam tradisi Kristen, Paskah adalah hari peringatan terhadap hari kematian Yesus di kayu salib - karena memang bertepatan dengan tradisi paskah Israel yang juga disebut sebagai hari raya roti tak beragi. Dalam bahasa teologis disebut sebagai hari penebusan dosa bagi umat manusia dan tidak mengurangi kadar teologisnya juga ditambahkan bahwa setelah kematiannya Yesus bangkit pada hari ketiga dan naik ke surga. Dalam konteks sosio-historis sebenarnya ada yang menarik dalam tradisi Israel memperingati paskah dikaitkan dengan keminahasaan hari ini.
Ketika Israel diperbudak oleh Mesir selama empat ratus tiga puluh tahun kemungkinan terjadi degradasi kultural. Bangsa Israel yang sebelumnya hidup bebas dan senang di tanah Mesir karena leluhur mereka Yusuf anak Yakub akhirnya menjadi bangsa yang hina. Tetapi setidaknya mereka telah merasakan sedikit kesejahteraan bangsa Mesir di bawah pemerintahan firaun. Mungkin dengan begitu mereka melupakan sebagian adat mereka dan berbaur dengan tradisi paganisme Mesir. Dalam keadaan senang manusia cenderung melupakan nilai-nilai kehidupan itu sendiri. Tetapi dalam keadaan sengsara manusia cenderung akan mencari nilai-nilai lama yang telah mereka tinggalkan. Bangsa Israel berseru dalam kesengsaraan mereka kepada tuhan yang mungkin telah mereka lupakan sebelumnya.
Musa yang lahir dalam situasi kesengsaraan bangsanya datang dan memperkenalkan kembali tuhan yang telah mereka lupakan. Mereka kemudian diingatkan bahwa ada perjanjian antara tuhan dan leluhur mereka Abraham. Musa membangkitkan kembali harga diri bangsa Israel bahwa mereka adalah bangsa yang besar dan telah diberi tanah yang berlimpah susu dan madu yang harus mereka rebut. Musa kemudian merekonstruksi kebudayaan bangsa Israel selama dalam perjalanan mereka menuju tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu.
Pada Minggu, 31 Maret 2013 sekitar pukul 15.00 saya bersama beberapa teman di Tondei mencari watu lutau yang merupakan peninggalan leluhur bangsa Minahasa (ataupun Malesung). Watu lutau adalah sejenis menhir di zaman megalitikum yang dipercaya oleh Tou Tondei selalu mengeluarkan bunyi seperti ledakan besar di setiap pergantian tahun. Secara umum diketahui ada beberapa watu lutau atau juga disebut batu lesung yang ada di Tondei tetapi watu lutau yang satu ini kami temukan dalam keadaan yang rusak parah dan terbenam dalam tanah. Kami berusaha menggali dan membuatnya dalam posisi normal. Kami juga memberi tanda sebagai penghormatan terhadap peninggalan ini dengan tanaman yang dianggap mistis yang disebut kendem atau juga tawaang. Beberapa di antara kami adalah generasi yang lebih parah dalam soal wawasan tentang kebudayaan Minahasa. Mereka lahir dan dibesarkan di tengah lajunya penetrasi budaya asing karena bantuan teknologi modern. Permainan masa kecil mereka pun tersentralisasi dalam layar kaca sehingga meredusir kolektivitas yang ada dalam permainan-permainan tradisional seperti permainan kaliye, lulutau, dll. Tetapi mereka setidaknya ada ketertarikan untuk mencari kembali leluhurnya.

Hari itu sempat terbesit dalam pikiranku pertanyaan apakah bangsa Minahasa juga mengalami apa yang bangsa Israel alami dahulu. Pencarian kembali akan nilai-nilai yang telah lama ditinggalkan oleh Tou Minahasa. Setelah Minahasa dihegemoni oleh tradisi diluar kebudayaannya dimulai dari penetrasi bangsa eropa sampai saat ini. Dalam catatan sejarah bangsa Indonesia dijajah kurang lebih tiga ratus tahun kemudian ‘bangsa Indonesia’ pun menjadi penjajah atas bangsa-bangsa di dalamnya termasuk bangsa Minahasa. Jadi ada waktu yang sangat panjang yang menggerogoti keminahasaan sehingga generasi sekarang hanya melihat puing-puing keminahasaan dalam catatan sejarah dan penuturan-penuturan yang bercampur dengan teologi Kristen. Ada banyak hal yang disembunyikan supaya tidak diketahui dan dipraktikkan kembali karena bertentangan dengan tuhan modern kita.
Mustafa Kemal Ataturk melakukan revolusi budaya terhadap bangsa Turki yang telah lama dihegemoni oleh kebudayaan Arab. Layaknya seorang Musa, ia mampu merekonstruksi kebudayaan Turki di bawah pemerintahannya. Semua itu didasarkan pada kenyataan bahwa bangsa mereka telah menjadi inferior untuk waktu yang lama. Israel dan Turki mampu mengembalikan kebudayaan asli mereka dan menata masa depan berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri. Tetapi lain halnya dengan Indonesia ketika terlepas dari penjajahan malah menjadi penjajah. Dapat dikata bahwa perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah adalah kecemburuan akan nikmatnya menjajah. Bangsa Indonesia mengangkat dirinya sebagai elite atas bangsa-bangsa di dalamnya. Memang ada banyak hal yang dianulir setelah kemerdekaan. Konsep nation and character building Soekarno dianggap remeh oleh para elite politik di zaman itu bahkan di zaman sekarang. Soekarno ingin mengadakan penegasan terhadap nilai-nilai kultural bangsa Indonesia dalam Pancasila (dalam pengertian ideologi dinamis). Tetapi kegagalan membangun pribadi bangsa – oleh karena Indonesia terbagi dalam bangsa-bangsa – akhirnya menciptakan bangsa yang bangsat! Soekarno adalah ‘nabi’ yang gagal dari deretan nabi-nabi yang ada karena dia mengulang kesalahan nabi-nabi sebelumnya. Yesus memahami bahwa wanita penyebab kejatuhan nabi-nabi sebelumnya dan memilih untuk tidak menikah. Tetapi Muhammad beranjak dari hal itu adalah nabi yang melakukan sintesis dengan menjadikan wanita sebagai pendamping, penyokong, dan pendukung misi keilahiannya.
Pertanyaan dalam pikiran saya selanjutnya adalah apakah salah jika sebuah bangsa mencari kembali tuhan aslinya. Mirip dengan apa yang dilakukan oleh bangsa Israel yang mencari kembali tuhan mereka dalam kondisi inferior. Atau seperti Ataturk yang merasa bangsanya diperolok oleh budaya bangsa asing yang menentukan cara mereka makan dan berpakaian. Jika tuhan modern kita tidak bisa lagi memberi pertolongan kepada umatnya serta para gembala mengeksploitasi domba-dombanya apakah sedikitnya itu tak memancing nalar manusia untuk mempertanyakan eksistensinya. Mujizat tidak lagi hadir di tengah-tengah orang percaya tetapi selalu hadir di tengah-tengah orang berduit. Kepercayaan yang kuat selalu dilandasi dengan peristiwa epifani ataupun mujizat. Tetapi jika hari ini kita tidak menemukannya lagi apakah kita tetap menyembah tuhan palsu yang selalu disogok oleh kaum berduit. Mungkin saatnya kita mencari tuhan kita yang asli, tuhan yang benar-benar membebaskan umatnya dari ketertindasan dan membawa juga umatnya pada kesejahteraan seperti peristiwa exodus dan ditemukannya tanah yang berlimpah susu dan madu oleh bangsa Israel.

Elia berhasil membuktikan bahwa tuhannya benar-benar eksis di hadapan para penyembah baal. Peristiwa itu memberi landasan yang kuat bagi orang untuk mempercayai tuhan yang benar-benar ada. Musa membelah lautan dengan tongkat dan memberi makan bangsa Israel dengan manna yang jatuh dari langit. Daud  yang bertubuh kecil dan lemah mampu mengalahkan Goliat orang yang jauh lebih besar dan kuat daripadanya. Salomo mampu memecahkan perkara-perkara yang rumit di tengah bangsanya. Yesus mampu merubah air menjadi anggur, berjalan di atas air, mengusir setan, membangkitkan orang mati, dan memberi makan ribuan orang. Semua itu adalah preseden bahwa tuhan mereka benar-benar eksis dan mengintervensi kehidupan manusia. Tetapi sekarang tuhan kita tak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan umatnya dieksploitasi oleh mereka yang mengaku utusannya. Penindasan, pembunuhan masal, ketidakadilan, dan kelaparan terjadi hampir di seluruh negeri ini. Apakah mungkin kita sementara menyembah tuhan yang salah? Dan haruskah kita mencari tuhan yang sebenarnya?
Kami meninggalkan watu lutau itu dan berharap pemilik tanah akan menyadari dan menghormati peninggalan leluhur ketika melihat benda itu telah digali dan diatur sebagaimana posisi yang sebenarnya. Walaupun kondisinya sudah sangat parah karena sebagian sisinya hancur tetapi setidaknya apa yang tertinggal ini menjadi tanda bahwa kita mempunyai leluhur yang benar-benar ada bukan hanya leluhur yang bersemayam dalam tuturan atau tulisan. Saya berpikir kepedulian tou minahasa hari ini terhadap budaya dengan upaya penggalian dan pemaknaan nilai-nilai berajak dari kesadaran akan keterpurukan bangsa ini. Kesadaran akan infererioritas menjadi pemicu untuk mengangkat diri dari ketertindasan. Atau juga gerakan keminahasaan hari ini hanya euphoria intelektual atau semacam megalomania karena baru bersentuhan dengan konsep-konsep pencerahan dari eropa.